Mengajar Itu Layaknya Orang Yang Ingin Membina Hubungan, Butuh Proses PDKT

26 Nov 2014    View : 2151    By : Alfianda


Saat SD, saya berpendapat bahwa guru bukanlah pekerjaan keren karena “dokter” menjadi pilihan cita-cita yang lebih mewah. Sialnya, Tuhan seperti mengutuk saya! Saya “terjebak” dengan profesi guru. Pengalaman mengajar pertama (bisa dikatakan secara profesional) sebagai guru adalah setelah saya lulus kuliah S1, salah satu sekolah berlabel internasional di Kota Malang mempekerjakan saya sebagai salah satu pengajar untuk level sekolah dasar. Saya malu, karena pada akhirnya saya harus menjilat ludah saya sendiri.

Saya jatuh cinta dengan profesi ini setelah sempat selama satu bulan magang di sekolah dasar untuk kepentingan tugas kuliah.

Sekolah tempat saya mengajar adalah sekolah yang mengadopsi sistem pendidikan internasional. Bahasa  Inggris wajib digunakan sebagai bahasa pengantar. Setelah melewati masa tiga bulan percobaan, saya didapuk untuk menjadi guru wali kelas dua yang sekaligus harus mengajar sekitar delapan mata pelajaran. Murid saya ada tujuh anak (sekolah ini memakai sistem kelas kecil), tapi tak satu pun dari mereka yang memiliki karakter yang sama. Bukan hal yang mudah bagi saya untuk memahami anak-anak tersebut. Saya bukanlah lulusan sarjana pendidikan yang mempelajari teori karakter murid. Saya adalah sarjana ilmu murni, sastra Inggris. Teori pendidikan maupun teori manajemen kelas tidak saya miliki. Saya pun mulai belajar dari nol. Masa-masa sulit itu kadang membuat saya ingin menyerah. Ternyata mengajar bukanlah pekerjaan mudah. Mengajar membuat saya lelah pikiran, hati, dan fisik.

Baca juga: Happy Ala Aldin

miss dinda

Salah satu murid saya memiliki keterlambatan dalam membaca dan menulis. Dia akan mengumpat dan menyumpahi saya jika dia tertinggal dari teman-temannya dalam mengerjakan tugas. Dia juga akan mengambek, menangis, dan mengancam tidak akan masuk esok harinya kalau saya terus-terusan mengomel serta menyuruhnya mengerjakan tugas. Saya pun mulai bereksperimen dan belajar dari berbagai sumber bagaimana menyampaikan materi agar anak-anak suka serta mudah memahami. Singkat cerita, murid saya yang bermasalah tersebut mulai mampu menulis kata-kata dasar dan kalimat pendek. Saya pun merasa sedikit lega karena merasa apa yang saya lakukan membuahkan hasil.

Suatu hari, saat pelajaran bahasa Indonesia, saya meminta murid-murid menceritakan kegiatan sehari- hari mereka kemudian menuliskannya dalam bentuk jadwal kegiatan. Tak ketinggalan dengan murid yang baru bisa menulis tersebut. Tulisan tangannya sukses membuat saya mengernyitkan dahi berkali–kali. Saya memintanya membaca tulisannya itu. Di luar dugaan dia berseloroh dengan polosnya, “See! You can’t read it right! So don’t ask me to read anymore, Miss!” (Nah, Miss tidak bisa baca, kan! Makanya jangan suruh saya baca lagi!)

Kontan, tawa saya meledak meskipun sebenarnya pusing harus bagaimana lagi meminta anak ini mau membaca.

tulisan seorang murid

Setelah kejadian tersebut, saya pun tersadar; mengajar itu layaknya orang yang ingin membina hubungan, butuh proses PDKT (baca: pendekatan). Saya mungkin memulai PDKT dengan kurang baik, sehingga chemistry building di antara kami berjalan cukup alot dan lama. Saya pun harus lebih rileks berhadapan dengan mereka, karena suasana yang tegang pun membuat mereka merasa takut dengan saya. Mengajar tidak hanya mentransfer ilmu tapi juga harus mengamati kepada siapa ilmu tersebut akan ditransfer. Pada akhirnya, saya simpulkan bahwa mengajar adalah belajar. Dengan mengajar saya belajar bagaimana mengatur emosi, memahami karakter orang, serta menghargai kelebihan dan kekurangan orang lain. Yang paling akhir, bagi saya mengajar anak-anak semacam mimpi buruk yang indah. Saya dibuat pusing, lelah, dan dongkol. Namun, di satu sisi saya terhibur dengan tingkah pola dan pertanyaan-pertanyaan polos yang mereka lontarkan.

Happy teaching everyone! Happy Teachers’ Day!

Be happy as always for students’ future!

Baca juga: Antara Profesi, Delusi, dan Identitas Diri



Tag :


Alfianda

Alfianda Rochliyani adalah lulusan Sastra Inggris Universitas Brawijaya yang juga seorang pengajar di salah satu lembaga pendidikan informal Bahasa Inggris di Malang.

Profil Selengkapnya >>

Meragajiwa Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Laki-laki, Perempuan... Mana yang Lebih Baik?


Figur: Lia Indra Andriana - Dari Seorang Calon Dokter Gigi Menjadi Salah Satu Penerbit Berpengaruh


Einstein Aja Ingin Tahu! (Jilid 2)


The Imitation Game - Menginspirasi Banyak Orang Tentang Makna Perbedaan


Epik High's Happen Ending - Cinta dan Hubungan Antarmanusia


Marugame Udon - Delicacy in Simplicity


La Ricchi - Gelato Kaya Rasa di Surabaya


Taman Nasional Baluran - Afrika-nya Indonesia


Wawancara Dengan Cindy Owada: Mengenal Lebih Dekat WTF Market Dan Brand Lokal Indonesia


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Balada Sebuah Perut


Aku dan Kau