Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian

08 Mar 2015    View : 2232    By : Niratisaya


“Malu bertanya, sesat di jalan”

 

Artebianz tentu kenal dengan pepatah satu ini. Dulu, sewaktu SD, saya sendiri sering mendengar pepatah ini dari guru-guru saya. Sebuah percakapan yang tak sengaja saya curi-dengar beberapa hari lalu kembali mengingatkan saya atas pepatah tersebut dan membuat saya berpikir kembali. Namun kali ini dengan konotasi yang negatif.

Sejauh mana kita boleh bertanya pada orang lain. Apa normal, jika kita terus bertanya pada orang lain atas masalah yang kita hadapi dalam kehidupan kita sendiri?

Dan, jika kita terus mengandalkan orang lain demi menemukan jawaban atas tanya yang kita kemukakan sendiri, kapankah kita bisa menjadi sebuah pribadi yang mampu mengaktualisasikan diri?

Kapankah kita bisa menjadi pribadi yang mampu memberi bantuan kepada orang lain, ketika kita terus menengadahkan tangan?

KompasCourtessy to christelijkeverhalen.nl

Sementara, salah satu tujuan mengapa manusia diciptakan adalah untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam—termasuk sekitar.

 

 

Kronologi Dekonstruksi Paham “Bertanya”

“Pertemuan” saya dengan percakapan ajaib nan menarik ini terjadi ketika saya mendamparkan diri di salah satu warung soto favorit saya. Siang itu seperti biasa di hari-hari kerja, warung langganan saya sedang sepi. Hanya ada saya, seorang ibu dan anaknya—yang tampaknya membawa pulang soto yang mereka beli, dan dua orang lelaki yang berada tak jauh meja pilihan saya. Seorang dari mereka tampak lebih berumur ketimbang lainnya.

Mulanya saya tidak memperhatikan isi percakapan mereka karena membicarakan tentang topik yang cukup pribadi. Sampai pada satu titik, salah seorang mereka berkata, “Apa yang salah dalam kehidupan saya, Pak? Kenapa hidup saya susah begini?”

Pertanyaan yang dilontarkan oleh lelaki tersebut, kita sebut saja Pak A, adalah sebuah pertanyaan umum yang selalu ada di benak setiap orang—tak terkecuali saya. Namun yang membuat saya tertarik adalah Pak A dengan gamblang mengungkapkan kegundahannya pada orang lain (Pak B). Hal ini menandakan bahwa beban hidupnya cukup berat, atau bisa jadi Pak A adalah sosok yang mudah mengeluh. Terlepas dari praduga saya, saya tertarik dengan percakapan keduanya.

Jangan bilang saya tukang nguping ya, Artebianz. Pak A dan Pak B kan berbicara di tempat umum. Plus, bisa dibilang ini adalah kesempatan saya untuk belajar dari para orang tua. Walau dengan cara yang tidak lazim.
Begitu mendengar ucapan Pak A berkata demikian, spontan saya menajamkan pendengaran. Kurang lebih, beginilah percakapan Pak A dan Pak B yang sempat terekam ingatan saya.

 

Pak A: “Apa yang salah dalam kehidupan saya, Pak? Kenapa hidup saya susah begini?”

Pak B: “Ada masalah apa, tho?”

Pak A: “Sejak menikah, rezeki saya rasanya cupet. Saya dipecat dari pekerjaan, istri saya jadi ikut sibuk cari kerjaan.

Pak B: “Hmm … Bagus, kan? Kamu punya istri yang pengertian. Mau bantu suaminya bekerja.”

Pak A: “Saya penginnya istri di rumah, jaga anak saja. Sebentar lagi anak saya waktunya masuk TK. Biaya dari mana coba. Wong, makan sehari-hari saja saya dan keluarga sekarang mengandalkan mertua. Pusing kepala saya, Pak.”

Pak B: “Hmm….”

Pak A: “Saya sudah ke mana-mana, minta nasihat dan saran soal permasalahan saya ini. Tapi nggak ada yang bisa memberi jawaban yang pas. Makanya, saya minta nasihat Njenengan.”

 

Hening sejenak. Saya yang duduk tak jauh dari mereka ikut terdiam dengan tangan siap menyuapkan soto tertahan di udara. Saya mendengar suara helaan napas dan sendok yang beradu dengan mangkok. Sebelum suara Pak B mengisi udara.

 

Pak B: “Yang bertanya siapa, A?”

Pak A (dengan suara yang sedikit naik, terkejut): “Saya, Pak.”

Pak B: “Kalau begitu, kamu sendiri yang mestinya cari jawaban pertanyaan kamu itu.”

 

Saya tidak tahu seperti apa reaksi Pak A, tapi mungkin reaksi lelaki itu tidak jauh berbeda dengan reaksi saya: kaget dan tertegun karena jawaban tak terduga dari mulut Pak B.

Namun saya tidak tahu seperti apa pastinya reaksi Pak A atau Pak B berikutnya. sebab tak lama kemudian keduanya meninggalkan warung soto dan saya, dengan otak yang tak henti-hentinya memikirkan tentang pepatah “malu bertanya, sesat di jalan”.

Baca juga: Stigma dan Tradisi: Menikah - Antara Tuntunan Syariat dan Tuntutan Masyarakat

 

 

Kontemplasi Saya

Semenjak hari itu Artebianz, saya terus diganggu oleh jawaban Pak B.

Pada satu sisi, jawaban lelaki itu membuat saya kesal dan bertanya-tanya—mengapa ia tak langsung menjawab pertanyaan Pak A? Bukankah sebagai orang berumur, Pak B memiliki banyak pengalaman hidup yang bisa dibaginya dengan Pak A. Di sisi lain, saya dibuat berpikir kembali tentang hal-hal yang terjadi dalam hidup saya. Terutama beberapa pengetahuan yang saat ini tengah saya pelajari, yakni mengenai manusia, diri, dan proses individuasi. Serta bagaimana kita akhirnya menemukan tujuan kita berada di dunia ini.

 

Diri, Proses Individuasi ala Jung dan Kesejatian Diri

Mereka yang pernah mendengar Jungian Literary Criticism atau nama Carl Gustav Jung, pasti tahu mengenai proses individuasi. Proses tersebut adalah semacam prosedur dalam kehidupan manusia dan psikologinya untuk menemukan identitas—sesuatu yang membedakannya dari manusia lain—yang kemudian menjadikannya sebagai sesosok individu.
Menurut teori dari belahan bumi yang sering kita sebut Barat ini, ada beberapa arketipe. Namun, di artikel ini saya akan membahas arketipe-arketipe yang memiliki peran dominan.

Nah, di artikel ini saya ingin mengajak Artebianz untuk belajar bersama mengenai siapa kita sebenarnya dan bagaimana mengoptimalkan kemampuan yang telah dianugrahkanNya pada kita semua. Kita akan mempelajarinya melalui teori Jungian: proses individuasi perjalanan panjang penemuan jati diri dan kesejatian pribadi setiap manusia.

Dalam proses individuasi ada beberapa arketipee, tetapi menyesuaikan topik pada artikel (meragajiwa) kali ini, saya hanya akan membahas beberapa arketipee pada teori Jung.

Archetypes


Diri (Self): Incaran setiap manusia yang ingin menemukan siapa diri sejatinya

Beberapa makna kata “diri” menurut KBBI adalah 1) orang seorang (terpisah dari yang lain); badan; 2) tidak dengan yang lain. Sementara menurut teori Jung, seorang psikiater kelahiran Swiss, “diri” (Self) adalah “salah satu arketipe paling komprehensif dari semua arketipee, mencakup seluruh kepribadian, meski sebagian besar [dari kepribadian] tidak disadari.” (Feist & Feist, 2006: 523). Mau tak mau, dalam hidup kita akan bertemu dengan hal-hal yang membuat kita bertanya-tanya tentang diri kita—apa yang harus kita lakukan dalam hidup dan mengapa kita berada di dunia ini.

Untuk menemukan Self, kita lebih dulu harus menyeimbangkan peran dan karakteristik arketipe-arketipe yang ada dalam diri kita. Bisa dibilang mereka inilah yang membuat kita beraksi dan bereaksi. Arketipe-arketipe-arketipe itu adalah:

1. Persona adalah kepribadian yang ditunjukkan manusia kepada dunia.
Ialah yang membuat kita mampu beradaptasi dengan lingkungan, peraturan sosial, dan kehidupan. Pada satu sisi, ia membuat kita mampu bersosialisasi dengan baik, tapi di sisi lain bila kita tak mampu mengendalikan persona, kita sendirilah yang akan kehilangan jati diri karena terlalu larut dengan keinginan dan kemauan orang-orang lain. Tanpa sadar kita mulai melupakan apa yang harus kita lakukan, apa kelebihan kita, dan apa yang mesti menjadi fokus dalam kehidupan kita.

2. Shadow melambangkan kegelapan, segala yang kita tekan serta tak ingin akui pada orang lain—bahkan terkadang pada diri sendiri.

Setiap dari kita pasti memiliki sifat atau kebiasaan yang kita sembunyikan. Entah karena malu karena kebiasaan itu menyalahi aturan sosial masyarakat (cowok yang suka masak, cewek yang suka bersiul, etc.), atau karena kebiasaan itu kita anggap akan merusak imej kita yang telanjur beredar di masyarakat. Kita adalah selebritas ya kan, Artebianz? Walau hanya lokal :D

Semuanya akan termanifestasi pada arketipe shadow. Namun, kalau kita tidak pandai mengatur shadow dan mengekspresikan diri kita, bisa jadi shadow justru akan “meledak”. Jika terjadi, ledakan yang dipicu shadow ini akan merusak dinamika psikologis kita dan bisa jadi membuat kita menjadi stres.

3. Anima dan Animus merupakan penggambaran dua sisi dalam diri manusia: feminin (anima) dalam diri lelaki dan maskulin (animus) dalam diri perempuan. Masing-masing, yang berakar dari alam bawah sadar kolektif, dikatakan melakukan perlawanan secara ekstrem terhadap alam sadar.
Konon, anima dan animus ini tercermin pada orang-orang sekitar kita Artebianz. Misalnya pada pasangan atau orangtua.

4. Wise Old Man dan Great Mother kedua arketipe ini adalah kelanjutan dari  anima dan animus dalam diri kita. Namun, berbeda dengan anima dan animus yang melakukan perlawanan pada alam sadar kita, Wise Old Man dan Great Mother mewakili kekuatan alam bawah sadar. Masing-masing memiliki kebijaksanaan dan kasih. Khusus untuk Great Mother, arketipe ini mewakili kesuburan dan pemeliharaan—sekaligus kerusakan.

Mengapa dua arketipe ini mewakili kekuatan yang begitu luar biasa? Jawabannya ada pada kekuatan yang diwakili keduanya. Meski kita selalu bergerak dan bertindak menggunakan kesadaran, tetapi pada kenyataannya alam bawah sadar kitalah yang memengaruhi pemikiran kita. Sebelum kemudian ditransfer pada alam sadar kita lalu pada otak kita.

Adakalanya kita mendengar suara-suara dalam diri kita, Artebianz, mengingatkan apa yang harus kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan. Saya memercayai suara-suara ini datang dari alam bawah sadar yang bisa membantu kita untuk mengambil keputusan atau menyadari apa yang bakal terjadi.

Namun, seperti yang dikatakan oleh Jung, alam bawah sadar mewakili dua sisi: negatif dan positif. Di sinilah perlunya kita menggunakan akal untuk menalar setiap kejadian dan memutuskan pilihan apa yang pas untuk situasi kita.

5. Hero dikatakan sebagai arketipe sebuah pribadi yang kuat—bahkan bisa jadi setengah dewa. Ia berjuang melawan kesulitan besar dalam bentuk monster, ular, atau setan. Ketika hero berhasil mengalahkan kesulitan atau musuh besar, ia seakan membebaskan kita dari perasaan penderitaan dan rasa tak berdaya. Pada saat yang sama, hero membentuk sebuah kepribadian yang ideal dalam diri kita.

Kepribadian inilah yang secara tak langsung diminta oleh Pak B dari Pak A.

Nah, bagaimana caranya kita bisa menemukan Self dan kesejatian diri kita? Dengan mengasah rasa kita lewat setiap kejadian yang ada di sekitar kita. Baik yang manis, maupun yang sepah nan pahit—seperti yang dialami oleh Pak A. Situasi-situasi semacam ini, terutama yang terakhir adalah situasi di mana rasa dan kepekaan kita sedang dilatih, Artebianz.

Pada situasi Pak A, ia diminta untuk menyesuaikan diri dengan mertuanya yang menjadi penyokong hidupnya (di sini persona-lah yang bekerja). Kedua, ia diminta untuk mengekspresikan shadow-nya: yang mungkin saja berhubungan dengan egonya sebagai lelaki—menjadi bapak rumah tangga mungkin. Dari situasinya, Pak A tampak dilema antara membiarkan istrinya bekerja dan ia menjadi bapak rumah tangga. Saya kurang tahu, Artebianz. Ketiga, ia harus menyeimbangkan anima/animus—dalam hal ini hubungannya dengan sang Istri. Dan seterusnya, sampai akhirnya ia sampai menjadi sosok hero dalam keluarga.

Akan tetapi, tidak ada waktu yang pasti kapan seseorang sanggup menuntaskan proses individuasinya. Sebab menurut Jung sendiri, proses individuasi memakan waktu seumur hidup. Hal ini karena kedinamisan arketipe dan kondisi psikologis seseorang. Plus gelombang kehidupan yang takkan pernah surut, sebab ia mengikuti pasang-surut keinginan manusia dan tuntutannya terhadap hidup.

TanyaCourtessy to redmoon05.blogspot.com

 

 



Kesimpulan dari Kontemplasi “Bertanya”

Saya sendiri, meski mengerti teori yang saya gunakan sebagai landasan kritik sastra skripsi ini, masih belum mampu mengontrol emosi dan kesadaran diri. Padahal, bila kita mampu mengontrol emosi, menyeimbangkan setiap arketipe sesuai dengan peran mereka, dan menggunakan akal untuk menalar tiap kejadian—menemukan sendiri solusi untuk setiap pertanyaan yang muncul di hadapan kita bukanlah perkara yang sulit. Sebab, bila kita mampu melakukan ketiga hal tersebut, kita akan mampu menakar masalah dan mempertimbangkan apa saja yang mesti kita lakukan untuk mengurainya.

Misalnya pada kasus Pak A. Ialah yang medapatkan masalah. Ia juga yang mengerti situasi, kondisi, serta hal-hal yang mesti dicanangkannya untuk keluarga. Sudah sewajarnya bila Pak A jugalah yang menemukan segala jawab untuk pertanyaan yang ia ajukan.

Singkat kata, setiap dari kita telah dibekali oleh Yang Mahakuasa dengan berbagai piranti, baik fisik maupun nonfisik, yang mendukung daya kreasi kita—atau dalam kasus Pak A dan Pak B menemukan jawaban atas segala tanggungan yang 'diberikan' hidup padanya.

Baca juga: Stigma dan Tradisi: Laki-laki, Perempuan... Mana yang Lebih Baik?

 

 

 

Referensi:

Feist, Jess and Gregory J. Feist. 2006. Theories of Personality. New York: McGraw Hill.

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Meragajiwa Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri


Sabtu Bersama Bapak


Life After Beth - Kehidupan Setelah Kematian


Kataji - Awal Mula Saya Terpikat pada Yura


Bubur Turki Kayseri: Bubur Ayam Versi Spicey


Omahku - Ngobrol dan Nongkrong dalam Kesederhanaan


Bukit Pawuluhan: Bukan Bukit Biasa


Majapahit Travel Fair 2016


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Ode Untuk Si Bungsu


Segaris Pandang