Kisah Tentang Himawari

25 Apr 2015    View : 2773    By : Amidah Budi Utami


Saat itu aku masih berusia 7 tahun. Kami adalah keluarga kecil yang sederhana dan bahagia. Kami tinggal di daerah pegunungan. Ayahku seorang petani sayur-sayuran, sedang ibuku adalah ibu rumah tangga. Saat itu di bulan Desember, kami kedatangan tetangga baru, mereka pindah dari kota. Mereka adalah seorang ayah yang berprofesi sebagai dokter, seorang ibu, dan seorang gadis seumuranku bernama Himawari.

Sejak pertama kenal, kami langsung akrab. Kami akhirnya belajar di sekolah yang sama. Sepulang sekolah kami sering main di kebun ayahku, mencari belalang, dan bermain rumput. Aku sering memintanya untuk menceritakan tentang kota, tempatnya berasal. Aku selalu tertarik dan selalu terobsesi untuk bisa tinggal di kota. Saat di kelas, Himawari selalu lebih pintar dariku, nilainya lebih bagus. Aku rasa karena sebelumnya dia tinggal di kota.

Suatu hari kami mendapat PR dari ibu guru untuk membuat karangan pendek tentang cita-cita kami. Sepulang sekolah kami sepakat bertemu di kebun untuk mengerjakan PR. Aku mulai mengungkapkan bahwa aku bercita-cita bisa tinggal di kota suatu saat nanti. Hima tertawa terbahak- bahak. Katanya yang aku ungkapkan tadi bukan cita-cita. Itu sekedar keinginan. Dia kemudian menjelaskan arti kata cita-cita, yaitu pekerjaan yang ingin kita lakukan ketika dewasa. Lalu aku bertanya, "Apa cita-citamu Hima?". "Cita-citaku ingin tinggal di sini selamanya, tidak ingin pindah-pindah tempat lagi, kalau pun Papa dipindahtugaskan, aku ingin punya keberanian untuk tetap tinggal di sini," kata Hima. Kemudian aku tertawa, itu namanya bukan cita- cita, itu namanya harapan. Lalu kemudian kami tertawa bersamaan. Kami lupa dengan PR kami, malah asyik bermain di kebun.

bermain di kebun

Kami telah melalui tahun-tahun yang indah hingga suatu hari surat dinas datang ke Papa Hima. Papa Hima harus pindah kerja ke kota lain dan langsung dipromosikan menjadi kepala rumah sakit daerah. Hal itu sangat menggembirakan bagi kedua orangtua Himawari. Tapi tidak demikian bagi Hima. Seharian dia murung tidak mau sekolah dan tidak mau bermain bersamaku. Akhirnya ayahnya menjanjikan untuk mengajak kami ke wahana permainan yang ada di kota. Keesokan harinya aku dan Hima bolos sekolah, kami diajak bermain ke kota. Ini adalah pertama kalinya aku ke kota, artinya cita-citaku terwujud. Saat tiba di kota, Hima sudah lupa dengan kesedihannya. Kami main sepuasnya. Kali ini tidak bersama rumput dan belalang. Kali ini bersama komedi putar, bianglala, serta wahana permainan lainnya. Kami juga tidak lupa membeli arum manis dan balon. Aku merasa ini adalah perpisahan paling menyenangkan sekaligus paling menyedihkan.

bianglala

Sebelum benar-benar pergi, Hima memberiku sepasang hamster yang lucu.  Dia memintaku untuk merawat mereka. Kemudian Hima bertanya padaku, "Apa kamu tau makanan hamster?". Aku hanya menggelengkan kepala. "Makanannya adalah biji bunga matahari, aku harap kamu mau menanam bunga matahari untuk memberi makan hamster ini, dengan begitu kamu akan selalu ingat denganku. Sebelum aku benar-benar pergi aku ingin mengabulkan cita-citamu. Karena itu, aku membuat permintaan pada Papa agar kita bisa bertamasya ke kota walau hanya satu hari. Dengan memintamu untuk menanam bunga matahari di desa ini, itu artinya kamu telah mengabulkan cita-citaku untuk tinggal di sini selamanya." Awalnya aku tidak mengerti maksudnya, baru kemudian aku mengingat sesuatu.

hamster
 
Suatu hari, "Mengapa namamu terdengar aneh, tidak seperti nama anak perempuan pada umumnya?" tanyaku pada Himawari saat kami bermain bersama.

"Terdengar aneh karena memang nama itu berasal dari bahasa asing, lebih tepatnya bahasa Jepang, artinya bunga matahari," Hima menjelaskan.

"Mengapa bunga matahari? Mengapa tidak bunga mawar? Bibirmu merah seperti bunga mawar. Atau bunga melati saja? Kulitmu putih seperti bunga melati," tanyaku beneran ingin tahu.

Hima tertawa melihat aksiku sebelum menjelaskan, "Kata Papa bunga matahari itu menyimbolkan harapan, keceriaan, keberanian, semangat, juga keindahan."

"Mengapa harus pakai bahasa Jepang?", tanyaku lagi. "Ya, lucu aja kalau pakai bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, masa aku dipanggilnya Bunga Matahari atau Sunflower?" jawabnya sambil tertawa lepas.

bunga matahari

Sudah 7 tahun sejak sepasang hamster yang pada akhirnya kami namakan Mickey dan Minnie itu diserahkan kepadaku sebagai kado perpisahan. Mickey dan Minnie sudah beranak-pinak. Halaman rumahku selalu dipenuhi bunga matahari. Setiap pagi aku selalu tersenyum menatap kelopak bunga yang mekar. "Selamat pagi, semoga hari ini indah ya", sapaku pada bunga matahari.

the boy

Sesaat kemudian bayangan wajah Hima muncul dan pertanyaan yang sama selalu aku lontarkan, "Mengapa suratnya sekalipun tidak pernah mampir ke rumahku?" Aku ingin bertemu dengannya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.

 

Cerpen keren Artebia lainnya:




Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Om Telolet Om, Memanfaatkan Isu Viral Untuk Kemaslahatan Umum


Alvi Syahrin - Semua Berawal Dari Mimpi Dan Kemudian Menjadi Nyata


Gara-Gara Indonesia: Satu Peran Tak Langsung Indonesia Untuk Dunia


Maleficent - Dekonstruksi Cinta Sejati dan Dongeng Putri Tidur


Membaluri Luka dengan Cinta dalam Lagu I'm Not The Only One


Kue Cubit Surabaya - Cubit Gigit Legit


Patbingsoo - Yang Gurih-Manis Ala Korea di Surabaya


Pantai Pulau Merah Nan Meriah Di Banyuwangi


Literasi Desember: Literaturia, Budaya Berpikir Kritis, dan Literasi Media (Bag. 2)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Oma Lena - Part 3


Biru, Rindu