Malaikat Tak Bersayap

28 Sep 2014    View : 2804    By : Amidah Budi Utami


Artebian pernah membaca cerpen atau mendengar lagu "Malaikat Juga Tahu"? Itu adalah lagu yang selalu aku puja dan kagumi, karena di dalamnya ada perasaan yang kuat, ketulusan, dan kesetiaan. Yah, seharusnya begitulah cinta. Aku kutipkan bagian cerpen "Malaikat Juga tahu" yang menggambarkan perasaan yang kuat itu:

"Perempuan muda itu benar. Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang. Bukan baginya. Cintanya tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri."

Sekarang waktunya aku bercerita:

Siang itu, Sabtu 22 Juni 2013, adalah hari khitanan keponakanku, di sana aku bertemu banyak orang baru, beberapa teman, tetangga, serta saudara jauh kakakku. Di hari itu job desc-ku adalah penerima tamu ditemani tetangga kakakku, namanya Ibu Lidya, dialah malaikat tak bersayap itu.

Baca juga: Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian

 

 

Ibu Lidya adalah seorang ibu dengan dua orang anak laki-laki; Si Kakak saat itu sedang duduk di bangku SD kelas 5, sedangkan Si Adik akan masuk TK A. Dia bercerita bahwa Si Adik mengidap autis. Aku agak kaget mendengarnya. Ibu Lidya menceritakan kebiasaan Si Adik—yang juga menjadi kebiasaan anak-anak autis lainnya, yaitu:

  • memiliki kecerdasaan diatas rata-rata
  • sering mengalami keterlambatan dalam bicara
  • setiap bicara selalu memakai bahasa Indonesia yang baku dan benar
  • biasanya memiliki obsesi--dan obsesi si adik adalah lampu jalan
  • cenderung aktif dan tidak mau diam
  • biasanya sangat detail mengenai sesuatu (seperti si melankolis yang kelewat mellooow)
  • memiliki ritual sendiri yang tidak boleh dilanggar oleh dirinya sendiri juga oleh orang lain (hal ini yang biasanya tidak bisa ditoleransi oleh orang biasa).

Si Adik ini memiliki ritual menjilat sedikit susunya dan berkata "hem sedapnya" hal ini yang harus dia lakukan sebelum meminum susu. Ritualnya yang lain adalah saat hendak berpisah dengan seseorang harus salim (cium tangan) dan berpelukan. Jika hal itu dilupakan, dia akan mengejar orang tersebut sampai Si Adik bisa salim dan berpelukan dengan orang tersebut. Dan jangan pernah berusaha untuk menolak ritualnya.

Semua cerita Ibu Lidya mengenai kebiasaan anaknya mengingatkanku pada tokoh autis di cerpen "Malaikat Juga Tahu" karangan Dewi Lestari: karakter Abang yang memiliki rutinitas yang tidak bisa dipahami orang normal. Rutinitas yang sama sekali tidak penting bagi orang biasa, tapi baginya mengubah rutinitas itu sama saja dengan menawar bumi agar berhenti mengelilingi matahari. Bagi yang belum pernah baca cerpennya bisa cari di toko buku terdekat, judul bukunya Rectoverso.

Melihat hal itu sebenarnya tidak ada yang salah dari orang autis, malah mereka lebih baik dari orang biasa, mereka orang cerdas dengan kesetiaan yang tinggi pada apa yang diyakininya. Hanya saja tidak semua orang bisa memahami dunianya yang berbeda. Guru-gurunya mungkin memiliki banyak murid, sehingga terlalu repot untuk  menyempatkan diri memahami dan memberi dunia yang berbeda untuk Si Adik. Teman-temannya mungkin juga terlalu polos untuk memahami ada yang berbeda dengan dunianya dan keyakinannya. Dan orang yang paling memahami dunianya adalah ibunya. Yah, karena cinta seorang ibu adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang yang berbeda sepertinya.



Fian, anak bungsu Bu Lidya, terdeteksi mengidap autis sejak umur tiga tahun, sejak saat itu Bu Lidya mengusahakan apapun untuk kesembuhan Fian. Bu Lidya berusaha mencarikan dokter yang terbaik bagi Fian, mencarikan tempat terapi, dan rutin mengantarkan terapi tiga hari dalam seminggu. Kalau dihitung, terapi itu sudah hampir tiga tahunan. Dan semua itu tidak menghabiskan biaya yang sedikit. Sungguh bukan biaya yang sedikit.

Dari Bu Lidya, aku juga mengetahui ternyata banyak makanan yang harus dihindari anak autis. Seperti tidak boleh mengkonsumsi tepung terigu, susu sapi, dan beberapa macam buah-buahan. Sehingga Fian hanya makan kue-kue dari tepung beras dan susu kedelai, tapi kadang fian tidak menyukainya. (Yah, jauh dari jenis makanan yang disukai kebanyakan anak kecil seperti beberapa jenis snack yang dijual di swalayan yang berbahan baku tepung terigu, atau es krim yang berbahan baku susu sapi).

Bu Lidya juga cerita tentang tes laboratorium yang bisa menyembuhkan autisme hanya dalam beberapa bulan saja. Tes itu bisa dilakukan di Indonesia tapi hasil tes dan diagnosanya dilakukan di Amerika. Hasil diagnosis akan dikirim kembali ke Indonesia dalam bentuk buku yang sangat tebal, berisi terapi (terutama diet) yang harus diterapkan agar si anak cepat sembuh. Buku yang sangat tebal itu sebaiknya dihafal agar lebih mudah diterapkan setiap hari. Sementara itu, biaya laboratoriumnya kurang lebih menghabiskan 25 juta rupiah. Dari nada bicaranya, Ibu Lidya terdengar setengah putus asa.

Di situasi seperti ini, Ibu Lidya berjuang sendiri karena yang aku dengar dari kakakku, suaminya telah meninggalkannya dan kedua anaknya.

Dengan nada yang lelah Bu Lidya berkata bahwa dia akan segera pindah ke Kediri, kampung halamannya dulu. Dia bahkan telah menjual rumahnya yang ditempati selama ini. Bu Lidya juga belum tahu mau kerja apa setelah pindah ke Kediri. Bu Lidya mengeluh bahwa Dia hanya lulusan SMA dan tidak memiliki keterampilan yang memadai;dia tidak bisa mengoperasikan komputer. Pekerjaan apa yang bisa dia lakukan agar bisa menghasilkan uang yang cukup untuk biaya dua orang anaknya? Terutama untuk Fian yang membutuhkan lebih banyak biaya.

Di sebuah status Facebook seorang teman aku pernah membaca, "Manusia bisa memilih untuk menjadi malaikat tak bersayap, atau menjadi setan yang tak bertanduk." Aku tahu hal itu benar.

Sungguh Bu Lidya adalah wanita yang kuat, yang diberi cobaan yang melebihi rata-rata orang pada umumnya. Dia memperjuangkan cintanya. Bukan Baginya. Cintanya tidak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri.

Sore harinya aku berpisah dengan Ibu Lidya. Mungkin kami tidak akan bertemu lagi. Ibu Lidya sempat memperlihatkan foto Abi dan Fian yang tersenyum. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana senyum keduanya di wajah tampan mereka. Foto itu sungguh manis, setiap orang pasti akan tersenyum melihatnya. Dari foto itu, aku bisa membayangkan masa depan yang indah ada di depan mereka.

Baca juga: Filosofi Pohon Pisang Pada Hubungan Ayah Dan Anak




Tag :


Amidah Budi Utami

Amidah Budi Utami adalah seorang perempuan yang bekerja di bidang IT dan menyukai seni, sastra, fotografi, dan jalan-jalan.

Profil Selengkapnya >>

Meragajiwa Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Raga Senja Berjiwa Fajar: Sebuah Renungan Kemerdekaan Untuk Pemuda


Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri


Tentang Gaya Penceritaan Orizuka - Dari Manisnya Cinta Sang Pangeran Hingga Pahitnya Skripsi (II-The End)


Warm Bodies - Menggali Kehidupan dari Kematian


HiVi - Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi


Kober Mie Setan, Gresik Kota Baru


Latarombo Riverside Cafe - Menikmati Vietnam Drip dengan Suasana Asyik


Pantai Kutang - Keindahan Pantai Perawan Di Lamongan


Tea Tasting Bersama Havelteh


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Oma Lena - Part 2


Tentang Waktu