Bersama Sebuah Buku dan Sebatang Rokok

01 Nov 2014    View : 2671    By : Niratisaya


Bersamaan dengan tergelincirnya matahari dari pandangan, sunyi beringsut dan menyelip di antara kebersamaan mereka. Seorang wanita yang tengah menikmati minuman ringannya sembari melempar pandangan jauh ke laut yang memerah layaknya darah, serta seorang pria yang mengisap rokok.

Sambil berduaan, duduk mereka di bangku di tepi sebuah pantai.

Satu per satu lampu temaram menyala, diikuti oleh penerangan dari beberapa warung yang ada di sekitar pantai. Sementara itu, para pedagang asongan yang semula berjalan di tepian pantai mulai kembali meninggalkan pantai. Dan sepasang pria serta wanita yang masih duduk diam dengan kesibukan masing-masing, tanpa memedulikan sekitarnya.

“Katakan padaku, apa yang kau pikirkan," kata pria itu sambil kembali menyalakan sebatang rokok kreteknya.

Wanita itu diam. Ia membuang muka. Dihalaunya asap rokok dengan selembar kertas.

“Tidak suka asap rokok?” tanya pria itu.

“Rasanya terlambat untuk itu, kan?” sahut si wanita dengan nada acuh tak acuh dan ekspresi datar. Diayunkannya sebelah kaki untuk ia topangkan di atas kakinya yang lain, lalu ditatapnya langit dan laut yang mulai kelam.

“Kau diam, bosan? Nggak suka?” tanya pria itu lagi.

Kali ini wanita itu hanya menawarkan sunyi sebagai jawaban. Ditinggalkannya pria itu demi sebuah buku yang sejak pertama kali datang ke pantai ini sudah ada di tangannya. Dalam sekejap, buku tersebut membawa imaji wanita itu jauh ke langit malam tanpa berbintang.

“Kau ingin makan? Mungkin ikan bakar? Cumi-cumi saus asam-manis? Atau kepiting?" tanya pria itu, sambil mematikan rokoknya dan menatap salah satu warung seafood tak jauh dari mereka.

Tanpa melepaskan pandangan dari buku, gadis itu bertanya, “Enak?”

“Entah. Tapi sepertinya begitu. Ada banyak pembeli di sana.” Pria itu berdiri dan mengulurkan tangan kepada wanita itu.

“Ada piring dan sendok?” tanya wanita itu. “Percuma kalau ramai tapi aku nggak bisa makan pakai sendok.”

Pria itu kembali duduk. Diambilnya lagi rokok kretek yang ada di saku kanan bajunya.

“Aku nggak mau makan kalau nggak pakai sendok apalagi piring.” Wanita itu berkata seraya membaca buku.

“Terus, buat apa kita ke sini?” tanya pria itu.

“Kamu yang seharusnya memberi aku jawaban. Dan aku yang seharusnya memberikan pertanyaan itu," sahut wanita itu. Diletakkannya buku tersebut di pangkuannya. Tatapan wanita itu lurus, tertuju pada si pria.

“Aku ingin ketemu kamu," kata pria itu, menggenggam bungkus rokok.

“Kita sudah ketemu. Terus?” Wanita itu menatap bungkus rokok yang nyaris lumat di tangan pria itu.

“Aku ingin berduaan,” ujar pria itu.

“Sudah. Mau apa lagi?" wanita itu menegakkan punggung dan memasukkan buku itu ke dalam clutch bag-nya.

“Aku... aku ingin... aku ingin...."

“Sudahlah, aku capek. Aku mau pulang," potong wanita itu sambil beranjak dari duduknya.

“Aku belum selesai." Pria itu ikut bangkit dari duduknya.

“Aku mengerti, aku sudah mengerti maksud kamu. Dan aku nggak mau.”

“Tapi kamu belum dengar semuanya kan?”

“Aku sudah mendengar kata-katamu. Dan itu sudah cukup.”

Mereka berdiri berhadapan. Wanita itu dengan tangan menggenggam erat tasnya dan pria itu dengan sebungkus rokok di tangannya.

“Tolong mengerti aku," kata pria itu. "Aku nggak akan bisa tanpa melakukan itu. Kita nggak akan bisa bersama. Nggak akan ada kita."

Wanita itu diam, sambil menatap ujung sepatunya yang terkena pasir.

“Semua orang selalu melakukannya, kan? Kita bahkan selalu melakukannya. Kenapa sekarang kamu nggak mau?”

“Aku lelah. Jemu dengan semua yang sudah kita lakukan. Berulang-ulang. Tanpa arti." Wanita itu kembali duduk di bangku taman yang sempat dia tinggalkan.

Diletakkan tasnya di bangku dan sekali lagi ia melemparkan pandangan ke warung seafood.

“Kenapa kamu baru ngomong sekarang? Setelah bertahun-tahun?!" Pria itu dengan gusar mengambil sebatang rokok dan melempar bungkusnya di bangku. Dinyalakannya rokok tersebut dan diisapnya dalam-dalam, sebelum ia kembali duduk di bangku dan mengembuskan asap dengan mata terpejam.

“Laki-laki sih enak, tinggal datang, lalu pergi. Plas! Gitu aja, mana pernah perduli dengan perasaan perempuan!”

“Kau juga, mana peduli dengan perasaanku?!” Balas pria itu, tak kalah kencang dari si wanita.

“Aku peduli, kalau nggak, memang buat apa aku datang ke sini?! Buat apa aku mendengar semua omong kosongmu?!”

“Nah, kita sudah terlanjur di sini. Kalau gitu, kita lakukan ya?” pria itu meraih tangan si wanita. "Biar aku tenang."

Untuk beberapa saat wanita itu terdiam. Tatapannya beralih dari clutch bag-nya pada tangannya yang tengah digenggam pria itu. “Boleh," jawab wanita itu, tak acuh. Ia menarik tangannya dari genggaman si pria. Membuat pria itu melebarkan senyum di bibir yang beberapa saat lalu terasa kecut. “Tapi setelah itu nggak perlu datang, telepon, atau SMS.”

Pria itu terdiam. Dia kehilangan kata-kata untuk meminta dan memohon. Yang bisa dia lakukan hanya menatap dan melepas helaan napas, perlahan. Untuk beberapa saat keduanya kembali diliputi sunyi.

“Kamu tahu, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, kan.... Bagaimana kamu bisa... bersikap seperti ini ke aku?” kata pria itu sewaktu ia akhirnya buka mulut.

“Aku... aku juga nggak bisa. Bisa-bisanya... kamu...." Wanita itu berpaling, menyembunyikan wajahnya dalam dekapan kedua tangannya.

“Lihat kan? Kita nggak bisa kalau nggak bersama. Kita saling membutuhkan.... Dengarkan aku, meskipun kita melakukannya, kita nggak akan pisah gitu aja.” Pria itu meraih bahu wanita itu, memutarnya agar mereka berhadapan.

Namun wajah wanita itu masih terbenam di kedua telapaknya.

“Sudah berapa lama kita bersama?” tanya pria itu, tak memedulikan wanita itu yang masih tak menatapnya.

“Bertahun-tahun,” jawab wanita itu, lemah.

Pria itu tersenyum. Kemudian, dengan perlahan ia mengulurkan lengan dan memeluk wanita yang sampai saat itu masih menyembunyikan wajah dengan tangannya.

“Kita lakukan, ya?” bisik pria itu pada wanita yang tengah dipeluknya.

Wanita itu tak bersuara. Lelah bertanya pada putih pasir yang tak mampu menawarkan jawaban padanya, ia dorong pria itu. Ia membuka kedua tangan dan memperlihatkan wajah sendu. Samar, dia coba menarik segaris ekspresi di mulutnya demi membentuk sebuah senyum.

Pria itu membalas, ketika ia mendapati senyuman lembut di bibir wanita itu. Lalu berkata, "Ayo," sembari meraih tangan gadisnya yang tiba-tiba tertahan.

Masih dengan senyum yang kini dihiasi nanar tatapan mata, wanita itu menjawab, “Bagaimana kalau kita makan dulu?”

Seafood?”

“Iya.”

“Tanpa sendok?”

“Nggak apa. Untuk kali ini saja.”

“Baiklah.”

Pria itu membuang rokok dan menginjaknya sebelum mengulurkan tangan. Wanita itu memandang tangan pria itu, yang beberapa saat lalu jemarinya mengapit berbatang-batang rokok, lalu tersenyum. Ia lantas memberi isyarat agar pria tersebut berjalan lebih dulu. Maka berjalanlah si pria mendahului si wanita. Ia melangkah dengan langkah pasti, bak seorang pemandu yang tengah mengarahkan turis.

Malam semakin kelam dan penerangan yang begitu temaram tak banyak memberikan pertolongan pada si pria. Beberapa kali ia tersaruk. Namun senyumannya masih lekat di bibirnya. Ia berkata pada si wanita agar tak mengkhawatirkannya.

“Sebentar lagi kita sampai di warung,” kata pria itu.

Setibanya di depan warung, pria itu berbalik dan mendapati samar sebuah punggung dalam balutan gaun putih yang berjalan berlawanan arah dengannya.

Malam makin larut, sunyi pun hanyut dalam kelam bersama timbul dan tenggelamnya deru ombak, serta temaram lampu yang menyinari sepasang punggung kesepian yang kini saling bertatapan.

 

 

=TAMAT=


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Cerpen Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan


Voici - Duo Multi Talenta Dari Surabaya


Happiness Is.... You - Blogtour dan Giveaway


The Imitation Game - Menginspirasi Banyak Orang Tentang Makna Perbedaan


Kataji - Awal Mula Saya Terpikat pada Yura


Dak-Galbi Korean Resto And Caffe


Lembah Rolak


Pantai Pelang


Wawancara Dengan Cindy Owada: Mengenal Lebih Dekat WTF Market Dan Brand Lokal Indonesia


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Ode Untuk Si Bungsu


Menguak Luruh