Mendung Pekat dan Indahnya Pelangi dalam Apa Pun Selain Hujan

02 Jun 2016    View : 1684    By : Niratisaya


Ditulis oleh      Orizuka
Diterbitkan oleh      Gagas Media
Disunting oleh      Yulliya
Aksara diselaraskan oleh  Idha Umamah & Widyawati Oktavia
Penataan letak oleh  Putra Julianto
Desain sampul oleh  Agung Nugroho
Diterbitkan pada  April 2016
Genre  fiksi, young adult, romance, drama, mellow, slice of life, coming-of-age
Jumlah halaman  296
Koleksi  Perpustakaan Artebia

 

“Orang lain bisa mengatakan apa pun yang mereka mau, Le. Itu sepenuhnya kuasamu untuk percaya.” (halaman 253)

 

Wira membenci hujan. Hujan mengingatkannya akan sebuah memori buruk, menyakitinya....

Agar bisa terus melangkah, Wira meninggalkan semuanya. Ia meninggalkan kota tempat tinggalnya. Meninggalkan mimpi terbesarnya. Bahkan, meninggalkan perempuan yang disayanginya.

Namun, seberapa pun jauh langkah Wira meninggalkan mimpi, mimpi itu justru semakin mendekat. Saat ia sedang berusaha keras melupakan masa lalu, saat itulah ia bertemu Kayla.

Pertemuan itu mengubah segalanya.

Sebuah novel tentang melepaskan mimpi di bawah hujan. Tentang cinta yang diam-diam tumbuh bersama luka. Juga tentang memaafkan diri sendiri.

 

 

Percikan Kisah Apa Pun Selain Hujan

Nggak ada yang sehangat menyeruput kopi atau minuman hangat lainnya kala hujan turun. Ya, kita bisa minum minuman hangat di waktu malam, tapi the isolated feeling yang membuat kita ‘terkurung’—in a good way, of course—dengan diri kita saat hujan turun nggak akan bisa digantikan oleh malam. Inilah yang membuat hujan selalu istimewa. Seenggaknya bagi saya.

Namun, bagi Wirawan Gunadi, tokoh utama novel Apa Pun Selain Hujan karya Orizuka, hujan selalu mengingatkannya kepada mimpi buruk. Kepada hal-hal yang memberati hatinya dan ingin dilupakannya. Semua berakar pada hal-hal dan mereka yang berarti dalam hidup Wira, panggilan tokoh utama kita kali ini.

Adalah taekwondo dan sebuah pertandingan melawan sahabat Wira, Faiz, yang mendorong pemuda itu untuk melarikan diri dari riuh, panas, dan ramainya Jakarta ke Malang. Sebuah kota kecil, dingin, dan sama sekali nggak memiliki jejak kejadian kelam yang ingin dilupakan oleh Wira.

Namun, Wira lupa—meski di sana dia nggak dikenal sebagai taekwondoin ban hitam yang menghabisi nyawa sahabatnya sendiri, ada hal lain yang menghantuinya: hujan.

Suara rintik yang menimpa genting membuat Wira membuka mata. Ia menatap nyalang langit-langit berwarna gading yang menjadi tameng antara dirinya dengan hujan. Dengan segera, ia kembali memejamkan mata, lalu menutupinya dengan punggung tangan (halaman 19).

Begitu menakutkannya hujan, sampai-sampai Wira harus memejamkan matanya dan menutupinya dengan punggung tangan untuk menyingkirkan keberadaan hujan. Walau nyata-nyata dia nggak akan terkena setetes pun, sebab Wira berada di dalam rumahnya.

Sama seperti keinginan Wira untuk menghilangkan hujan—rasa takut, trauma di masa lalu, ditambah rasa bersalah yang bersaran dalam diri Wira akhirnya membuat pemuda itu menarik diri dari pergaulan. Seakan-akan dengan demikian dia bisa melarikan diri dari semua beban yang dibawanya. Sampai akhirnya sebuah pertemuan kembali menyeretnya kepada titik awal: taekwondo dan eratnya persahabatan. Ini karena hadirnya sosok Kayla dalam kehidupan Wira yang nggak menghakimi atau mengganjar pemuda itu dengan prasangka buruk.

“Itulah yang bikin aku suka sekali sama hewan, khususnya hewan peliharaan.” Kayla ikut mengelus perut Sarang. “Mereka hadir dan menghibur kita, menemani kita tanpa pernah menghakimi.” (halaman 86)

Kayla adalah seorang mahasiswi Jurusan Kedokteran Hewan. Kedekatannya dengan hewan, khususnya kucing (seperti yang diperlihatkan dalam novel ini), secara nggak langsung mewakili karakter Kayla yang secara umum selaras dengan kutipan di atas: nggak pernah menghakimi—baik kepada Wira yang pada akhirnya menceritakan kisah kelamnya kepada gadis itu, atau kepada Attar—senior yang terus mengejar dan mengharapkannya.

Namun, pada akhirnya sebuah masalah selalu bertumpu kepada si subjek, dalam hal ini Wira. Sebab, meski dia bisa bangkit dan perlahan memperlihatkan sosoknya pra-kematian-Faiz. Namun, seiring kedekatannya dengan Kayla, Wira nggak hanya kembali mengenal tawa dan hangatnya persahabatan. Dia juga kembali berhadapan dengan masa lalunya.

Apa Wira berhasil mengatasi trauma dan rasa takutnya?

Apakah benar dia membunuh sahabatnya sendiri di hari pertandingan mereka?

Dan kenapa Wira beranggapan demikian?

Dalam 296 halaman, Orizuka berhasil membuat saya kelimpungan mengatasi segala emosi yang ditimbulkan dalam novel karyanya ini Laughing

Baca juga: Attachments - Ikatan Benang-Benang Halus Tak Kasatmata

 

 

Apa Pun Selain Hujan: The Heavy Dark Cloud and The Bright Colorful Rainbow

Sejujurnya, saya selalu seperti pembaca baru setiap kali Orizuka mengeluarkan novel drama-romance-mellow karena membayangkan kekentalan air mata, kesedihan, dan mellow dalam cerita yang ditulisnya. Bukan karena Orizuka sendiri sebenarnya, tapi bulu saya sebagai seorang book-eater selalu merinding lebih dulu setiap kali berhadapan dengan novel berbau mellow dan drama. If those two elements were treated bad, I wouldn’t even touch it. But if an author able to treat them well and good, I would wolf it down as I did with this novel and this novel.

Namun, begitu saya bagian-bagian akhir Apa Pun Selain Hujan, I was mind blown!

Apa Pun Selain Hujan menghadirkan drama-romance-mellow ala Orizuka dengan taste yang berbeda.

Ya, saya masih menjumpai beberapa poin yang akan selalu mengingatkan saya kepada gaya kepenulisan Orizuka. I'd read all of Orizuka novels, Artebianz—yang kemudian membuat saya pongah mengira saya tahu ke mana dan bagaimana perempuan berbintang Virgo ini akan membawa ceritanya. But nope, beberapa kali dugaan saya dipatahkan oleh perkembangan sosok Wira.

Ngomong-ngomong tentang Wira, pemuda ini dengan suksesnya membuat saya mengernyit beberapa kali karena sikap pasifnya yang menyeret awan gelap ke dalam Apa Pun Selain Hujan.

Ketika Wira membuka mata,angkit ternyata telah melewati jalan rumahnya dan sedang berhenti di depan Stasiun Malang. Di luar masih gerimis. Wira mendesah, lalu menyandarkan punggungnya ke jendela angkot yang keras (halaman 30).

Saya sadar benar bahwa setelah bab pertama, kehidupan Wira akan kelam dan nggak menyenangkan. Namun, saya nggak menyangka Wirawan Gunadi akan menjadi sedemikian mellow. Pada satu sisi, saya paham, ini imbas segala beban prasangka yang dilemparkan orang-orang di sekitar Wira—khususnya teman-teman sekolahnya, we know teenagers can be very mean and heavy bully—tapi karena nggak terlalu dibahas, saya hanya menangkap sosok Wira sebagai pemuda pasif dalam interaksi dan cenderung emo.

Beberapa kali saya harus mengingatkan bagaimana Wira melihat kejadian di masa lalunya dan seperti aa reaksi orang-orang di sekitarnya. Kali ini, alih-alih memberikan gambaran sebagai fondasi cerita, seperti dalam novel Our Story atau The Truth About Forever, Orizuka tampak ingin pembacanya untuk menyelami karakter Wira sambil melatih imajinasi mereka. Untuk kemudian, menikmati sosok Wira yang masih ingat bagaimana tertawa dan bersosialisasi dengan mereka yang sebaya dengannya.

Di sisi lain, Orizuka dengan ciamik menyelipkan sebuah fakta mengejutkan dalam Apa Pun Selain Hujan.

Berkebalikan dengan pikiran Wira yang menyangka keputusannya hijrah ke kota yang asing baginya adalah agar dia bisa melupakan semua orang dan masalah tentang Faiz—menurut saya, keputusan Wira itu adalah wakil dari alam bawah sadarnya agar dia menghadapi masalahnya dan kembali kepada hal-hal yang benar-benar dia cinta.

Walau Malang nggak memiliki julukan Kota Hujan seperti Bogor, tapi dibanding kota lain, Kota Apel ini lebih dingin karena letaknya yang 440-667 meter di atas permukaan air laut.

Malang dan Hujan

You sure that you’re running away, Wira?

The unpredictable thing kedua dari Apa Pun Selain Hujan adalah tokoh utama perempuan yang dihadirkan Orizuka.

As all readerizuka would know, Orizuka gemar sekali membawa sosok tokoh perempuan yang kuat sekaligus quirky seperti Julia dalam seri High School Paradise, Nana dalam The Truth About Forever, Audy dalam seri The Chronicles of Audy, and you can name the others. Namun Kayla berbeda.

Kayla menurut saya sangat unik dengan sifatnya yang agresif, tapi masih memiliki jejak-jejak kefemininan. Meski sudah lama menekuni taekwondo.

“Alhamdulillah ya, aku belum lupa kodrat sebagai wanita.” (halaman 74)

Saya suka bagaimana pertemuan Kayla dan Wira bukan hanya membuat Wira sadar bahwa ada yang dia lupakan dan harus hadapi, tapi juga mengingatkan Kayla bahwa dunianya bukan hanya tentang taekwondo dan cita-citanya sebagai dokter hewan.

Hal lain yang saya suka tentang Kayla adalah logisnya Kayla dalam memandang cinta, yang ini terangkum dalam percakapannya dengan Wira:

“Kayaknya dia [Attar] suka sama kamu.”

“Memang iya,” jawab Kayla ringan, membuat mata Wira melebar. “Dlu, dia pernah

nembak aku, tapi aku nggak terima.”

“Kenapa?” tanya Wira, entah mengapa jadi penasaran. Saat Kayla menautkan alis, Wira buru-buru berdeham. “Maksudku…, dia kan menang PORPROV.”

Kayla mendengus. “Memangnya alasan itu cukup buat nerima cinta cowok?” (halaman 153)

Dengan Wira yang tengah menata diri, Kayla melemparkan sebuah pertanyaan yang tepat. Sebuah pertanyaan yang mungkin bukan hanya akan membuat Wira mempertimbangkan ‘cowok seperti apa yang diterima Kayla (baca: sebagai kekasih)’, tapi juga ‘cowok seperti apa yang bisa diterima oleh masyarakat secara umum’.

To sum my experience on reading Apa Pun Selain Hujan, saya menikmati perjalanan saya dengan Wira dan Kayla. Bagaimana mereka bertemu, dengan perlahan menjalin persahabatan sambil saling melengkapi, untuk kemudian membiarkan masing-masing menyembuhkan diri dan menemukan jawaban.

Apa Pun Selain Hujan really fits my drama-mellow-romance cup of tea Smile

Wanna know how many stars I give to this novel? Artebianz bisa intip di sini.

 

“Tapi, kamu juga punya kuasa untuk memercayai dirimu sendiri, juga orang-orang yang benar-benar sayang dan peduli padamu. Kalau kamu selalu percaya omongan orang lain, kamu tidak akan bisa bahagia.” (halaman 254)

Baca juga: Hujan dan Pelangi

 

 

Good news for you, Artebianz!

I bet this review tickles your senses as a reader, Artebianz? Hehehe….

Blogtour

Fear not, my fellow readers, karena ulasan saya ini bukan hanya bertujuan untuk mengajak kalian jatuh hati dan semakin giat membaca. Bekerja sama dengan Gagas Media, Artebia menyediakan satu eksemplar novel Apa Pun Selain Hujan untuk kamu. Syaratnya mudah dan bisa kamu baca di sini.

 

 

 

Good luck and keep on reading!
Your fellow book curator,
N

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Buku Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Berhenti Belajar! Mari Mulai Berpikir dan Menciptakan


Widyoseno Estitoyo: Pebisnis Muda, Aktivis Sosial, Dan Pekerja Seni


Agility Bukan Singa yang Mengembik


Gone Girl - Ketika Cinta Berakhir, Yang Tersisa Hanyalah Kematian


Sugar - Maroon 5: Kejutan Manis Di Pesta Pernikahan


Depot Gresik


Libreria Eatery - Tempat Pas untuk Memberi Makan Perut dan Otak


Kawah Ijen Banyuwangi (Kawah Ijen Part 2)


Basha Market Chapter 2 - Merayakan Kreatifitas Lokal


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Interaksi di Galaksi


Masa (II)