Kopi Luwak - Nongkrong Aman Sambil Berbagi Kopi dan Gelak

22 Feb 2016    View : 1002    By : Niratisaya


Mencari sebuah tempat nongkrong adalah sebuah hal yang menyenangkan dan mudah, asalkan kita menemukan tempat dengan ambiance yang oke dan mendapatkan pelayanan yang baik. Or at least decent. Tapi, mencari tempat makan yang enak berbeda.

Bukan hanya tentang ambiance atau pelayanan. Walaupun seandainya makanannya enak, pelayanannya okeh, dan kita bersama teman-teman atau keluarga segala printilan itu akan terlupakan. Mencari tempat makan yang menyediakan ambiance dan makanan enak adalah perkara lain.

Beruntung, pertemuan saya dengan tempat nongkrong asyik di salah satu sudut Surabaya Town Square ini tanpa melalui sederet keluhan, makanan nggak tersentuh, dan minuman yang masih utuh. Sebaliknya, saya mengawalinya dengan segelas cappuccino hangat untuk mencairkan rasa dongkol saya. And no, there was nothing wow in that cup of cappuccino. I mean, I could get that from Coffee Bean or another coffee place. Walau begitu, saya cukup menyukai rasa yang dicampurkan di dalamnya. Meski pahit, sesuai dengan selera saya, sehingga saya nggak perlu menambahkan gula.

But being a reference of a hangout place, seperti apa sih ambiance Kopi Luwak?

Saya cukup menyukai interior di Kopi Luwak dan ambiance-nya yang tenang, kalau dibandingkan dengan kedai kopi lainnya di lajur yang sama.

Ketimbang menawarkan suasana yang eksklusif, Kopi Luwak memberikan suasana ala nostalgia dengan sebuah sepeda tua di dekat pintu masuk dan kehangatan rumah dengan tembok bata merahnya.

Selain itu, nggak banyak suara digunakan sebagai pengisi latar. Walau Kopi Luwak menyalakan teve kabel, tapi mereka nggak menyalakan sistem audio. Sampai akhirnya mereka menyadari para pelanggan mendongakkan kepala dan memperhatikan layar teve. Barulah pihak Kopi Luwak menyalakan sistem audio.

Perbedaan lain antara Kopi Luwak dengan tenant lain di lajur yang sama adalah suara musik dan bagaimana mereka menarik pelanggan. Kopi Luwak nggak memasang musik atau berteriak, seperti tenant lain di lajur yang sama. This is what I like. Jadi, begitu masuk, saya bisa berkonsentrasi dengan buku atau tulisan saya. Atau percakapan yang saya jalin dengan sahabat lama saya.

Baca juga: my Kopi-O! Salah Satu Spot Nongkrong dan Ngobrol Asyik

 

Walau Kopi Luwak adalah tempat nongkrong, tapi nggak bisa dihindari sewaktu kita kumpul dan ngobrol, makanan adalah hal kedua yang kita perhatikan. Dan, ini pendapat saya tentang menu Kopi Luwak.

Ini yang selalu saya perhatikan dari sebuah tempat, be it tempat nongkrong atau makan; varian menu mereka.

Berdasarkan pengalaman ngalor-ngidul saya bersama teman dan keluarga, saya menyadari satu hal: menu terbaik dari sebuah tempat bisa dinilai dari daftar menu mereka. Kalau mereka menawarkan satu lini makanan, then you know that’s their best food. Misalnya Heerlijk yang fokus pada makanan ala anak muda (piza, panekuk, dan makanan ringan), Omnivoro yang nggak jauh berbeda dengan Heerlijk hanya saja lebih banyak variannya, atau Oost Koffie and Thee yang mainly menyediakan makanan dari Negeri Kincir Angin.

And it was save for me to see Kopi Luwak memahami hal ini, sebab saya hanya melihat satu jenis menu berat yang mereka tawarkan: masakan Indonesia. Saya melihat nasi goreng, nasi nusantara yang bisa dibilang mini nasi campur, rawon, dan sup buntut. Atau lumpia, risoles, dan siomay di bagian makanan ringan.

Buat Artebianz yang pengin nyobain makanan ala manca, Kopi Luwak juga menyediakan pasta dan roti isi alias sandwich. But as I observed Indonesian foods are their specialty, jadilah saya dan teman cakap-cakap saya memesan makanan ala Indonesia.

First, we got ourselves food from the nasi section:

Ada nasi goreng dan nasi beserta sop buntut.

Untuk nasi goreng, hal pertama yang saya suka adalah pegawai Kopi Luwak menanyakan preference saya; apakah saya ingin nasi goreng saya reguler atau pedas. Dan, tentu saja, saya pengin nasi goreng saya pedas!

As hot as this man:

Penggemar "Yoo Jung Sunbae" yang lain angkat tangan~
(Sumber ilustrasi: bintang.com)

Baca juga: Matcha Cafe: Curhat Ditemani Olahan Green Tea Nikmat

 

Meski memiliki cita rasa manis seperti nasi goreng ala Bakmi dan Sate Klathak “Djogdja”, saya nggak menemukan sedikitpun jejak ke-eneg-an di tiap suapan nasi goreng ala Kopi Luwak.

Walau…. Saya nggak terlalu menikmati acarnya karena kurang ‘nendang’. Di sisi (piring yang) lain, saya suka ayamnya yang chrispy di luar, tapi dagingnya lembut banget. Yang mesti saya lakukan hanya mengulik-ulik lembut daging ayam dengan garpu, dan daging ayam goreng itu bakal ‘luluh’.

Ada beberapa varian sup buntut ala Kopi Luwak: reguler, sup buntut bakar, atau goreng.

Pada kesempatan lain mengunjungi Kopi Luwak, saya memilih sup buntut bakar. Karena kalau bisa memilih yang agak lain, kenapa pilih yang biasa—atau yang sudah banyak ditawarkan. Awalnya saya mengira daging bakar di sini adalah daging yang dimasak terpisah, lalu dimasukkan ke dalam sup. But no, Artebianz. It was the already-boiled-together-with-the-soup meat, yang kemudian dibakar dan memiliki cita rasa manis. My Central Java blood was extremely happy and satisfied with Kopi Luwak’s menus!

Daging sup buntut ini bukan hanya lembut, tapi ekstra bumbu yang dioleskan sewaktu daging itu dibakar membuat si daging punya cita rasa lain. Tentang supnya… saya nggak menemukan cita rasa yang istimewa. Kecuali penampakannya yang cukup menarik.

Rasa supnya nggak terlalu meaty—kaldunya lebih terasa ke kaldu sayuran, which I don’t really mind. Tapi, satu hal itu yang saya suka, karena saya penyuka sayuran. Jadi, sewaktu menemukan ekstra seledri dan wortel yang masih memiliki rasa manis ala wortel, saya merasa lega. Yes, it was simple, but I like it. Walau kalau dibandingkan dengan sup buntut Depot Nikmat, saya nggak tahu mana yang saya pilih. Masakan depot yang bertempat di Mojowarno, Jombang, itu atau Kopi Luwak.

 Selain mencicipi aneka nasi, saya dan seorang teman berkesempatan mencicipi risoles dan lumpia ala Kopi Luwak yang disajikan dengan dua macam saus. Satu saus tauco dan saus mayonnaise. Tapi, saya sendiri lebih suka memakan lumpia dan risoles tanpa saus, as the filling was already tasty.

Baca juga: Burgerman - Burger Home-Made Khas Surabaya yang Selalu Bikin Ketagihan

 

Nah, sekarang tentang minumannya. Favorit saya adalah Mango Ago Go; smoothie mangga yang dicampur dengan nata de coco. Saya suka dengan rasa mangga yang kental di antara es batu dan terus terasa sampai es mencair. I like that better than a juice that lose its taste as the ice was melted.

Dan, karena tempat ini bernama Kopi Luwak, tentu saja salah satu menu wajib yang perlu dicicipi adalah Kopi Luwak. Saat mencicipi menu kopi yang ada di nomor satu ini dengan sendok, saya mencecap rasa pahit dan asam. Anehnya, sewaktu menyeruput kopi ini langsung dari cangkir, saya nggak merasakan jejak pahit dan asam ala kopi Arabica(?). Jadi, saya urung menuangkan gula ke dalam cangkir.

Untuk fasilitas, setahu saya ada colokan, tapi khusus untuk deretan meja yang ada di tengah. Sementara itu, untuk Wi-Fi saya kurang tahu Tongue Out

Baca juga: Kedai Tua Baru Surabaya: Sajian Ala Malaysia-Jawa

 

All in all.... Kopi Luwak adalah salah satu tempat nongkrong yang saya suka. For its food, coffee, and ambiance.

 

Alamat

Townsquare Surabaya 2nd Floor,
JL. Adityawarman, No. 55, 60242, 60242, Indonesia

Jam operasi 10:00-00:00 (setiap hari)
Telepon +62 31 5610222
Harga Rp13.500,00 sampai Rp55.000,00
Pembayaran  tunai, kartu debit, Visa, Mastercard
Facebook Kopi Luwak

Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Nongkrong Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ada Kemauan Ada Jalan: Sebuah Energi Kehidupan


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Doodle Land, A Coloring Book for Grown-Up Children


Attack on Titan (進撃の巨人 - Shingeki no Kyojin)


Anti-Hero - Menjadi Pahlawan dengan Tidak Menjadi Pahlawan


Marugame Udon - Delicacy in Simplicity


Pandu Pustaka: Perpustakaan Keteladanan Di Pekalongan


Misteri serta Sejarah Jatimulyo dan Mojolangu, Malang (Bag. 2)


Literasi Desember: Festival Literasi Akbar Bersama Literaturia


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Kabut Rindu


Setitik  Tuba