Tea Tasting Bersama Havelteh

01 Mar 2017    View : 630    By : Niratisaya


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel saya satu sore. Ternyata sebuah undangan untuk ikut dalam acara tea tasting dari Widyoseno Estitoyo, owner Oost Koffie and Thee yang tengah menekuni usaha barunya: Havelteh.

Pria yang memiliki nama panggilan Seno ini bercerita bahwa ia telah lama tertarik kepada teh yang terkesan sederhana, tetapi kompleks. Ketertarikan inilah yang membuat Mas Seno terus bersemangat mengikuti beberapa workshop teh. Terhitung sejak tahun 2015, pria kelahiran Surabaya ini telah mengikuti tiga workshop teh: Tea Tasting Workshop di Bandung (2015), Hands-On Tea Blending Workshop di Singapura (2016), dan Tea Blending Workshop di Bogor (2016).

Antusiasme Mas Seno dan pengalamannya di dunia teh inilah yang kemudian membuat saya tertarik. Meski kerap kali memesan minuman yang satu ini, tapi pengetahuan saya mengenai dunia teh sangat terbatas. Memanfaatkan kesempatan yang ada, saya pikir kenapa tidak ikut serta? Selain itu, saya penasaran dengan fakta bahwa teh yang memicu terjadinya Boston Tea Party dan alasan mengapa teh menjadi minuman kedua yang paling banyak diminum di dunia.

 

 

Sejarah Teh di Indonesia

Teh sejatinya berasal dari tanaman bernama camellia sinensis yang konon pertama kali ditemukan di Tiongkok. Walau tidak pernah diidentikkan dengan kafein, pada kenyataannya teh memiliki kandungan kafein.

“Bedanya, teh memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibanding kopi dan punya manfaat untuk kesehatan yang lebih tinggi daripada kopi,” papar Mas Seno di awal acara tea tasting yang bertempat di ruangan indoor Oost Koffie and Thee.

Jenis teh yang populer di dunia adalah camellia sinensis var sinensis yang tumbuh di daerah Tiongkok Selatan, tepatnya di Yunnan. Teh dengan kandungan kafein yang nggak membuat penikmatnya terjebak dalam adrenaline rush memesona banyak orang. Dan, sebagai imbasnya, menempatkan teh sebagai salah satu komoditas berharga di dunia.

Inggris yang kala itu memiliki armada laut yang lebih kuat mengendalikan perdagangan dunia, di dalamnya termasuk Tiongkok, dan memosisikan Inggris sebagai penguasa ekonomi dengan British East India Company (1600). Inggris pun memonopoli perdagangan teh. Dua tahun kemudian, Belanda lewat VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) berusaha menyaingi Inggris.

Pada tahun 1827, J.I.L.L Jacobsen menyelundupkan bibit teh ke Indonesia. Dia mencoba menanam camellia sinensis var sinensis yang memiliki karakteristik daun lebih kecil di Indonesia. Sayangnya, jenis daun teh ini sangat sulit berkembang di Indonesia. Jacobsen pun mencoba jenis camellia sinensis var assamica yang berdaun lebar dan banyak ditemukan di daerah Assam, India Utara.

Havelteh Tea Tasting 1Source: Instagram Havelteh

Mas Seno menjelaskan hasil uji coba Jacobsen, “Nah, ternyata, camellia sinensis assamica inilah yang lebih cocok dengan iklim di Indonesia.” Pria yang memiliki beberapa usaha food and beverage ini lebih lanjut menerangkan bukan berarti camellia sinensis var sinensis sama sekali tidak bisa ditanam di Indonesia, hanya sangat sedikit daerah di Indonesia yang cocok dengan jenis daun teh sanggup beradaptasi dengan cuaca dingin ini. Salah satu daerah penghasil teh di Indonesia ada di Dieng, Wonosobo.

Ratna Soemantri dalam bukunya The Story in a Cup of Tea (2014: 116) menyebutkan, “Perkebunan teh di Indonesia diperkirakan menyerap 320.000 pekerja dan menghidupi 1,2 juta orang, menyumbang Produk Domesik Bruto (PDB) sekitar 1,2 triliun, nilai total produksi 2,1 triliun, dan menyumbang devisa bersih sekitar 110 juta dolar Amerika per tahun.”

Sayangnya, dalam salah satu percakapan kami, Mas Seno memaparkan bahwa kebanyakan penduduk Indonesia masih meremehkan kualitas teh Indonesia—menganggap teh Indonesia murahan dibanding teh dari produk luar. Alih-alih memproduksi teh sendiri, banyak perkebunan yang mengekspor teh terbaiknya. Padahal kebanyakan teh merek luar adalah teh dari perkebunan Indonesia yang dikemas ulang oleh perusahaan-perusahaan teh di luar negeri.

Fakta inilah yang mendorong Mas Seno untuk merangkul perkebunan-perkebunan teh di Indonesia dan bekerja sama dengan mereka untuk menjual teh lokal sebagai single origin tea lewat Haveltea.

Baca juga: Matcha Cafe - Curhat Bareng Ditemani Olahan Green Tea Nikmat

 

 

Varian Teh dan Proses Oksidasi

Ada banyak varian teh di dunia: putih, hijau, oolong, hitam, dan pu erh. Setiap teh ini dihasilkan dari bagian teh yang sama: lima pucuk pertama. Hal yang membedakan tiap jenis teh tersebut adalah proses oksidasi mereka.

Tea Leaf

“Oksidasi merupakan proses enzimatis [yang membuat] oksigen diserap sehingga mengubah fisik sebuah benda,” terang Mas Seno. “Oksidasi dapat dikontrol ataupun dibiarkan secara natural.”

Proses pembuatan teh tidak hanya ada satu cara. Ada metode lain yang digunakan oleh para pembuat teh: fermentasi—sebuah aktivitas mikroba yang menggunakan satu atau banyak jenis bakteri.

Untuk menghasilkan teh hijau dan teh putih oksidasi yang diperlukan adalah 0-5%, sedangkan teh hitam memerlukan oksidasi penuh (100%). Sementara itu, untuk menghasilkan teh oolong dibutuhkan oksidasi terkontrol antara 20-70%.

Satu fakta unik yang saya temukan mengenai teh oolong saat workshop adalah di dunia teh, oolong dikenal dengan sebutan “teh banci” karena bukan teh hijau dan tidak bisa benar-benar dibilang teh hitam.

Oksidasi

Di antara semua teh yang ada, jenis pu erh adalah teh yang termahal. Tidak seperti kebanyakan teh yang setelah lama disimpan menjadi rusak dan ‘mati’, dengan lingkungan yang tepat dan daun terbaik—kita bisa mendapatkan rasa unik dari daun teh.

Pu erh, yang berasal dari provinsi Yunnan, dibuat dengan proses khusus yang mendorong mikroba melakukan fermentasi terhadap daun teh yang telah dikeringkan. Proses pembuatan pu erh bisa memakan waktu seratus hingga ribuan tahun. Konon, proses pembuatan pu erh yang serupa dengan anggur menjadikan teh ini sebagai teh termahal di antara semua jenis teh yang ada.

Di sisi lain, ada jenis teh yang sama sekali tidak menggunakan daun camellia sinensis. Jenis teh ini dinamakan tisane.

Tisane dibuat dari bunga-bunga, rempah-rempah, buah-buahan, atau dedaunan—baik dicampur bersama atau dibuat terpisah. Ada kontroversi di dunia pertehan mengenai tisane. Beberapa memasukan tisane sebagai salah satu jenis teh, sementara para pencinta teh lainnya menilai tisane tidak termasuk dalam jenis teh karena tidak ada daun camellia sinensis yang dilibatkan dalam cangkir tisane. Meski pembuatan tisane tidak jauh berbeda dari teh dengan daun camellia sinensis.

Baca juga: Wisata Elegan dan Nggak Kampungan di Desa Labasan, Sleman

 

 

Cecap-Cecap Teh

Dalam workshop Afternoon Tea Tasting bersama Havelteh, saya dan para peserta lainnya mencicipi delapan jenis teh loose-leafe yang diproduksi di Indonesia. Sesi tea tasting dibagi menjadi dua. Namun, di sini saya hanya akan menyebutkan empat jenis teh—masing-masing dua dari tiap sesi.

Pada sesi pertama, saya dan para peserta workshop menikmati empat jenis teh dengan proses oksidasi antara 0% sampai 5%. Teh pertama yang kami sesap adalah Kings of Dawn.

Kings of Dawn adalah teh putih jenis silver needle yang dibuat dengan takaran 75 ml air panas (75-85℃) untuk 1 gram teh, atau 250 ml untuk 3 gram teh dengan lama penyeduhan 2-4 menit. Kings of Dawn produksi Havelteh berasal dari perkebunan teh Jawa Barat dan memiliki aroma manis ala madu.

Kings of Dawn dengan kandungan antioksidan ini tidak cocok jika dicampur dengan gula. Waktu yang tepat untuk meminum teh putih seperti Kings of Dawn adalah sebelum tidur.

Teh kedua yang berkesan bagi saya adalah Queen of Earth, teh hijau dengan rasa umami bordering ke gurih yang mengingatkan saya kepada rasa rumput laut. Takaran untuk meminum Queen of Earth adalah 100 ml air panas (75-80℃) untuk 1 gram teh, atau 200 ml air panas untuk 2 gram teh, dan diseduh selama 2-3 menit.

Queen of Earth terbuat dari campuran teh hijau dan bulir berah merah Jepang. Daun teh Queen of Earth berasal dari perkebunan teh di Jawa Barat. Teh ini cocok sebagai pendamping saat Artebianz menikmati makanan laut, sehingga menjadi minuman pendamping di pilihan restoran sushi.

Tea Tasting 3

Teh pertama pada sesi kedua yang saya cicipi adalah Regal Altiplano, teh hitam yang dibuat dari daun teh jenis broken oranje pekoe. Untuk mendapatkan rasa yang ‘kuat’, takaran yang pas adalah 1 gram teh disebuh dengan 50 ml air panas (90-95℃) selama 5-7 menit. Sementara itu, untuk teh ‘lemah’, takaran yang pas adalah 50 ml air panas untuk 1 gram teh.

Teh hitam banyak digunakan sebagai bahan dasar teh lain, misalnya masala chai, dan banyak digunakan oleh restoran dan café. Teh Regal Altiplano Haveltea berasal dari perkebunan di Jawa Tengah dan cocok diminum pagi hari karena memberikan morning kick pada peminumnya, agar lebih bersemangat saat beraktivitas.

Teh hitam berikutnya yang disajikan oleh Mas Seno dari Havelteh adalah Royal Higland dari daun the tipe Tippy Golden Flowery (Broken) Oranje Pekoe. Artebianz yang pengin teh hitam reguler takarannya adalah 1 gram teh yang diseduh dengan air panas (90-95℃) 100 ml, sementara untuk teh hitam kental takarannya adalah 1 gram teh yang diseduh dengan air panas (90-95℃) 50 ml, selama 5-7 menit.

Royal Highland cocok disajikan saat pagi hari atau setelah makan sesuatu yang berat. Teh dengan aroma buah-buahan tropis ini berasal dari perkebunan di Jawa Barat.

Seperti kopi, cara terbaik untuk meminum teh adalah dengan menyesapnya—membiarkannya melewati gigi dan ‘menyapa’ lidah kita. Bukan meminumnya dan mendorongnya masuk ke tenggorokan langsung, tanpa pernah tahu bagaimana rasa teh yang kita minum.

Meski teh memiliki kandungan dan manfaat yang baik untuk tubuh, seperti kebanyakan minuman yang mengandung kafein, teh tidak baik untuk ibu-ibu yang sedang mengandung. Namun ini bukan berarti ibu hamil tidak boleh meminum teh. Ada satu jenis teh yang bisa dinikmati oleh ibu hamil: teh dengan bahan rooibos yang secara harfiah berarti “semak merah”.

Di Havelteh, Artebianz bisa menemukanya di rangkaian Havelteh Selection, di jenis teh Rantepao.

Mas Seno memperingatkan untuk Artebianz yang memiliki tekanan darah rendah agar menikmati teh dengan makanan manis, seperti cokelat.

Tea Tasting 2
Source: Instagram Havelteh

Baca juga: Marugame Udon - Delicacy in Simplicity 

 

 

Menikmati Teh Koleksi Havelteh

Saya tidak bisa menuliskan semua yang saya dapatkan dari workshop Afternoon Tea Tasting Havelteh atau informasi dari Mas Seno. Artebianz yang tertarik mengenal dunia teh, pengin mengikuti workshop teh ala Havelteh, atau pengin tahu koleksi teh yang dipunyai Havelteh—Artebianz bisa menghubungi Havelteh.

Nah, kalau Artebianz pengin menikmati teh langsung, kamu bisa main ke Oost Koffie and Thee atau Cambium Kitchen.

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Liputan Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Perempuan, Terlahir Sebagai Penghuni Neraka


Nicoline Patricia Malina: Fotografer Cantik Muda Berbakat


Rahasia Suami dan Istri Pembawa Rezeki - Agar Menjadi Suami Idaman Istri


Bangkok Knockout: Permainan Maut antara Hidup dan Mati


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


Bubur Turki Kayseri: Bubur Ayam Versi Spicey


Coffee Bean & Tea Leaf Surabaya Town Square


Dieng: Sebentuk Nirwana di Indonesia - Edisi Setyaki dan Pesona Alam Dieng


Basha Market Chapter 2 - Merayakan Kreatifitas Lokal


My Toilet Prince - Pintu Pertama


Cheongsam Bunga Teratai Mei Lien


Narasi Rindu