Suicide Squad - A Sweet Treat... Or A Sweet Threat?

06 Sep 2016    View : 1121    By : Niratisaya


“Oh, I'm not gonna kill you... I'm just gonna hurt you really, really bad.”

Suicide Squad

 

Ah, Suicide Squad….

Sejak trailer pertama film ini diluncurkan di YouTube dengan Bohemian Rhapsody (lagu favorit saya—dan kamu juga mungkin, Artebianz) sebagai soundtrack, saya sudah jatuh hati setengah mati. Alasannya?

Pertama, siapa pun tim di belakang pembuatan trailer Suicide Squad benar-benar cerdas. Setiap pergerakan dan pace adegan selaras dengan beat musik "Bohemian Rhapsody". Kedua, siapa yang nggak penasaran dengan film berisikan sekumpulan penjahat yang berusaha menyelamatkan dunia. Pahlawan selalu dan selamanya akan diandalkan sebagai sosok yang akan menyelamatkan umat manusia. Tetapi penjahat, pembunuh bayaran, seorang psychotic, monster? Siapa yang bisa membayangkan?

Semua hal itulah yang membuat saya benar-benar menantikan Suicide Squad—dan menonton dua kali, karena berbagai alasan yang terlalu kompleks untuk saya sebutkan di sini. So, how complex my feeling was for this movie? Let’s have a small chit-chat about it.


Dan, buat yang belum nonton (serius?! Belum nonton?!!), SPOILER ALERT!

Baca juga: He Who Steal Some Love

 

 

Suicide Squad: The Beginning of Me Being Mesmerized

Kisah Suicide Squad diawali oleh keinginan Amanda Waller (Viola Davis), anggota pemerintah, yang mengumpulkan beberapa data meta human—sebutan untuk mereka yang memiliki kemampuan melebihi manusia normal. Tujuan Waller adalah untuk membuat satu pasukan yang nggak terkalahkan, tanpa merepotkan pemerintah setelah kematian Superman. Waller pun membuat kelompok bernama Task Force X yang terdiri dari penjahat kelas kakap dengan kejahatan yang nggak terampuni. Ada Dead Shot/Floyd (Will Smith), Harley Quinn/Harleen Quinzel (Margot Robbie), El Diablo/Chato Santana (Jay Hernandez), Captain Boomerang/George "Digger" Harkness (Jai Courtney), Killer Croc/Waylon Jones (Adewale Akinnuoye-Agbaje), dan Slipknot/Christopher Weiss (Adam Beach).

amanda waller

Nggak tanggung-tanggung, demi memastikan bahwa ‘pasukannya’ ini nggak membentuk kekuatan mereka sendiri dan melawannya, Waller menanamkan nano chip di leher tiap anggota Task Force X. Tidak hanya itu, wanita ambisius itu juga memerintahkan Rick Flag (Joel Kinnaman) seorang anggota pasukan khusus yang sangat nasionalis dan Katana/Tatsu Yamashiro (Karen Fukuhara) sebagai asisten Flag. Rick sebelumnya adalah pengawal sekaligus pengawas June Moone (Cara Delavingne), seorang arkeolog yang dirasuki oleh roh bernama Enchantress. Namun, Flag akhirnya jatuh hati kepada Moone.

rick moonesource: wittyfeed.com

Dan, di sinilah konflik dalam ceria dimulai.

Sejatinya, Waller juga ingin memasukkan Enchantress untuk masuk ke dalam kelompok Task Force X. Namun, siapa yang sangka, Enchantress justru menjadi pembangkang pertama. Ia bukan hanya mengkhianati Waller, tapi juga berusaha untuk membinasakan seluruh umat manusia gara-gara Waller, lewat bantuan adiknya yang ia bangkitkan. Pada akhirnya, Enchantress justru menjadi musuh pertama yang harus dimusnahkan oleh Waller melalui Task Force X.

Baca juga: Twist and Shout (Part 1)

 

 

Suicide Squad: The Glamorous Mess

Diangkat dari komik, Suicide Squad memang menjanjikan kehebohan yang nggak kalah dengan cerita Dead Pool yang super seru. Sayangnya, ada banyak hal yang membuat Suicide Squad, yang semula begitu menjanjikan, nggak lebih dari sekadar a hot-glamorous mess.

Kenapa?

 

1.  Story (Un)Wise

Secara cerita sebenarnya Suicide Squad sudah sangat menarik. I mean, come on! Siapa yang nggak pengin lihat penjahat beraksi menyelamatkan umat manusia, tanpa kehilangan sifat jahat mereka dan sikap serampangan mereka?

Sejak Dead Pool muncul, saya merasa banyak movie goers yang menunggu tontonan yang sama menarik-aneh-nyeleneh seperti Dead Pool. Antusiasme penonton inilah yang tampaknya dimanfaatkan oleh Warner Bros. Dan mereka berhasil.

Sayangnya, ide dan tema dalam Suicide Squad sudah umum dan banyak diadaptasi oleh film pahlawan lainnya. Artebianz pasti pernah (bahkan mungkin sering menonton film dengan tokoh utama yang pemberontak, keras kepala, sama sekali nggak memiliki sosok pahlawan pada umumnya dalam karakternya—tapi diwajibkan untuk menyelamatkan umat manusia dari tokoh lain yang sama/lebih kekuatannya dari si tokoh). Misalnya Hell Boy, Dead Pool, Watch Men, dan film-film pahlawan lainnya.

And it’s not helping that Suicide Squad had its own squad of stories.

Suicide Squad bukan hanya bercerita tentang upaya penyelamatan umat manusia dari ulah Enchantress yang ingin membalas dendam kepada Waller dan seluruh umat manusia. Tetapi juga ada cerita:

  • Dead Shot dan anaknya—yang dipaparkan cukup baik dalam film;
  • Harley Quinn dan Joker (Jared Letto)—yang nggak begitu dipaparkan dengan baik dalam film menurut saya;
  • Katana, latar belakangnya, dan pedangnya yang bisa memenjarakan jiwa—yang diceritakan sekali lewat;
  • El Diablo dan hantu masa lalunya—yang diceritakan ala kadarnya;
  • Dan dua tokoh lainnya (Killer Croc dan Captain Boomerang) yang diceritakan secukupnya.

Although I have to say, Captain Boomerang was lucky enough to have his main characterization described, yang kemungkinan besar akan menjadi benang merah dengan Suicide Squad 2, kalau Warner Bros berniat membuat sekuelnya.

Enchantress

Jadi, selain cerita tentang penyelamatan umat manusia, Suicide Squad juga bercerita tentang:

  • Upaya Joker mendapatkan kembali Harley Quinn;
  • Flirtatious  romance antara Harley Quinn dengan Dead Shot;
  • Rick Flag yang pengin menyadarkan dan menyembuhkan June Moone dari pengaruh Enchantress;
  • El Diablo yang berusaha berdamai dengan dirinya;
  • Waller yang berusaha membentuk pasukan yang tak terkalahkan—presumably untuk mendapatkan posisi tinggi di pemerintahan.

Semua kerumitan cerita ini mengacu kepada kekacauan kedua Suicide Squad di mata saya.

Baca juga: Ranu Pane Dan Sudut Pandang Yang Tepat

 

2. Too Many Characters

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, terlalu banyak tokoh penjahat yang menakjubkan dalam cerita ini. Tentu ini bukan masalah, seandainya David Ayer sebagai sutradara dan penulis naskah mampu menjalin benang merah dari tiap cerita dan menjalinnya dengan baik. Bukan semata-mata memunculkan sebuah ide utama (Waller, Enchantress, dan penghancuran umat manusia—sepenangkapan saya) dan melempar cerita pendukung demi meramaikan cerita sebelum penonton sampai pada titik klimaks keseruan.

Alih-alih berkonsentrasi kepada cerita tentang Dead Shot sebagai cerita kedua, menurut saya, Ayer semestiya berkonsentrasi kepada cerita Harley Quinn dan Joker. Toh, (gosipnya) Warner Bros akan mengangkat cerita tentang Batman dan membuat spin out Harley Quinn. Kemudian, memperkenalkan setiap anggota Suicide Squad aka Task Force X satu per satu, setelah menceritakan tentang Harley Quinn dan Joker.

Mungkin, karena Will Smith dirasa lebih berpamor sebagai bintang ketimbang Margot Robbie yang bisa dibilang baru, kalau dibandingkan Smith, Ayer pun memilih Dead Shot sebagai cerita kedua. Although Dead Shot’s background story was sweet. However, Suicide Squad is about a bunch of criminals that were forced to be hero and save the world, I think it’s wiser if Ayer (and whoever it was behind this movie) to pick Harley Quinn-Joker story. Apalagi ketika diluncurkan, banyak penonton yang terperangkap pesona Harley Quinn milik Robbie.

Banyaknya tokoh juga pada akhirnya membuat saya bertanya-tanya, apa sebenarnya peran penting para tokoh lainnya ini?

Sekadar sebagai pemancing? Cue to Slipknot, yang berasa hampa ketika adegannya sudah dimainkan.

Sebagai cheerleader yang menceriakan suasana cerita? Seperti Captain Boomerang yang nggak terlalu berperan besar dalam cerita, sampai di adegan terakhir.

Sebagai tumbal? *lirik El Diablo, lalu merasa iba*

Baca juga: H.O.S Tjokroaminoti, Seorang Priyayi Yang Berjiwa Pendidik

 

3. Structure

Yang saya soroti di sini adalah bagaimana Ayer dan tim editing membentuk film Suicide Squad, hingga akhirnya menjadi film yang membuat Rotten Tomatoes menjatuhkan nilai 26%.
Entah memang terpengaruh bayang-bayang Dead Pool, Ayer membuat Suicide Squad bukan hanya menjadi film aksi-kelam seperti kebanyakan cerita komik DC. Dalam Suicide Squad juga penuh dengan bumbu humor, yang menurut saya nggak terlalu lucu.

Misalnya, ketika Dead Shot berusaha membuat El Diablo—yang hanya diam menonton ketika yang lain berusaha melawan pasukan buatan Enchantress—marah dan mengeluarkan jurus apinya yang bisa membuat siapa pun menjadi arang.

Diablo Shot

Guyonan Dead Shot ini mengingatkan saya pada salah satu film yang pernah diperankan oleh Smith (Bad Boy, mungkin?), yang sayangnya missed (untuk saya).

Hal kedua yang saya soroti dari struktur Suicide Squad adalah bagaimana Ayer dan timnya mengedit lalu menyusun film ini.

Saya mendapati beberapa adegan, khususnya Harley Quinn-Joker, seakan diselipkan di antara cerita utama.

Joker Quinn

Saya merasakan hal ini di adegan pengenalan Harley Quinn dan Joker dengan setting kelab malam. Sosok Joker yang mendadak menyodorkan Harley Quinn kepada Monster T (Common), terasa seperti adegan random. Imbasnya, sosok Joker yang sebelumnya saya tangkap sebagai tokoh dengan karakterisasi chaotic, psychotic, sekaligus fearless jadi berasa sekadar gila dan serampangan. Joker seolah ada sebagai sosok ‘pemanis’ Suicide Squad.

Jurus “asal-edit” ini juga saya rasakan ketika mereka menggunakan efek untuk  adegan ketika Joker akan memberi kejutan listrik terhadap Harley Quinn.

Joker

Andai jurus “asal-edit” ini dipakai tim Ayer untuk menyesuaikan rating PG-13, mereka seharusnya melakukan jurus all-out seperti Dead Pool dan mengubah rating Suicide Squad menjadi R.

Namun, dengan batas waktu enam minggu yang dimiliki Ayer untuk menulis naskah, saya bisa memahami betapa kuwalahannya pria yang menyutradai film The Fast and Furious ini.

But I still wish that Suicide Squad would be delivered better, tho....

Baca juga: Menjadi Pahlawan dengan Tidak Menjadi Pahlawan

 

 

Suicide Squad and My Being Flabbergasted

Dua kali saya menonton film ini. Pertama sendirian karena saking penasarannya, kedua dengan seorang teman yang ikutan penasarannya terhadap Suicide Squad gara-gara omelan saya, I still felt conflicted. Pada satu sisi saya merasa kebingungan dan kurang puas. Namun di sisi lain, saya merasa cukup terhibur.

Duduk di meja kerja saya, akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa Suicide Squad masuk ke dalam kategori film yang menghibur. Serupa dengan film romance bikinan dapur Indonesia yang membuat kita nggak perlu berpikir jauh dan rumit. Kecuali Suicide Squad ditambahi bumbu CG dan aksi.

That’s my opinion, until I was reminded again to Dead Pool and other those X-Men movie series.

Oh, Suicide Squad….

Why….

 

 

Rating Suicide Squad Menurut Saya:

Rating

 

 

 

 

Sincerely your fellow movie cruncher,

N

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Film Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Takdir Dan Pertanda-Pertanda


Voici - Duo Multi Talenta Dari Surabaya


Single Ville - Potret Kehidupan Para Lajang


Me Sharing A Copy of My Mind


Kun Anta - Humood Al Khuder: Jadilah Diri Sendiri


Mirota dan Segala yang Berbau Jawa


Burgerman - Burger Home-Made Khas Surabaya yang Selalu Bikin Ketagihan


Terbang Dengan Kursi Mabur Di Sindu Kusuma Edupark


Basha Market Chapter 2 - Merayakan Kreatifitas Lokal


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Oma Lena - Part 3


Sunyi yang Tak Dicari