Ayah Dan Hari Ayah

29 Nov 2014    View : 1609    By : Nadia Sabila


Pantaslah jika saya tidak tahu kalau Hari Ayah juga dirayakan di negara ini, karena ternyata baru digagas pada tahun 2006. Uniknya, penggagas Hari Ayah ini bukanlah bapak-bapak atau om-om yang protes akan emansipasi. Namun ibu-ibulah yang mencetuskan ide perayaan Hari Ayah.

Menurut sumber Liputan 6, adalah sebuah perkumpulan ibu-ibu dalam organisasi Putra Ibu Pertiwi (PPIP) di Jawa Tengah menggelar deklarasi Hari Ayah pada tanggal 12 November 2006. Pada hari yang sama, organisasi lintas agama yang berlokasi di Flores ini menggelar deklarasi yang sama, sehingga lahirlah Hari Ayah.

 

 

Sejarah Hari Ayah

Apa yang melandasi pemrakarsaan Hari Ayah ini? Menurut Ketua PPIP yang menjabat kala itu, Gress Raja, peran ayah yang sebetulnya sama pentingnya dengan peran ibu, tak bisa dipisahkan. Keberadaan Ayah selain untuk menjalankan kodratnya sebagai "kepala keluarga", adalah juga untuk pembentukan karakter keluarga. Orangtua adalah kesatuan yang memang diciptakan satu paket dan tidak bisa dipisahkan.

Hasil deklarasi ini adalah sebuah piagam penggagasan Hari Ayah serta buku kenangan yang diberikan kepada Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa bupati di wilayah Indonesia Timur.

Sejatinya, di berbagai negara di dunia, Hari Ayah dirayakan pada tanggal yang berbeda-beda, tentunya dengan sejarah yang berbeda pula tentunya. Di Rusia, Hari Ayah dirayakan pada tanggal 23 Februari, di Italia pada tanggal 19 Maret, sedangkan sebagian besar negara di dunia merayakan Hari Ayah pada Juni antara lain Jepang, AS, Inggris, Tiongkok, Yunani dan banyak lagi.

 

 

Peran Ayah dalam Keluarga

Terlepas dari apakah Hari Ayah dirayakan sebagai simbol pergerakan nasional kaum ayah ataukah untuk menghargai jasa-jasa para ayah, yang jelas, peran ayah tidak bisa dianggap remeh. Ayah yang awam hanya menganggap bahwa tugasnya adalah sebagai pemenuh kebutuhan material dan finansial keluarga, yang mencari uang, tulang punggung. Jika semua itu telah terpenuhi maka ayah awam akan menganggap dirinya telah tunai tugas. Jika masih ada yang tak beres, maka ibulah yang dikambinghitamkan. Pola pikir ayah yang seperti ini hendaknya harus diperbijak. Ada peran yang lebih dalam dari sekadar tulang punggung yang diemban oleh seorang ayah.

Menurut artikel tulisan Listyo Yuwanto dari Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, peran ayah adalah sebagai pendidik kedisplinan. Laki-laki, diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk kokoh yang berwibawa. Seorang ayah umumnya tidak seekspresif ibu dalam menunjukkan kelembutan dan emosi. Oleh karena itulah, pendidikan disiplin akan lebih tepat jika ditauladankan dari sosok seorang ayah. Selain itu, karakterisitik dasar seorang ayah, yang memang juga merupakan karakter laki-laki, adalah sedikit menjaga atau mengatur jarak dengan subjeknya sehingga faktor perasaan atau emosi yang dilibatkan tidak akan sebesar faktor perasaan seorang ibu. Hal ini sejatinya merupakan keuntungan, karena dapat dimanfaatkan untuk pendididikan disiplin yang tegas bagi seorang anak.

Baca juga: Mengajar Itu Layaknya Orang Yang Ingin Membina Hubungan, Butuh Proses PDKT

 

 

Ayah Sebagai Pendidik Dispilin Dalam Tiga Karakter Keluarga

Berdasarkan peran Ayah sebagai pendidik ini, menurut pengamatan pribadi saya, ada tiga karakter keluarga yang mendasar:
Satu, keluarga dengan sosok ayah mendominasi dan keluarga dengan sosok ibu yang mendominasi. Tipe keluarga dengan dominasi ayah biasanya akan memiliki sosok seorang ayah yang "galak" dan ibu yang lemah lembut dan tidak tegaan. Dalam keluarga jenis ini, biasanya seorang anak akan lari ke ibunya setelah dimarahi oleh ayahnya (karena dianggap tidak disiplin). Sosok ayah yang seperti ini akan dinetralisir oleh sosok ibu yang lembut dan "mendinginkan". Segala keputusan lebih sering diambil oleh ayah. Jika ayah berkata tidak, maka tidak dan jika ya maka jalankan. Disiplin akan dijalankan dengan ketegasan.

Karakter keluarga yang kedua adalah keluarga dengan dominasi ibu. Sosok ibu di keluarga jenis ini adalah sosok yang galak, detail, dan harus dipatuhi tapi sebetulnya ibu sangat perhatian dan sangat care pada anaknya, sedangkan sosok ayah di sini lebih cenderung sabar, tenang, dan bijaksana. Ibu lebih sering bertindak sebagai pengambil keputusan final. Ayah akan lebih sering berkata,"Tanya saja ibumu," jika sang anak meminta sesuatu yang sebetulnya tidak disetujuinya, dengan harapan ibulah yang akan berkata "tidak". Ayah dalam keluarga jenis ini sangat jarang marah-marah.

Namun, bukan berarti Ayah di jenis keluarga yang kedua ini kemudian dikatakan lembek dan tidak mengajarkan disiplin. Justru dengan kejarangannya marah, akan membuat anak segan, karena sekalinya marah itu berarti kesalahan yang diperbuat anak sangat besar. Marahnya pun tak lantas meledak-ledak atau memecahkan piring, tapi lebih ke diam seperti gunung.

Karakter keluarga yang ketiga adalah ayah dan ibu yang bertindak seperti sahabat. Tak ada dominasi karena anak sering diajak bermusyawarah. Pengambilan keputusan kadang diambil ibu, kadang ayah. Ayah dan ibu mengambil porsi yang seimbang dalam keluarga yang ketiga ini. Karakter keluarga seperti ini umumnya terdiri dari ayah dan ibu yang sama-sama bekerja sehingga membuat mereka lebih fleksibel pada anak. Ayah tetap akan memonitor anaknya dengan cara berdiskusi. Ayah yang berhasil menanamkan pendidikan disiplin dalam jenis keluarga ketiga ini akan memiliki anak yang cenderung open-minded dan anak akan merasa bebas, tapi tetap dalam jalur yang benar. Sebaliknya, ayah yang gagal dalam jenis keluarga ketiga ini membuat anak menjadi kebablasan dan lepas kendali. Salah-salah anak bisa terjerumus ke pergaulan bebas yang keliru.

Saya pribadi mungkin lebih memahami keluarga tipe dominasi ibu ini, karena keluarga saya sendiri masuk jenis yang kedua. Dulu, saya menangis setelah saya diomeli habis-habisan oleh Ibu karena bangun kesiangan saat akan berangkat sekolah. Saat itu, saya menyadari kesalahan saya, saya menangis karena menyesal serta karena jengkel dimarahi Ibu dengan cara seperti itu. Setelah tangisan saya reda, maka Ayah akan datang menasihati saya dengan cara yang lebih bijak.

Berbeda dari Ibu yang marah dengan nada tinggi dan menghakimi, Ayah akan menasihati saya dengan cara membuat saya lebih berpikir. Ayah bertanya kedisplinan apa yang saya dapatkan di sekolah, serta mengingatkan kalau saya pernah jadi pasukan pengibar bendera yang tentunya memiliki disiplin tinggi, sampai dalam hal bangun tidur sehingga tidak kesiangan. Semua disampaikan Ayah dengan nada yang tenang dan tidak menghakimi.

Baca juga: Malaikat Tak Bersayap

 

 

Ayah Sebagai Pembimbing

Pembawaan ayah saya yang tenang ini juga berpengaruh pada peran seorang ayah sebagai pembimbing. Masih menurut Listyo Yuwanto, ayah dapat berperan sebagai pembimbing dalam menyelesaikan masalah. Permasalahan yang dialami anak cukup beragam, mulai dari masalah akademik, masalah relasi, masalah yang berkaitan dengan kebiasaan ataupun minat dalam menjalankan sesuatu. Mulai dari penjurusan IPA atau IPS saat SMA, jurusan kuliah, terlebih saat akan berkarier dan berkerja, semua saya putuskan setelah berdiskusi dengan ayah saya. Untuk masalah pekerjaan dan rencana bisnis, saya selalu berkonsultasi dengan Ayah.

Ayah selalu memberikan pengarahan dengan tenang, motivasi, kemungkinan peluang serta konsekuensi secara logis dan faktual karena ayah saya pernah menjadi staf di sebuah perusahaan BUMN. Ayah selalu bersemangat jika saya ajak bicara mengenai peluang bisnis. Dalam hal pembimbingan ini, ayah saya jauh lebih mendominasi ketimbang ibu saya. Terutama dalam masalah agama. Ayah sayalah yang menahkodai kapal "iman" keluarga.

 



Kasih Sayang Ayah Adalah Motivasi

Saat saya merajuk karena kena marah Ibu gara-gara suasana hati Ibu yang sedang jelek, Ayah selalu berhasil membuat saya tertawa. Kadang Ayah bahkan membujuk dengan cara membelikan es krim atau makanan-makanan yang saya suka. Ayah saya yang humoris selalu punya cara membuat manyun jadi senyum.

Menurut riset yang dilakukan oleh Profesor Ronald Rohner yang dikutip oleh Dailymail, kasih sayang seorang ayah adalah kunci bagi perkembangan emosional seorang anak sama seperti ibu. Studi yang dilakukan pada lebih dari 10,000 anak perempuan dan laki-laki menunjukkan bahwa ayah yang tidak peduli pada anak-anaknya akan berdampak buruk pada emosi anak saat dia dewasa. Anggapan bahwa ibu adalah sosok yang paling disalahkan jika anak bermasalah seyogianya harus dipikirkan kembali. Pengaruh Ayah sangat penting.



Pengaruh Ayah

Bagaimanapun caranya, yang terbaik adalah ayah yang peduli. Waktu SD, saya pernah punya seorang kawan yang ekspat dari Arab Saudi, sebut saja Aisyah. Suatu hari, Aisyah membawa bekal gulai kacang hijau ke sekolah, sementara saya membawa nasi tahu tempe. Aisyah menawari saya mencicipi bekalnya. Saya cicipi, dan rasanya enak. Reflek saya memuji, "Ibu kamu pinter masak ya!". Aisyah bilang, "Ayah saya yang masak. Di rumah, yang belanja dan masak adalah ayah. Ibu bertugas mencuci baju dan mengurus adik-adik saya." Mendengar itu, saya yang masih SD saat itu tercengang.

hari_ayah
Dalam adat kita, ibu adalah sosok yang berbelanja, memasak, dan menyiapkan bekal untuk anaknya. Sementara dalam adat Aisyah, fungsi ayah seolah dibalik. Namun kehidupan Aisyah dan adiknya baik-baik saja, hingga kini saya bertemu lagi dengan Aisyah dewasa yang menjadi desainer baju di Arab Saudi. Aisyah tidak melanjutkan sekolah SMA karena Ayahnya menyarankan agar anak perempuan sebaiknya di rumah dan belajar sesuatu yang lebih praktikal. Aisyah adalah bukti nyata bagaimana seorang ayah punya andil besar dalam hidup anak-anaknya.

 

 

Ayahku, Dumbledoreku

Tidak ada habisnya jika saya menulis tentang Ayah. Singkatnya, ayah saya adalah sosok Dumbledore (tokoh di novel Harry Potter) bagi saya. Sabar dan bijaksana. Layaknya kebanyakan anak perempuan, saya merasa lebih dekat dengan Ayah. Meskipun saya tidak sampai mengidap sindrom Elektra, yaitu sindrom yang memuja sosok Ayah sehingga mencari pasangan hidup yang mirip dengan Ayah. Hehe.... Ada hal yang hanya bisa saya bagi dengan Ayah, ada juga hal yang hanya bisa saya bagi dengan Ibu. Mereka adalah segalanya.

Selamat Hari Ayah!

Baca juga: Filosofi Pohon Pisang Pada Hubungan Ayah Dan Anak





Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Meragajiwa Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Malaikat Tak Bersayap


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


Bi! - Potret Emosi yang Mengikat Manusia pada Lingkaran Kehidupan


Suicide Squad - A Sweet Treat... Or A Sweet Threat?


5 Lagu Indonesia Tahun 90-an Mengesankan Versi Artebia


Jeju Ice Cream: Es Krim Unik Rendah Lemak


Gujo Cafe Surabaya: Cangkrukan Enak Bernuansa Tradisional-Modern


Terbang Dengan Kursi Mabur Di Sindu Kusuma Edupark


Literasi Oktober: Goodreads Surabaya, Faisal Oddang, dan Puya ke Puya


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Tiga Puluh Tahunan (Part 2 - End)


Halusinasi