Adele's Hello - Apa Kabar Masa Lalu?

20 Mar 2016    View : 1394    By : Niratisaya


Di antara gempuran lagu bertema seksual dan mengobral hubungan pendek dengan lirik cekak, di akhir tahun 2015, muncul “Hello” ciptaan Adele dan Gregory Kurstin. Memang, sekilas nggak ada yang istimewa dari lirik lagu Adele—bahkan nyaris serupa dengan gaya Taylor Swift dalam menciptakan lirik untuk lagunya. Namun, inilah alasan “Hello” bersinar karena liriknya yang mellow dan diksinya yang ala heart to heart. Dan itulah alasan saya memilih "Hello" untuk review musik kali ini.

Shall we start our diving, Artebianz? Smile

 

 

“Hello”: Analisis Secara Lirik

Verse 1

Hello, it's me
I was wondering if after all these years you'd like to meet
To go over everything
They say that time's supposed to heal ya
But I ain't done much healing

Mendengar verse 1 bagian pertama lagu ini saya segera teringat pada percakapan yang dilakukan seseorang dengan voice mail. Ini terlihat dari baris pertama hingga baris keempat. Untuk kasus tokoh “Aku” dalam lagu “Hello”, ini bisa jadi dipicu oleh rasa rindu, kenangan yang diikuti emosi pada masa itu, atau rasa bersalah—kalau menilik lirik “They say that time’s supposed to heal ya/ But I ain’t done much healing.

Sayangnya, orang yang benar-benar ingin diajak bicara tidak menjawab. Atau dia memilih untuk menghindar, sebab di verse 1 bagian kedua Aku berkata “Hello, can you hear me?” setelah sebelumnya dia mengawali percakapan dengan “Hello, it’s me”. Aku seakan ingin menegaskan kehadiran lawan bicaranya, memastikan bahwa komunikasi mereka berjalan dua arah. Seperti dulu.

Hello, can you hear me?
I'm in California dreaming about who we used to be
When we were younger and free
I've forgotten how it felt before the world fell at our feet

Yang sayangnya nggak terjadi, sebab jelas-jelas si lawan bicara nggak membalas. Atau bisa juga disebabkan keduanya sekarang memilih untuk hidup dalam “masa yang berbeda”. Si lawan bicara hidup di masa kini—kemungkinan dengan orang-orang baru, sedangkan Aku masih tinggal di masa lalu—mengenang masa-masa yang sudah mereka lewatkan, memimpikan kebersamaan mereka saat mereka masih muda dan bebas.

Aku menyinggung tentang “California dream” di baris kedua dari verse 1 bagian kedua, sebuah istilah yang mewakili motivasi psikologi seseorang yang ingin mendapatkan ketenaran dan kekayaan dengan cepat di tanah baru. Istilah tanah baru, atau dalam kasus ini California, mengacu pada peristiwa California Gold Rush sekitar tahun 1849. Peristiwa tersebut, pada gilirannya menempatkan California sebagai tempat orang memulai kehidupan yang baru, di mana kerja keras dan keberuntungan mengantarkan seseorang pada kekayaan.

Baca juga: Blinded by Love - Karena Cinta Sungguh Membutakan

 

Namun, untuk kasus Aku, tokoh dalam lagu “Hello”, kekayaan dan "California dream" justru mengantarkannya pada kepiluan. Sebab dia harus kehilangan orang yang disayanginya; bisa jadi seorang mantan kekasih atau sahabat. Di baris “I've forgotten how it felt before the world fell at our feet”, Aku berterus terang bahwa ambisi dan ketenaran membutakannya dari semua hal—termasuk mantan kekasih/sahabatnya.

Dan, pada akhirnya mengantarkan Aku dan mantan kekasih/sahabatnya pada perpisahan yang digambarkan oleh pre-chorus 1:

Pre-chorus 1

There's such a difference between us
And a million miles

Kalau di verse 1 ada 8 baris, di pre-chorus hanya ada dua baris, seolah-olah mempertegas bahwa jarak yang terbentang antara Aku dan mantan kekasih/sahabatnya begitu besar. Namun, kalau kita perhatikan, Artebianz, sebenarnya Aku hanya menyebutkan “difference”—yang artinya hanya ada satu perbedaan (bisa jadi cara pandang atau gaya hidup). Namun, satu perbedaan itu cukup besar. Saking besarnya, sampai-sampai seolah-olah Aku dan mantan kekasih/sahabatnya merasa terpisah jutaan mil.

Berbicara tentang hubungan sosial dan komunikasi, bisa jadi jarak itu terpisah karena satu kejadian yang nggak mengenakkan. Kalau kita melihat Aku menyebut tentang keadaannya yang dibutakan oleh ketenaran dan kekayaan, kemungkinan masalah jarak yang disebutkan di dalam lagu ini berakar dari dua hal itu.

Chorus

Hello from the other side
I must have called a thousand times
To tell you I'm sorry for everything that I've done
But when I call you never seem to be home

Di bagian chorus, Aku sekali lagi mengulai kata “hello”. Namun, bedanya, kali ini dia nggak sekadar menyapa. Aku mempertegas posisi sekaligus keadaannya kali ini: “other side” dan “outside”. Dua keadaan yang mewakili kesendirian dan keterasingan. Di masa-masa ini, Aku kembali teringat pada mantan kekasih/sahabatnya—orang yang menemaninya di saat susah dan bahagia. Yang sayangnya, sudah dia depak dari kehidupannya.

Kini, mantan kekasih/sahabat Aku menolak untuk kembali menjalin hubungan komunikasi. Ini representasikan oleh kutipan “I must have called a thousand times” dan “But when I call you never seem to be home”, mengisyaratkan bahwa si mantan kekasih/sahabat enggan untuk berhubungan sekali lagi dengan Aku.

Namun… saya menemukan detail aneh yang menarik di bagian kedua chorus, Artebianz.

Hello from the outside
At least I can say that I've tried
To tell you I'm sorry for breaking your heart
But it don't matter. It clearly doesn't tear you apart anymore

Beberapa baris dari bagian kedua chorus “Hello” membuat saya memikirkan kembali motivasi Aku menelepon mantan kekasih/sahabatnya; apa dia benar-benar ingin menjalin hubungan dengan mantan kekasih/sahabatnya, atau dia hanya ingin membuktikan betapa besar pengaruh eksistensinya terhadap keberadaan orang lain. Dalam hal ini si mantan kekasih/sahabat.

Kondisi Aku ini berkaitan dengan pernyataannya di verse 1 bagian kedua, di mana ketenaran sudah membutakannya dari hal-hal kecil tapi berarti dalam hidupnya—keberadaan mantan kekasih/sahabatnya. Dan kini, meski dia sudah sadar apa yang sudah hilang dari hidupnya (dan betapa berartinya hal tersebut), tapi residu sensasi ketenaran dan eluan orang-orag banyak masih bersisa. Dan, ketika si mantan kekasih/sahabat itu nggak memedulikan Aku (yang tenar dan terkenal) dan usahanya untuk menjalin hubungan kembali, rasa sakit itu menghantam berkali-kali lipat ke ego Aku.


Sakitnya tuh di sini! (source: kabarblackberry.com)

Yang kemudian mengantarkan kita pada verse 2 yang hanya terdiri dari empat baris.

Baca juga: Girls in the Dark - Hal-Hal yang Terjadi Ketika Sekelompok Gadis Berkumpul dalam Gelap

 

Verse 2

Hello, how are you?
It's so typical of me to talk about myself. I'm sorry
I hope that you're well
Did you ever make it out of that town where nothing ever happened?

Verse 2 menggambarkan penyesalan aku, topik yang sebenarnya ingin dibicarakannya sejak awal. Yang kentara dari bagaimana dia menyapa kali ini: “Hello, how are you?”. Pada poin ini, ego Aku sudah terkikis dan niat awalnya tergambar jelas, bahwa dia kesepian dan ingin mantan kekasih/sahabatnya kembali ke sisinya. Bahwa dia menyesal karena selama ini dan sampai beberapa saat lalu hanya membicarakan tentang dirinya: “It’s so typical of me to talk about myself// I’m sorry”.

Karena itulah, Aku tidak lagi membicarakan tentang keterpurukannya atau bagaimana perasaannya saat ini; Aku mulai menanyakan kabar mantan kekasih/sahabatnya. Yang sayangnya, masih nggak mendapatkan balasan dari mantan kekasih/sahabatnya.

Penyebabnya, ditunjukkan oleh pre-chorus 2:

Pre-chorus 2

And it's no secret that the both of us
Are running out of time

Dari dua baris itu Artebianz, saya menangkap beberapa kemungkinan:

1. Si mantan kekasih/sahabat atau Aku menghadapi masalah ala drama Asia: penyakit mematikan, biasanya kanker, yang membuat waktu Aku atau si mantan kekasih/sahabat nggak banyak lagi.

Namun, kalau membaca dua verse dan pre-chorus sebelumnya, kemungkinan besar yang menderita penyakit mematikan itu adalah Aku. Kini, kesepian dan penyakit itu membuatnya terasing dan hanya memiliki kenangan dengan mantan kekasih/sahabat di kota kelahiran mereka, yang membuatnya makin terpuruk dalam kerinduan.

2. Lawan bicara Aku adalah sang mantan kekasih yang hendak menikah.
Aku, yang semula merasa puas dengan ketenaran serta pujaan dan pujian dari orang sekitarnya, kini merasa kesepian—setelah menyadari bahwa nggak seorang pun memberikan kasih dan cinta setulus sang mantan kekasih, yang ditinggalkannya.

Lalu, Aku mendengar kabar (dari teman lama atau media sosial) bahwa sang mantan kekasih tidak lama lagi akan menikah. Ini memicu kenangan lama Aku dengan sang mantan, kebahagiaan mereka saat bersama, pedih perpisahan yang disebabkan Aku sendiri, dan kini rasa rindu yang menyayat Aku.

Kemungkinan-kemungkinan inilah yang membawa kita pada chorus (yang kemudian diulang) dan bridge yang menandaskan kandasnya hubungan Aku dengan sang mantan, sekaligus menekankan kepedihan hatinya; bahwa keberadaannya nggak lagi berarti dan memiliki pengaruh bagi sang mantan.

 

Chorus

So hello from the other side (other side)
I must have called a thousand times (thousand times)
To tell you I'm sorry for everything that I've done
But when I call you never seem to be home
Hello from the outside (outside)
At least I can say that I've tried (I've tried)
To tell you I'm sorry for breaking your heart
But it don't matter. It clearly doesn't tear you apart anymore

 

Bridge

Ooooohh, anymore
Ooooohh, anymore
Ooooohh, anymore
Anymore

 

Chorus

Hello from the other side (other side)
I must have called a thousand times (thousand times)
To tell you I'm sorry for everything that I've done
But when I call you never seem to be home

Hello from the outside (outside)
At least I can say that I've tried (I've tried)
To tell you I'm sorry for breaking your heart
But it don't matter. It clearly doesn't tear you apart anymore

Baca juga: Gone Girl - Ketika Cinta Berakhir, Yang Tersisa Hanya Kematian

 

 

“Hello”: Analisis Secara Komposisi

Single pertama di album teranyar Adele di tahun 2015 (25) ini diawali oleh suara piano. Musiknya yang sederhana (ditambah suara Adele yang powerful dan soulful) seakan mewakili kesenduan serta kesepian yang dirasakan oleh Aku. Nada yang sama dipertahankan di seluruh verse 1, hanya ditambahkan efek echo, menciptakan suasana kontemplatif Aku yang mengenang kembali memori lamanya dengan sang mantan.

Instrumen lain baru ditambahkan pada bagian chorus, menimbulkan tekanan yang sinkron dengan suara Adele yang meninggi, guna menunjukkan kepedihan Aku yang nggak dipedulikan oleh sang mantan. Uniknya, pada kata “anymore” di bagian akhir chorus, Adele kembali ke nada datar. Pilihan teknik suara Adele dan musik pada lagu “Hello” ini menurut saya merepresentasikan perasaan kalah Aku, yang eksistensinya nggak lagi dipedulikan oleh sang mantan.

Pada verse 2, denting piano kini ditemani oleh dentum halus drum, echo, serta pelan suara cello yang mewakili ke-mellow-an lagu “Hello” yang semakin menjadi. Mengingat alih-alih mengimbangi verse 1 dengan 8 baris lirik lagu, verse 2 hanya memiliki 4 baris lirik lagu—yang menekankan rasa defeated Aku (si selebritas) yang kini nggak mendapat perhatian sama sekali dari orang yang diinginkannya.

Selain instrumen musik, lagu “Hello” diiringi juga oleh suara penyanyi pengiring yang hanya mengulangi kata-kata dan baris. Ini seolah menggarisbawahi perasaan nggak berdaya dan betapa terlukanya Aku sewaktu mendapati kenyataan itu.

Satu hal yang saya suka dari detail komposisi “Hello” adalah bagaimana Adele dan Gregory Kurstin, dua pencipta lagu ini, menciptakan bagian finale. Nggak ada lagi suara penyanyi pengiring, dentum drum menghilang, echo mulai menipis, dan denting piano kembali ke nada awal lagu. Seakan mengingatkan bahwa Aku akan kembali merasakan rasa sakit ini, tiap kali mengingat sang mantan.

Pilihan komposisi yang simpel untuk “Hello” menurut saya sudah pas banget dengan suara Adele yang sudah memiliki karakter. Selain itu, lagu ini cenderung memiliki warna biru ala mood mellow. Sehingga nggak perlu ada tambahan ini-itu untuk merepresentasikan lagu ini. Semuanya tentang feeling dan Adele, tentu saja, mampu melakukannya dengan baik. Kalau nggak, bagaimana bisa dia mendapatkan penghargaan British Single of the Year dan Nickelodeon Kid's Choice untuk lagu ini.

Sayang, album Adele rampung pada akhir Oktober/awal November, sehingga pada Grammy Awards tahun 2016 ini kita nggak akan melihat Adele bertarung dengan musisi dunia lainnya Frown

 

 

“Hello” Secara Keseluruhan

Jujur, sewaktu mendengar “Hello” pertama kali, yang saya tangkap hanya feel lagu ini yang mellow dan betapa kasihannya si Aku. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk me-review lagu ini dan mendengarkannya berulang kali sambil menganalisis. “Hello” yang semula pas banget untuk mood mellow, mendadak jadi lagu kontemplatif bagi saya.

Bagaimana enggak Artebianz, di tiap baris kita diajak Adele untuk menyelami perasaan Aku yang menyesali masa lalu dan nggak bisa lepas dari rasa bersalahnya. “Hello” rasanya pas banget buat Artebianz yang baper dan belum bisa move on dari mantan plus kenangan kalian Tongue Out

Baca juga: Reason - Eva Celia: Sebuah Penemuan Jati Diri

 


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Review Musik Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Perempuan, Terlahir Sebagai Penghuni Neraka


Prisca Primasari - Menulis Adalah Memberi Kado Pada Diri Sendiri


Ilana Tan, Penulis Misterius dan Perkembangan Karyanya


Teacher's Diary (Khid Thueng Withaya) (2014): Penghargaan Guru di Thailand


Menuju Senja - Payung Teduh


Dak-Galbi Korean Resto And Caffe


my Kopi-O! Salah Satu Spot Nongkrong dan Ngobrol Asyik


Peneleh, Daerah Penuh Pesona dan Sejarah: Peneleh Gang VII


Festival Foto Surabaya - Menggugah Kepedulian Melalui Lensa


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Pertama)


Twist and Shout (Part 3-Final)


Termangu Gadis Itu