How Deep Is Your Love - Calvin Harris: Dalamnya Cinta Lewat Deep House Music

20 Dec 2015    View : 2805    By : Nadia Sabila


How Deep Is Your Love adalah salah satu komposisi musik dari DJ (disc jockey) termahal dunia tahun 2015 ini: Calvin Harris. Review musik Artebia dari saya kali ini akan sedikit lebih "ajeb-ajeb" ya, Artebianz! Hehe. Maklum, akhir-akhir ini saya memang sedang menyukai musik-musik bergenre house-electronic semacam ini. Dan, How Deep Is Your Love inilah yang menjadi the most song saya tahun ini sekaligus membuat saya menjadi lebih penasaran dengan musik elektronik alias electronic music alias musik house alias EDM alias musik dugem.

calvin_harris

Wah, banyak sekali ya aliasnya? Dugem pula. Hehehe! Nggak perlu dugem juga sih untuk menyukai jenis musik ini. Untuk yang telinganya sensitif, mungkin akan mendengar suara yang terdengar "canggih" dan "menghipnotis" dalam sebuah komposisi musik elektronik. Dan itulah yang saya rasakan saat mendengar lagu ini. Saya langung menyukainya dan memutarnya berulang-ulang di playlist untuk menemani saya bekerja.

Saya katakan menghipnotis juga karena, saat mendengarkan musik ini tanpa kita sadari tubuh kita bawaannya nggak bisa diam, pengin goyang saja. Ya kadang musik dangdut juga bikin pengin goyang sih, hehe, tapi ada perbedaannya kok.

Oke deh, daripada bingung, setelah mengupas How Deep Is Your Love-nya Calvin Harris ini, kita juga akan kenalan sedikit dengan musik elektronik ya, Artebianz!


Di Balik How Deep Is Your Love Dan Analisis Lirik

How Deep is Your Love ini tak hanya sempurna dalam mixing-nya, tetapi juga mempunyai lirik lagu yang cukup dalam--selain memang karena judulnya yang mempertanyakan kedalaman cinta. Calvin Harris melibatkan Ina Wroldsen, seorang wanita penulis lagu asal Norwegia, yang mungkin memang belum terlalu dikenal sebelum DJ yang juga pacar Taylor Swift ini mengajaknya bergabung untuk menggarap hits ini.

Lirik lagu How Deep Is Your Love ditulis oleh Ina Worldsen bersama dengan trio The Disciples, yang juga menjabat sebagai produser, beberapa bulan sebelum komposisi How Deep is Your Love resmi dirilis (How Deep is Your Love diunggah Calvin Harris ke Youtube pada bulan Juli 2015). Simpel saja, Worldsen mendapatkan ide tentang lagu How Deep is Your Love saat ia berkendara di mobil. The Disciples kemudian mengusulkan agar lagu itu diolah dengan sentuhan musik house.

Calvin Harris kemudian mendengar komposisi versi Ina Wroldsen terlebih dahulu sebelum akhirnya ia menyukainya dan menginginkan lagu itu untuk menjadi miliknya, kata Wroldsen kepada NY Post. Voila! Aransemen musik How Deep is Your Love pun digarap oleh tangan dingin Calvin dan Ina Wroldsen mengisi sebagai vokalis di balik layar (uncredited vocalist).Calvin memperdengarkan How Deep is Your Love pertama kalinya saat musim panas tahun ini di sebuah ajang Electric Daisy Carnival di Las Vegas.

Dan pada bulan Oktober 2015, video klip How Deep is Your Love pun rampung dan diunggah ke Youtube Calvin Harris. Ini dia videonya:


Sekilas info ya Artebianz, dalam video klip itu ada model perempuan cantik yang agaknya menyebabkan "misleading" bagi sebagian orang karena mengira model itulah yang menyanyi, padahal bukan. Model cantik itu adalah model baju renang bernama Gigi Hadid, sedangkan penyanyinya, ya itu tadi, Ina Wroldsen. Ini dia nih, foto Ina Wroldsen:

ina_wroldsen

Oke, kembali ke analisis lirik.

Lagu ini mengisahkan tentang seorang wanita yang ingin dicintai seutuhnya dengan perasaan yang mendalam dan bebas. Ia ingin menjadi "nyawa" bagi orang yang dicintainya, tanpa perlu menutup diri (inhibition) dan tanpa rasa takut, bebas seperti udara yang dihirup untuk bernapas yang merasuk dalam sukma dan sangat dibutuhkan. 

[Verse 1: Ina Wroldsen]
I want you to breathe me
Let me be your air
Let me roam your body freely
No inhibition, no fear

Menurut saya, ada kesan posesif yang tertangkap dalam lirik di awal tersebut. Dan di bait kedua, wanita itu mempertegas pertanyaannya tentang seberapa dalam rasa cinta orang yang diinginkannya. Apakah sedalam lautan ataukah setinggi nirwana, serta kesetiaan (devotion) seperti apa yang bisa diberikan oleh orang itu. Nah, di sini semakin kuat kesan posesif tersebut dan tampak adanya nafsu sang wanita untuk dipuja. Musik pun mulai mengentak memasuki bagian chorus.

Baca Juga: Keep Being You - Isyana Sarasvati

[Chorus]

lirik_hdiyl

How deep is your love?
How deep is your love?
How deep is your love?

Is it like the ocean?
Pull me closer, again
How deep is your love?
How deep is your love?

Di bagian berikutnya, wanita tersebut ingin dibuka matanya dan mendengar pernyataan tentang siapa dirinya bagi orang yang dicintainya. Sekali lagi, wanita ini seperti "ruh" yang ingin merasuki jiwa orang yang dicintainya. Ia ingin mengetahui semua rahasia yang disimpan orang yang dicintainya dengan sebebas-bebasnya tanpa harus menanggung dosa.

[Verse 2]
Open up my eyes and
Tell me who I am
Let me in on all your secrets
No inhibition, no sins

[Kembali ke Chorus]

Di bagian tengah dan akhir, terdengar voice over yang berkombinasi dengan suara vokalis yang berulang-ulang mempertanyakan apakah rasa cinta orang yang dicintai wanita tersebut dapat semakin mendalam atau tidak. Lirik lagu yang mempertanyakan kedalaman cinta berkombinasi dengan komposisi musik berjenis deep house dance yang "menggerakkan alam bawah sadar manusia" ini adalah suatu karya yang cerdas. Tak heran jika secara komersial lagu ini pun sukses digemari di berbagai negara dan nangkring di top chart musik-musik terkemuka termasuk UK Singles Chart.

[Bridge] dan [Outro]
So tell me how deep is your love? Can it go deeper?
So tell me how deep is your love? Can it go deep?
So tell me how deep is your love? Can it go deeper?
So tell me how deep is your love? Can it go deep?
(How deep is your love?)
So tell me how deep is your love? Can it go deeper?
So tell me how deep is your love? Can it go deep?
(How deep is your love?)
So tell me how deep is your love? Can it go deeper?
(Pull me closer, again)

Baca Juga: Anti-Hero Menjadi Pahlawan Dengan Tidak Menjadi Pahlawan


Sekilas Tentang Electronic Dance Music (EDM)

Sebelumnya, saya tidak tahu menahu tentang EDM. Asal dengar, enak di telinga, saya suka, sudah. Tapi, sejak menonton ajang pemilihan DJ di sebuah stasiun TV swasta dan saat melihat antusiasme anak-anak muda dalam menyambut acara berkumpulnya DJ-DJ profesional dunia di Djakarta Warehouse Project (DWP) pada minggu kedua bulan Desember 2015 lalu, saya mulai sedikit "kepo" dengan musik elektronik yang ternyata kerap disebut EDM.

dwp

Musik elektronik sebetulnya memiliki banyak sub genre musik dan musik EDM hanyalah salah satu sub-genrenya, dan EDM sendiri juga punya sub genre lagi. Ciri khas musik elektronik biasanya menggunakan "efek" teknologi dalam mixing-nya, temponya upbeat dimainkan lambat-cepat-lambat-cepat, dan groovy. Parameter tempo EDM biasanya adalah tempo keyboard dengan besaran beat per menit (bpm), paling lambat berkisar antara 60-90 bpm sedangkan yang paling cepat dan rancak biasanya lebih dari 240 bpm.

Musik dugem (dunia gemerlap), ini adalah istilah lain dari musik elektronik. Ya, tak bisa dimungkiri musik jenis ini memang identik dengan musik yang digunakan untuk mengiringi dance dan pesta-pesta khas Western di klub malam. Sejarahnya cukup panjang, dimulai dari party-party di rumah yakni mulai tahun disko, 1970-an.

Musik House Dan "Akar-Akar"nya
Salah satu sub genre EDM yang paling awal adalah musik house pada tahun 1970. Musik house berasal dari AS tepatnya dipopulerkan dari sebuah klab malam The Warehouse di Chicago. Musik house sendiri masih punya akar lagi, di antaranya:
- Acid House
- Electro House
- Dutch House
- Progressive House
- Deep House

Nah, musik yang dibawakan oleh Calvin Harris--tapi yang berjudul Summer ya--bisa dikategorikan ke dalam sub genre progressive house. Sedangkan untuk How Deep is Your Love yang kita bahas di atas, masuk dalam kategori Deep House.

Kalau Artebianz pernah dengar komposisi dari DJ David Guetta--salah satu yang paling populer adalah komposisi Titanium featuring Sia yang jadi soundtrack sponsor pasta gigi--nah, musik jenis itu juga "sedarah" dalam kelompok musik house, khususnya pop house urban dance dengan kecenderungan ballad.

Turunan lain dari EDM ada lagi yang disebut dengan trance. Genre EDM trance berkembang di Jerman pada tahun 1980-an. Jenis musik ini lebih emosional dan lebih "gelap" dibanding dengan house biasa. Nama saja trance, yakni keadaan di bawah sadar, musik jenis ini bisa "mengaduk-aduk" emosi pendengarnya dari senang, sedih, sampai dengan hampa karena alurnya yang naik turun. Contoh musik trance yang populer mungkin adalah Crazy Frog.

Tapi ada satu contoh musik trance yang bagus sekali menurut saya. Di-mix oleh Adam White, White Room; Andy Moor - The White Room Original Mix; David West feat. Andreas Hermansson - Larry Mountains 54 (Original Mix); Yilmaz Altanhan - Eighties (Ozgur Can Remix) dalam Best Trance music:


Dan, masih sangat banyak lagi sub genre dalam musik elektronik. Ada techno, breakbeat, jungle, deepdown, sampai hardcore. Saya rasa akan perlu website khusus musik elektronik jika ingin mengupasnya secara mendalam. Tapi setidaknya, dari sini kita sudah belajar bersama dan menambah secuil pengetahuan tentang musik elektronik. Singkatnya, musik elektronik itu luas sekali, Artebianz.

Baiklah, selamat mendengarkan!

headset

 Baca juga: Sugar - Maroon 5: Kejutan Manis Di Pesta Pernikahan

 


Tag :


Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Review Musik Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Dari Hati Ke Hati: Sepiring Kupang Dan Ketangguhan Dalam Menjalani Kehidupan


Figur: Lia Indra Andriana - Dari Seorang Calon Dokter Gigi Menjadi Salah Satu Penerbit Berpengaruh


Sang Alkemis: Perjalanan Pencarian Diri


Me Sharing A Copy of My Mind


Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan


Goyang Kaki Dan Goyang Lidah Di Lontong Kikil Bu Dahlia


Pandu Pustaka: Perpustakaan Keteladanan Di Pekalongan


Gapura Wringin Lawang, Mojokerto: Gerbang dari Masa Kini ke Masa Lalu


Literasi Februari: GRI Regional Surabaya dan Adham Fusama (Editor)


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Lima)


Murni dan Tahun Baru


Kerinduan yang Patah