Latarombo Riverside Cafe - Menikmati Vietnam Drip dengan Suasana Asyik

26 Oct 2016    View : 1222    By : Niratisaya


Setiap kali melewati Sungai Wonokromo baik di sisi Jalan Ketintang-Karah maupun Jalan Gunung Sari, saya selalu memimpikan ada satu tempat tongkrongan yang bisa memanfaatkan keberadaan sungai tersebut. Saya membayangkan di sepanjang Sungai Wonokromo terdapat café terapung dengan pendar-pendar lampu kuning bak kunang-kunang saat malam. Bukan tempat-tempat nongkrong yang sekadar menghadirkan Sungai Wonokromo sebagai pemandangan di tengah kesibukan daerah Rolak yang selalu dipadati kendaraan.

Dan alam raya seolah mendengar permintaan saya.

Satu hari saya yang baru pulang dari salah satu universitas negeri di Surabaya kebetulan melewati sebuah café yang baru saja beroperasi. Hal pertama yang menangkap perhatian saya bukanlah papan nama atau pelatarannya. Sebaliknya, yang pertama kali membuat saya tertarik mengunjungi Latarombo Riverside Café adalah lampu kuningnya yang berpendar di ruang tengah, yang mengingatkan saya kepada kerlap-kerlip bintang.

Alhasil, saya pun membelokkan setir dan segera memarkir sepeda motor saya di depan Latarombo Riverside Café yang berada di Jalan Ketintang Barat No. 3A. Dan saya jatuh cinta, Artebianz!

Baca juga: Filosofi Kopi

 

Nah, karena ini tempat nongkrong, mari pertama-tama kita menggosipkan tentang ambiance Latarombo Riverside Café.

Latarombo Riverside Café punya ambiance yang menenangkan begitu saya menjejakkan kaki di dalamnya. Dengan musik easy listening yang mengalun lembut di seluruh penjuru ruangan, interior yang didominasi oleh kayu dan dekorasi yang menimbulkan kesan urban sekaligus dinamis—sampai ambiance yang bisa bikin siapa pun larut ke dalam suasana tenang. Detik itu saya sadar; pemilik Latarombo Riverside Café benar-benar mengenal usahanya dan tahu bagaimana memanfaatkannya.

Raung Tengah

Keyakinan saya makin bertambah saat saya melihat ruang tambahan berupa tempat lesehan di atas Sungai Wonokromo dan rakit yang dibuat oleh pemilik Latarombo Riverside Café, Mas Ubet, bersama kru café.

Saat itu juga saya menobatkan Latarombo Riverside Café sebagai salah satu tempat nongkrong ter-comfy di Surabaya. Just imagine, Artebianz; a café where you’re not only able to enjoy the calming ambiance, but also the amazing view of a river. Saya bahkan sempat melihat beberapa burung kuntul yang terbang melintasi sungai serta menyaksikan nelayan dalam perahu mereka berlalu lalang mencari ikan.

Such a natural and beautiful view, Artebianz!

Nuff about Latarombo’s great ambiance. Let’s talk about the other important thing in a hangout place: Latarombo Riverside Café menu.

menu

Jujur, saya terkejut saat menerima buku menu dari salah satu pegawai Latarombo Riverside Café dan mendapati menu kopi di sana. Oke, mungkin wajar seandainya menu yang ditawarkan hanyalah sekadar kopi hitam (dingin/panas), cappuccino (dingin/panas), atau beraneka ragam latte.

But no, Artebianz. Latarombo dengan jelas menawarkan bahwa mereka menawarkan kopi dengan dua ragam biji: arabika dan robusta. Plus, dua jenis penyajian—yang saya nilai cukup eksklusif untuk lingkungan Latarombo berada: Vietnam drip dan French press.

Vetnam Drip

And my dear Artebianz, Latarombo is not playing with their coffee. They have dang good coffee for a very cheap price! Well, at least for my amateur experience of chugging coffee Laughing

Untuk segelas kopi Vietnam drip dengan jenis biji arabika, saya hanya perlu merogoh Rp12.000,-.

Buat Artebianz yang masih coba-coba ngopi, Latarombo Riverside Café punya beberapa jenis kopi lainnya. Dari latte sampai cappuccino. Selain itu, Latarombo juga punya minuman berbahan dasar buah-buahan (jus dan smoothie), teh (reguler atau yang mesti ditarik-tarik), tradisional (berbagai macam jamu), hingga berbagai macam milkshake. Semuanya berkisar dari Rp5.000 sampai Rp18.000.

Kalau Artebianz pengin nambah susu (untuk kopi), kamu harus membayar ekstra Rp2.000,- untuk menu pilihanmu.

Baca juga: Kopi, Cinta, dan Masa Muda

 

Berhubung saat itu saya belum sarapan, walhasil saya mencoba lumpia ayam sebagai pembuka dan nasi goreng ala Latarombo sebagai makanan utama.

Lumpia

Sebagai pembuka, lumpia ayam Latarombo amat sangat delish! Gigitan pertama bumbu ayam yang menjadi filling lumpia terasa manis-gurih, tapi nggak bikin enek seperti pengalaman terakhir saya makan lumpia. Sadar kalau ibu saya akan menyukai lumpia Latarombo, alih-alih menghabiskan enam lumpia dalam satu piring, saya pun meminta pegawai Latarombo untuk membungkus sisanya.

Target saya pun berpindah ke nasi goreng Latarombo. Sebagai makanan utama, porsi nasi goreng spesial cukup banyak dan penuh lauk. Ada dua potong sosis dan telur goreng. Saya nggak bisa menghabiskan nasi goreng spesial. Yah, kecuali kalau Artebianz datang ke Latarombo dalam keadaan lapar, rasanya kamu bakal sanggup menghabiskan nasi goreng spesial ala Latarombo.

nasi goreng

Mengenai rasa, menurut saya, nasi goreng Latarombo Riverside Café cukup aman untuk semua orang. Yang nggak suka pedas bisa menyantap dengan riang, sementara yang suka pedas.... Well, Artebianz mesti bawa saus sambal atau cabai sendiri. Latarombo belum memiliki memberikan ekstra condiment atau memberikan ekstra cabai di piring. Sedihnya, saya nggak pernah bawa saus sambal di tas atau sekotak cabai saat keluar rumah.

Nah, sebagai penutup, hari itu saya memilih panekuk dan es krim. Untuk panekuk aka pancake, Latarombo punya dua pilihan: panekuk regular dan panekuk dengan ekstra es krim. Untuk panekuk dengan ekstra es krim, Latarombo menyediakan pilihan es krim cokelat dan es krim vanila. Saya memilih es krim cokelat. Panekuk gurih nan hangat dengan taburan gula bubuk dan siraman cokelat—susu kental manis mungkin—sudah yummy banget di lidah saya. Dan, begitu saya menyendokkan es krim ke dalam mulut... wuih!

Panekuk

Artebianz yang punya sweet teeth kudhu banget cobain panekuk Latarombo Riverside Café.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Latarombo Riverside Café adalah satu tempat nongkrong istimewa. Ini karena Mas Ubet menyediakan ruangan ekstra di atas Sungai Wonokromo berupa rakit berbentuk persegi untuk dua hingga empat orang pelanggan Latarombo.

Kebetulan, saat itu Latarombo Riverside Café masih dalam masa promo, sehingga saya bisa mengendarai rakit yang dinamai Romantic Rakit oleh Mas Ubet secara gratis~

Rezeki anak soleh memang Innocent

Di luar masa promo, agar bisa menaiki Romantic Rakit, Artebianz hanya perlu memesan makanan dan minuman sejumlah Rp100.000,- untuk dua orang. Sementara itu, empat orang pelanggan harus memesan makanan dan minuman sejumlah Rp175.000,-. Kalau Artebianz bawa lima orang teman, alias enam orang, kamu dan teman-teman perlu merogoh kocek Rp275.000,-. Saat ini Mas Ubet dan kru Latarombo Riverside Café sedang berencana membuat dua buah rakit lagi, untuk empat orang dan enam orang penumpang.

Romantic RakitYang pengin mengkhayal jadi Hae Soo dan Wang So WangjanimLaughing

Untuk Artebianz yang pengin nuansa romantis, kamu harus coba dinner di atas Romantic Rakit. Kenapa? Karena lumayan menantang—bayangkan, kamu makan sambil menaiki rakit yang bergerak mengikuti arus sungai—dan romantis abis!

Saya saja yang menaikinya saat siang sudah terpesona banget dengan ide kreatif Mas Ubet. Rasanya refreshing banget menaiki rakit sambil menikmati pemandangan Sungai Wonokromo dan kesibukan Surabaya, tanpa terlibat di dalamnya.

Dengan ambiance-nya yang nyaman dan menunya yang yummy plus murah, Latarombo Riverside Café adalah tempat nongkrong yang asyik. Sayangnya, Latarombo belum ada colokan. Walhasil, saya cenderung menggunakan alat tulis tradisional: bolpoin dan kertas. Ini mungkin karena Latarombo baru saja buka.

ruang belakang

Baca juga: Sebuah Wajah, Sebuah Rasa

 

Sekilas tentang Pemilik Latarombo Riverside Café: Mas Ubet

Sebelum membuka Latarombo Riverside Café, Mas Ubet sebenarnya sudah membuka tempat ngopi dan nongkrong di sebelah area Outbond Rolak. Mas Ubet menamainya Kuliner Pinggir Kali. Sebelumnya tempat itu dinamai Angkringan Latarombo.

Mas Ubet mungkin ingin memisahkan Latarombo Riverside Café dari Angkringan Latarombo, dia lalu mengubah nama usaha f&b pertamanya menjadi Kuliner Pinggir Kali.

Yang saya kagumi dari Mas Ubet adalah kemampuannya membaca dan mengerti usahanya, juga kemauannya untuk berkreasi. Di ruang tengah Latarombo, kalau Artebianz mendongakkan kepala, kamu akan menemukan lampu dengan hiasan botol-botol yang saya yakin dibuat sendiri oleh Mas Ubet atau kru Latarombo Riverside Café, seperti Romantic Rakit.

Kebanyakan pengusaha f&b hanya terfokus kepada makanan aneh dan unik, atau sekadar ambiance yang asyik, tapi Mas Ubet berhasil menyatukan dua elemen penting untuk tempat nongkrong plus menciptakan satu hal yang berbeda di usahanya. Tanpa perlu memberikan nama-nama yang aneh—yang menyeret nama makhluk halus atau memilih diksi yang mengerikan, yang semestinya nggak perlu dihubungkan dengan makanan.

In my humble opinion, kita harus menghormati makanan karena kita akan memasukkannya ke dalam tubuh kita dan menggunakannya sebagai sumber energi. Artebianz pasti pernah dengar kata-kata bijak "you are what you eat", bukan? Wink

Baca juga: Di Denting Garpu Sendok dan Piring



Alamat 

Jalan Ketintang Barat No. 3A

Jam operasi 11:00-03:00
Telepon +62 31 99660863 dan 0813 3338 1227
Harga Rp5.000,00 sampai Rp30.000,00
Fasilitas WiFI, rakit, toilet, dan tempat solat
Twitter Latarombo Riverside Café



Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Nongkrong Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Mengajar Itu Layaknya Orang Yang Ingin Membina Hubungan, Butuh Proses PDKT


Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni


To All The Boys I've Loved Before - Siapa Bilang Hati Manusia Hanya Bisa Untuk Satu Orang?


Goblin: The Lonely and Great God


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


Ajibnya Bubur Kacang Hijau Ciliwung


Gujo Cafe Surabaya: Cangkrukan Enak Bernuansa Tradisional-Modern


Wana Wisata Sumberboto - Keindahan Alam yang Masih Dipandang Sebelah Mata


Wawancara Dengan Cindy Owada: Mengenal Lebih Dekat WTF Market Dan Brand Lokal Indonesia


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Tiga Puluh Tahunan (Part 1)


Sajak Malam Dingin