Hujan dan Pelangi

16 Sep 2014    View : 4704    By : Niratisaya


Ditulis oleh   Idawati Zhang, Mikayla Fernanda, dan Ch. Marcia
Diterbitkan oleh   PlotPoint
Terbit pada   Mei 2013
Genre  fiksi, young adult, romance, drama, slice of life, family
Jumlah halaman  328
Nomor ISBN   978-602-9481-34-1
Harga  IDR54.000,00
Koleksi   Perpustakaan Pribadi
Rating  4/5


Bagi Sabrina, Cammile adalah awan mendung di hari cerahnya. Oh, ralat, Camm ibarat hujan badai penuh petir yang bikin banjir mendadak. Kenapa? Karena sejak ada Camm hidupnya berubah total.Dia bukan lagi “Queen Bee” di sekolahnya, sahabatnya, Patrice, mendadak jadi musuh yang menyebalkan dan Aldo, pacar sekaligus bintang di sekolahnya, kini seperti orang yang tak dia kenal. Bahkan hubungan Sabrina dengan Ayahnya juga ikut berantakan.

Bagi Camm, Sabrina adalah pelangi di hari yang amat cerah. Pelangi selalu mencuri perhatian dari indahnya cerah hari. Itulah Sabrina bagi Camm: cewek yang merasa dirinya pusat semesta dan titik dari segalanya. Bagi Camm, yang anak baru di SMA itu, justru ini saatnya untuk mengambil semuanya dari Sabrina. Tak ada juga yang dia pertaruhkan. Ibunya juga sudah meninggal dunia. Siapa yang bisa melarang anak sebatangkara?

Hidup Sabrina dan Camm kini mendadak berada di bawah “langit” yang sama. Berselang-seling di antara dentam musik group dance, bel sekolah, dan rahasia besar di antara mereka berdua.

 

 

Impresi Saya terhadap Hujan dan Pelangi

Since I've been criticized karena beberapa hari terakhir ini mereview bacaan-bacaan yang mellow, kali ini saya akan mengulas sebuah novel remaja.

Tunggu, tunggu... novel remaja? Teen-lit? Nggak salah, nih?!

Untuk Artebianz yang lebih suka bacaan berlabel Metropop dan Chic-lit, nggak. Anda sama sekali nggak salah baca. Review novel kali ini membahas tentang Teen-lit berjudul Hujan dan Pelangi. Novel ini adalah Teen-lit terbitan Plotpoint pada tahun 2013. Dan meski ditargetkan untuk remaja, novel yang ditulis secara keroyokan oleh Idawati Zhang, Mikayla Fernanda, dan Ch. Marcia ini segera membuat saya terpikat. Selain kavernya yang berkesan sederhana tapi segar, sesuai dengan kesan yang mestinya diberikan oleh seorang remaja, saya tertarik dengan blurbs yang ada di cover belakang.

Coba, Artebianz baca ulang blurbs novel Hujan dan Pelangi yang sudah saya pasang Smile

Memang Hujan dan Pelangi memang masih memiliki khas cerita remaja. Ada kegiatan cheerleading, saingan antarteman sekolah, cinta… tapi coba cermati lagi ke mana cerita ini sebenarnya berpusat.

Keluarga.

Walau hanya sekilas disinggung, tetapi jelas di sanalah akar masalah atara dua tokoh utama novel yang merupakan proyek buku Clara Ng ini bersumber. Inilah yang membuat saya yakin; ada yang istimewa dalam novel remaja satu ini. Oleh karena itu, saya pun membeli novel ini tanpa ragu lagi Smile

Sementara kebanyakan novel remaja memfokuskan diri pada cerita percintaan, lengkap dengan cinta pertama dan sakitnya patah hati, serta segala intrik ala cerita remaja yang biasanya menghiasi, Hujan dan Pelangi menolak semua intrik tersebut.

Ada sebuah monolog besar-besaran terjadi di kepala Sabrina. Apa Patrice benar? Tapi kayaknya nggak mungkin deh. Nggak mungkin Camm itu mata-mata. Lagi pula siapa yang mau repot-repot menyusup, pura-pura pindah sekolah gara-gara lomba dance (hal. 45).

Kutipan tersebut memperlihatkan beberapa kemungkinan intrik dalam novel ini:

  1. Bahwa seperti umumnya cerita Teen-lit, Hujan dan Pelangi menyediakan intrik yang kemungkinan besar tak masuk akal—serta dibesar-besarkan. Seorang siswa dari sekolah lain yang memutuskan untuk pindah ke sekolah lawannya demi memenangkan lomba.
    (Apakah Artebianz sempat menjadi penggemar (atau masih nih? *wink wink*) drama musikal Glee? Ada yang ingat episode yang mirip dengan plot ini? Laughing)
  2. Meski memberi petunjuk tentang cerita dan intriknya yang mainstream, Hujan dan Pelangi menghadirkannya sebagai meta dan justru mengajak pembaca untuk memikirkan ulang intrik ala drama remaja tersebut, serta intrik serupa lainnya yang makin lama makin mainstream. Hal ini terbukti pada kalimat terakhir yang dilemparkan Sa pada dirinya sendiri.

Dan karena sudut pandang yang digunakan oleh ketiga penulis di novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, otomatis para penulis—lewat Sa—melemparkan pertanyaan tersebut pada pembaca. Seakan mengajak pembaca untuk memikirkan kembali kehidupan para remaja, apa sinetron-sinetron yang menjadi role-model tingkah dan cara bicara mereka yang ajaib.

Atau justru fenomena di kehidupan remaja masa kini yang menginspirasi sinetron-sinetron untuk menjadi tontonan "ajaib"? Sebelum kemudian dirangkai menggunakan kata demi kata dan menjadi cerita.

Baca juga: Intertwine - Takdir Yang Berjalin

 

 

Tentang Karakter dalam Hujan dan Pelangi

Pada novel Hujan dan Pelangi terdapat dua tokoh utama: Sabrina (Sa) dan Cammille (Camm).

Jika umumnya setiap cerita berkembang dengan perselisihan dua tokoh yang berlainan sifat, tidak demikian dengan novel yang berasal dari proyek buku Clara Ng ini. Sa dan Camm sama-sama keras kepala, tidak akan berhenti sampai mendapatkan yang diinginkannya, tidak mau mengalah, dan jago dance juga basket.

Frenemies
(diambil dari iamincontrol.org)

Kesamaan antara Sa dan Camm tidak berhenti sampai di situ. Mereka sama-sama menyukai pemuda yang sama: Aldo, yang notabene adalah kekasih Sa.

Mulanya Camm tak menyadari perasaannya dan menganggap hal itu hanya bagian dari rencana balas dendamnya pada Sa. Sementara Sa sendiri berusaha mempertahankan Aldo—entah karena ia benar-benar mencintai cowok itu, atau karena ia merasa Aldo adalah properti miliknya.

Dan ketika Sa mendapati gelagat aneh dari Camm yang tampak ingin menyingkirkannya dari tahtanya sebagai ratu di sekolah, dia mendapati beberapa kesamaan mereka yang lain….

Apakah itu?

Dan apa yang akan terjadi jika dua orang yang bersifat dan memiliki ambisi sama (ingin menghancurkan yang lain) bersitegang terus.

Apa yang akan terjadi?

Benarkah apa yang dilakukan Camm hanya karena ia ingin diperhatikan setelah dia kehilangan ibunya–satu-satunya orangtua yang dimilikinya?

Atau seperti yang diduga Sa–ada kehidupan lain yang disembunyikan Camm?

Ada begitu banyak pertanyaan dan ada begitu banyak dimensi yang ditawarkan oleh Hujan dan Pelangi, lebih dari sekadar warna-warni khas novel remaja umumnya.

Baca juga: To All The Boys I've Loved Before - Siapa Bilang Hati Manusia Hanya Bisa Untuk Satu Orang?

 

 

Bagian Per Bagian dari Hujan dan Pelangi

Mengenai penulisan, saya merasa ketiga novelis mampu meramu cerita dan menjalinnya sehingga tidak terlalu terasa perpindahan tangan antara Zhang, Fernanda, dan Marcia. Ketiga novelis seakan mampu menyatukan visinya sewaktu menulis kisah Sa dan Camm. Campur tangan Clara Ng, dan mereka yang ada di balik layar terbitnya Hujan dan Pelangi, patut dipuji dalam hal ini, mengingat Ng adalah mentor dari para penulis.

Sayangnya, saya masih menemukan keanehan dalam gaya penulisan Zhang, Fernanda, dan Marcia—saya tidak tahu di tangan siapa bagian ini tertulis, oleh karena itu saya menyebut ketiga novelis. Misalnya pada kutipan yang saya sebutkan sebelumnya; “Ada sebuah monolog besar-besaran terjadi di kepala Sabrina.”

Menurut saya pribadi kata “besar” tidak tepat untuk disandingkan dengan kata “monolog”, sebab yang terjadi adalah ketiga saya membaca kalimat tersebut, saya tidak mampu mencerna apa yang dimaksud dengan “monolog besar-besaran”.

Sisi minus dari novel ini adalah label teenlit a.k.a cerita remaja yang menempel pada Hujan dan Pelangi, cenderung membuat pembaca yang enggan dicap remaja pikir-pikir dua kali untuk membaca novel ini. Namun di lain pihak, Hujan dan Pelangi menambah warna dalam dunia literatur remaja—yang menunjukkan bahwa dalam dunia remaja tidak hanya ada hujan airmata akibat patah hati, juga tidak hanya ada pelangi cinta pertama. Menurut saya, remaja bukanlah makhluk dua dimensi ala cerita Disney (I'm sorry Disney for putting my finger on you~).

Thus, Artebianz, I think you need to reconsider this novel. Bila bukan untuk kamu, Artebianz bisa menghadiahkan Hujan dan Pelangi untuk keponakan/teman/remaja lainnya di sekitar kamu Smile

Baca juga: P.S. I Still Love You - Psst... Ada yang Masih Cinta

 


 

Your book curator,
N

 




Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian


Edwin Ruser dan KoreanUpdates - Menghidupkan Mimpi Lewat Passion


Ikan-Ikan dari Laut Merah - Ekspresi Tasawuf dalam Sastra Sufistik


Siti - Perempuan dan Dalamnya Hati


Sugar - Maroon 5: Kejutan Manis Di Pesta Pernikahan


Depot Asih Jaya, Pusat Soto Lamongan


Kedai Es Krim Zangrandi - Sejak 1930


House Of Sampoerna: Sebuah Album Kenangan Kota Surabaya


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya dan Adham Fusama (Editor)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Kedua)


Interaksi di Galaksi


Hujan Sepasar Kata