Lalu Abdul Fatah - Profesi, Delusi, dan Identitas Diri

15 Nov 2016    View : 875    By : Niratisaya


“Saya tidak ingin sukses. Saya hanya ingin berkembang.”

 

Setiap orang selalu punya mimpi besar dan mimpi itulah yang menuntunnya untuk hijrah, dari tempatnya lahir ke tanah-tanah asing. Salah satu dari pemimpi itu adalah Lalu Abdul Fatah, pemuda kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang kini tinggal di Surabaya.

Kepindahan Fatah ini didorong oleh keinginannya untuk melanjutkan pendidikan tingkat perguruan tinggi di tanah Jawa. Pemuda ini termotivasi oleh beberapa gurunya yang inspiratif dan berasal dari Jawa, serta bibinya yang berprofesi sebagai guru SD yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan.

“[Bibi saya] tak henti-hentinya menyemangati saya untuk bisa kuliah di UI. Utamanya ambil jurusan HI,” papar Fatah mengenai bibinya.

Selain itu, fakta bahwa kakak sepupunya berkuliah di Universitas Indonesia (UI) juga memacu Fatah untuk mewujudkan mimpinya. Maka, selepas lulus SMA di tahun 2006 pemuda ini pun mengikuti tes SPMB. Ia mengincar Hubungan Internasional di UI dan Universitas Jember (UNEJ), juga Teknik Metalurgi di UI. Pilihan acak Fatah ini dikarenakan ia berasal dari jurusan IPA, sehingga pada saat SPMB, ia memilih IPC yang mengizinkannya untuk mengambil jurusan-jurusan di luar IPA. Sembari menunggu pengumuman, Fatah juga mengikuti tes masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS).

Sayangnya, strategi Fatah gagal. Ia menganggap tes masuk perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya tidak jauh berbeda dengan ujian kenaikan kelas. Ia tidak mengantisipasi ketatnya persaingan antarcalon mahasiswa. Akibatnya, Fatah lengah dan kurang persiapan.

Fatah menuturkan, “Sedih, tentu saja. Apalagi orang-orang sekitar saya, saya sadari, memiliki harapan yang tinggi pada saya. Ini dikarenakan prestasi akademik saya selalu baik. Prestasi nonakademik pun demikian—utamanya di bidang menulis.”

Detik itu, Fatah pun sadar bahwa ada faktor lain yang memengaruhi berhasil atau tidaknya seseorang menembus tes SPMB.

Namun Fatah tidak menyerah atau putus asa meski menghadapi kegagalan yang nyaris beruntun. Ia bertekad untuk tidak menganggur selama menunggu tes SPMB yang berikutnya. Pemuda ini pun menerima tawaran ketika salah seorang teman yang lulus tes Universitas Brawijaya (UNIBRAW) mengajaknya ke Malang. Bukan sekadar ingin refreshing, menyegarkan pikiran. Akan tetapi, ia teringat kepada brosur sebuah lembaga pendidikan yang sempat mengadakan roadshow di sekolahnya. Lembaga pendidikan itu bernama Wearnes Education Center (WEC), sebuah lembaga pendidikan tingkat D-1. Pemuda kelahiran tanggal 27 Juni itu memutuskan untuk mengambil jurusan Informatika dan Komputer. Fatah pun hijrah dan memulai kehidupannya di tanah Jawa.

Lalu Abdul Fatah

Baca juga: Mengajar, Layaknya Orang yang Ingin Membina Hubungan, Butuh Proses PDKT

 

 

Profesi, Kehidupan Sosial, dan Delusi Massal

Pada titik awal kehidupannya di Malang, Fatah masih memiliki anggapan bahwa ia hanya bisa ke Jakarta, agar bisa masuk jurusan Hubungan Internasional. Namun, takdir mengatakan hal lain.

Di Kota Apel-nya Indonesia inilah, Fatah menemukan bahwa ia sudah hampir sampai di depan gerbang impiannya. Semua berawal dari perkenalannya dengan salah seorang dosen bahasa Inggris WEC dan teman sekelasnya. Keduanya merupakan lulusan UNAIR. Sang dosen adalah lulusan Sastra Inggris, sedangkan si teman lulusan D3 Kesehatan Ternak.

Dari keduanyalah Fatah mendapatkan informasi bahwa UNAIR juga memiliki jurusan HI. Saat itu juga haluan Fatah berubah. Jakarta bukan lagi menjadi tujuan utamanya. “Alasannya, saya masih keder dengan UI, lebih dekat pula dari Lombok,” jelas Fatah dengan nada bercanda.

Mengandalkan informasi yang didapatkannya dari sang dosen dan teman, serta pengalaman di tes SPMB sebelumnya, Fatah memiliki persiapan yang lebih matang. Ia lebih fokus kepada pelajaran IPS dan memantapkan diri masuk ke UNAIR untuk jurusan Hubungan Internasional serta Ilmu Informasi dan Perpustakaan. Selain itu, ia mempersiapkan diri dengan mengikuti bimbingan belajar intensif pada malam hari sepulang kuliah di WEC. Tekad Fatah sudah bulat—ia harus berhasil masuk UNAIR. Ia tidak peduli apakah nantinya ia akan masuk ke jurusan Hubungan Internasional atau Ilmu Informasi Perpustakaan, asalkan pendidikan yang ia geluti mengizinkannya terus berhubungan dengan buku.

Pada tahun 2007, berkat persiapan yang lebih matang, Fatah bukan hanya berhasil lulus dari WEC; ia juga berhasil lulus tes SPMB untuk Hubungan Internasional UNAIR. Pemuda ini pindah ke Surabaya tak lama kemudian.

Lulus dari sekolah D-1 dan menjadi mahasiswa Hubungan Internasional UNAIR tidak menjadi akhir bahagia bagi Fatah, seperti layaknya dalam dongeng atau drama-drama yang biasa terpampang di layar kaca. Sebaliknya, pada titik inilah keteguhan hati Fatah kembali diuji. Ujian itu bukan lagi berupa tes dan hafalan-hafalan, melainkan berupa impian lain yang dipupuknya semenjak SMA.

Adalah impian Fatah untuk bisa berkuliah sambil bekerja. Ia termotivasi oleh imajinasinya bahwa melakukan dua aktivitas itu berbarengan selama ia berstatus mahasiswa adalah sesuatu yang seru. Dan di Surabayalah ia mulai mewujudkan mimpi-mimpinya ini, sekaligus menebar jala ujian bagi dirinya.

Satu per satu lowongan dan segala bidang yang berkaitan dengan kepenulisan dijajal oleh Fatah. Mulai dari lowongan sebagai surveyor Deteksi Jawa Pos, blogging, sampai mengikuti berbagai lomba kepenulisan. Fatah saat itu bak spons yang berusaha menyerap dan mendapatkan apa pun yang ada dalam jangkauannya.

Hasilnya? Pada Semester 7, Fatah berhasil menyelesaikan semua mata kuliahnya. Ia hanya perlu berkonsentrasi merampungkan skripsi pada Semester 8. Namun, di saat yang bersamaan, buku solonya (Travelicious Lombok; Februari 2011), terbit.

“Akhirnya, apa yang saya idam-idamkan sejak SMA terwujud juga. Saya merasakan senang yang meluap-luap,” ujar Fatah saat menceritakan kembali perasaannya saat mendapat kabar mengenai bukunya. “Rasanya luar biasa.”

Baca juga: Mengasah Rasa Lewat Kehidupan dan Gelombang Ujian

 

Rasa bahagia Fatah menyambut akhir masa kuliah dikalahkan oleh euforia atas terbitnya buku solo perdananya. Meski demikian, pemuda yang pecinta alam ini sadar bahwa di balik anugrah itu terselip pula ujian dari Tuhan yang bisa jadi ingin tahu sedalam apa keseriusan Fatah dalam mewujudkan mimpi dan cita-citanya. Mengenai hal ini, dengan jujur, Fatah mengaku bahwa ia terbuai—benar-benar terbuai, kalau saya meminjam kata-katanya.

Meski membutuhkan dua kali ujian, tapi ketika dihadapkan kepada masa-masa terakhir kuliahnya, Fatah tidak lagi menomorsatukan studinya. Sebaliknya, perhatian justru tersita kepada profesi barunya sebagai penulis yang sedang bersinar. Gelar Sarjana Hubungan Internasional semakin terdorong ke belakang saat Fatah mengetahui dirinya memenangi kompetisi jalan-jalan Aku Cinta Indonesia yang diadakan oleh Detikcom.

Fatah mendapatkan kesempatan berkeliling Lampung, Bengkulu, Sumatra, dan Kepulauan Bangka-Belitung selama 17 hari. Di kurun waktu itu,  pemuda yang sudah menerbitkan tujuh buku ini tak perlu membawa buku-buku kuliah. Ia hanya harus memotret dan menulis tentang betapa dirinya mencintai Indonesia. Fatah juga berkesempatan untuk berkenalan dengan peserta-peserta lainnya yang memiliki latar belakang dan kebudayaan yang berbeda.

Pintu-pintu kesempatan yang terbuka itu kemudian dibaca oleh Fatah sebagai sebuah pertanda bahwa inilah kehidupan yang akan dijalaninya kelak. Bak gayung bersambut, begitu ia ‘menetapkan langkahnya’, Fatah memperoleh tawaran lain: menjadi kontributor untuk situs Indonesia Kreatif milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kala itu.

Keuntungan menambahkan pengalaman bekerja untuk Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan kemudahan bahwa ia tak perlu pindah ke luar kota membuat Fatah menerima tawaran tersebut. Dan dimulailah pengalaman Fatah sebagai jurnalis. “Saya meliput event kreatif, menulis berita feature, dan mewarancarai tokoh-tokoh kreatif. Suatu hal yang menyenangkan karena saya bisa belajar banyak hal dari para insan kreatif.”

Antusiasme Fatah untuk bertemu dengan orang-orang kreatif inilah yang kemudian mengantarkannya kepada pekerjaan-pekerjaannya yang lain. Mulai dari sebagai reporter tetap untuk media daring di Jakarta, organisasi nonpemerintah, majalah daring, editor in chief untuk sebuah media daring, hingga menjadi guru menulis di IWEC (Indonesia Writing Edu Center).

 

Fatah dan murid-murid IWECSikap Fatah acapkali berpindah pekerjaan ini tentu menimbulkan kesan tidak serius di mata umum. Bahkan, di tengah sulitnya mencari pekerjaan, ia tampak seolah menolak kemapanan.

Disinggung mengenai hal ini, Fatah menjawab dengan blakblakan, “Saya meragukan bahwa kemapanan itu ada. Itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh sistem. Ketika makna ‘mapan’ diseragamkan, apalagi dengan tolok ukur materi, maka di situlah kita terjebak.”

Fatah menilai dirinya bukan seorang yang anti-kemapanan. Ia hanya memiliki definisi sendiri tentang itu. Enggan terjebak dengan definisi umum mengenai kemapanan yang selalu disangkutpautkan dengan materi, Fatah tergerak untuk terus mencari satu hal yang baru dalam hidupnya.

Satu hal yang mampu membuktikan kepada masyarakat umum bahwa mapan bukan sekadar tentang memiliki pekerjaan dengan jabatan ekslusif dan gaji tinggi. Fatah ingin menunjukkan bahwa kemapanan sejatinya selaras dengan kenyamanan; yakni keleluasaan untuk mengenakan pakaian yang pantas, memiliki makanan untuk mengisi perut, dan rumah tempat ia berlindung.

Ketiga hal tersebut adalah kemapanan yang wajar untuk dipenuhi, sebab kesemuanya adalah kebutuhan primer yang tak pelak diperlukan oleh setiap manusia. Sementara itu, mengenai kemapanan yang ada di benak masyarakat umum, Fatah mengidentikkannya dengan kemampuan untuk mengaktualisasikan diri yang tidak akan berhenti pada satu titik dan melulu bertumpu kepada satu hal.

“Saya tidak ingin sukses. Saya hanya ingin berkembang.”

Kalimat yang dilontarkan oleh Musfar Yasin, seorang penulis skenario, tersebut menginspirasi Fatah untuk terus bergerak dan mencari hal-hal yang mampu membantunya mengaktualisasikan diri. Ia mengaitkannya dengan salah satu ayat dalam kitab suci Al Quran yang berbunyi, “Maka, apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”

Di mata Fatah, ayat tersebut senada dengan ucapan Yasin; menyiratkan agar setiap manusia terus berproses, terus mencari dan bergerak secara dinamis dalam hidup ini hingga sampai pada titik di mana mereka tak mampu lagi mencari. Yakni ketika kematian datang menjemputnya.

Baca juga: Eyang Pandu dan Perpustakaan Keteladanan di Pekalongan

 

 

Kehidupan Adalah tentang Proses Bukan Sekadar Jadi Sukses

Tidak memperhitungkan gaji.

Tidak menghiraukan gengsi.

Apa yang sebenarnya dipedulikan seorang Lalu Abdul Fatah ketika mempertimbangkan sebuah pekerjaan? Dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya, apa alasan Fatah menerima atau menolak—atau berhenti dari sebuah pekerjaan?

Lalu Abdul Fatah dan Seorang Profesor dari AmerikaFatah sedang berdiskusi mengenai sastra di Taman Nasional Baluran

Saat saya mengungkit hal ini, Fatah pun bercerita bahwa ia dulunya begitu penuh semangat. Ia bahkan sempat mencoba melakoni dua pekerjaan sekaligus saat masih mengambil pekerjaan paruh waktu. Rupa-rupanya, kala itu semangatlah yang membuatnya menerima pekerjaan.

Ketika itu tahun 2012, Fatah menerima tawaran pekerjaan paruh waktu lainnya yang serupa. Bedanya, kali ini ia terpaksa pindah ke Jakarta mengikuti tuntutan pekerjaan barunya.

Namun, naga-naganya udara dan cara bekerja di ibukota tidak sesuai dengan gaya hidup Fatah yang tergolong lepas dan bebas. Ia tidak hanya harus beradaptasi dengan ritme dan suasana bekerja, tapi juga mempelajari isu-isu yang menyelimuti Indonesia (mulai dari sejarah, politik, sampai sosial)—semua harus dilakukan Fatah secara mandiri.

“[Semuanya] bertepatan dengan bulan puasa—cukup bikin emosi.” Fatah terkekeh.

Keputusannya untuk berhenti dari pekerjaan dan kembali ke Surabaya semakin bulat saat sang redaktur kenalan Fatah melemparkan sebuah pertanyaan.

Detik itu, jelas bagi Fatah bahwa ruangan serta keadaan yang serba mendesak dan menekan bukanlah suasana bekerja yang dia inginkan. Kesadaran ini semakin mengakar dalam jiwa pemuda itu ketika ia terpilih menjadi salah satu penulis buku rekam jejak perjalanan sebuah Non-Governmental Organization (NGO) tingkat internasional. Berbekal presentasi mengenai konsep buku yang akan ditulisnya, Fatah lolos. Bersama dua orang penulis lainnya, ia mengikuti kesibukan organisasi tersebut selama di Kebumen, Jawa Tengah.

Baca juga: Taman Baluran, Afrika Kecil di Indonesia

 

Kali ini, meski harus hijrah sekali lagi dari Surabaya, Fatah menikmati pekerjaannya. Sebab, ia mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan warga lokal; berjalan menembus jalan setapak, hutan, kadang persawahan untuk mencari narasumber; berbincang-bincang dengan orang-orang desa yang inspiratif; dan menyaksikan sekaligus terlibat langsung dengan para relawan serta pekerja NGO tersebut.

Fatah mengenang, “Banyak ilmu. Mana lagi saya dibayar untuk pekerjaan yang saya cintai, yakni menulis.”

Salah satu hal yang membuat Fatah yakin terhadap langkah yang diambilnya adalah fakta bahwa ia mengenal dirinya—renjana dan hal-hal yang membuatnya bersemangat dalam hidup: membaca, menulis, dan berpetualang.

Fatah tidak ingat pasti kapan ia mengenal kemampuan dirinya. Menurut pemuda yang menggandrungi pelajaran geografi ini, “Semua itu berproses, bertumbuh, dan makin lama mengkristal.”

Dalam kehidupan Fatah, proses itu termasuk merasakan kebanggaan saat menulis kata “otomatis” saat mengarang untuk pelajaran bahasa Indonesia semasa SD, kesedihan, yang kemudian berubah menjadi tekad baja, saat puisinya gagal masuk majalah dinding ketika SMP, rasa iri dan daya saing yang muncul sewaktu melihat temannya menjadi juara lomba mengarang, hingga kegilaan terhadap dunia sastra yang kemudian membuahkan hasil. Guru SMA Fatah jatuh hati kepada salah satu cerpen pemuda itu dan diam-diam mengirimkannya ke sebuah majalah, yang kemudian lolos seleksi dan diterbitkan.

“Bagi saya, pintar akademik itu biasa. Tapi, bisa tembus media, itu luar biasa,” ujar pemuda yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat nongkrong favorit.

Namun, di mata Fatah, semua yang berkenaan dengan renjana dalam hidupnya selalu kembali ke tahun 2011; saat buku solo pertamanya terbit. Kegembiraan luar biasa yang dirasakannya sebagai penulis pemula kala itu selalu memberi semangat sehingga ia sanggup melangkah hingga sekarang, tanpa membohongi dirinya.

Sebagai lulusan jurusan Hubungan Internasional, keluwesan, dan dengan kemampuan yang dimilikinya, tentu tidak sulit bagi Fatah untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak—sebagai salah satu staf kedutaan misalnya. Akan tetapi, pemuda yang hobi membaca ini kembali teringat kepada keinginan mendasarnya saat mendaftar sebagai mahasiswa Hubungan Internasional: ingin berkeliling dunia.

Fatah tidak peduli apakah itu berarti dirinya harus bekerja sebagai staf kedutaan atau penulis perjalanan (travel-writer). Ia hanya ingin berkenalan orang-orang baru dan menjelajahi tempat-tempat asing. Karena itu, ketika akhirnya menemukan ‘tempat berlabuh’ di IWEC sebagai guru menulis, Fatah memantapkan diri dengan profesi yang mengizinkannya menyelami dua hal yang menjadi renjananya: literasi dan eksplorasi tempat.

Meski demikian, Fatah tidak memungkiri bahwa beberapa ilmu yang sempat dipelajarinya di jurusan Hubungan Internasional membantunya.

Lalu Abdul Fatah Mengajar di Kelas

“Secara kognisi, keilmuan di HI tidak begitu banyak menempel di kepala saya. Tapi, saya banyak mendapatkan sisi soft skill-nya, seperti kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan; negosiasi; berpikir cepat; kecakapan intrapersonal dan interpersonal; juga bekerja sama dalam tim. Hal-hal inilah yang saya rasakan banyak membantu saya dalam pekerjaan saya.”

Di sisi lain, Fatah terbilang beruntung karena terlahir di keluarga yang moderat dalam masyarakat Indonesia yang hidup dalam masa transisi—antara bayang-bayang ekspektasi hidup tradisional (menjadi pegawai satu perusahaan kemudian meniti karier di sana hingga mencapai posisi mapan) dan era modern yang memungkinkan siapa pun bekerja sesuai dengan renjana dan impian masing-masing. Misalnya sebagai peneliti kebudayaan atau foodie yang suka fotografi.

Menurut pengakuan Fatah, orangtua dan orang-orang yang dekat dengannya hanya keberatan jika pemuda itu bekerja sembari menuntut ilmu. Mereka ingin Fatah menyelesaikan pendidikannya terlebih dulu baru bekerja. Sementara itu, untuk urusan pekerjaan, baik orangtua maupun mereka yang dekat dengan Fatah mendukung apa pun yang dipilih oleh pemuda itu.

Mereka malah antusias dengan pekerjaan Fatah karena banyak hal seru—di mata mereka, pekerjaan pemuda ceria cukup dinamis. Menulis, mengajar, dan jalan-jalan. Itu dengan segala variannya.

“Kami tumbuh di keluarga yang moderat. Urusan memilih sekolah saja, misalnya, itu diserahkan ke anak. Pekerjaan pun demikian. Jodoh? Itu tidak bisa memilih, ya? Hehehe… Tuhan yang memilihkan.” Fatah melempar kelakar sambil tersenyum.

Di mata saya, setiap orang yang menempuh pendidikan lebih dari wajib belajar pasti memiliki impian lebih dari sekadar pegawai sebuah perusahaan ternama. Seperti mendirikan perusahaan sendiri. Namun, hal ini tampaknya tidak berlaku bagi Fatah.

Lalu Abdul Fatah

Bagi Fatah menciptakan lapangan pekerjaan adalah “sesuatu yang grande”. Ia lebih suka dengan istilah katalisator juga konektor. Fatah merasa kehidupan menuntunnya untuk menjadi seorang katalisator sekaligus konektor.

“[Saya ingin] menjadi katalisator bagi anak-anak muda yang mau belajar dan berproses. Juga penghubung alias konektor para insan yang ingin maju di bidangnya masing-masing. Kalaupun orang-orang yang berproses bersama saya itu kelak bisa berhasil mewujudkan apa yang menjadi passion mereka, itu bonus buat saya. Mungkin dengan itu pula, akan tercipta makin banyak pencipta lapangan kerja. Aamiin….”

Amin! Smile

 

Sebagai penutup wawancara, Fatah membagikan moto hidupnya yang terus memotivasi langkahnya:

“Kalau kau merasa miskin, jalan-jalanlah. Ini tidak terbatas pada jalan-jalan secara fisik, tapi juga batin juga intelektual. Dengan jalan-jalan, radius jelajah makin luas, pengalaman makin kaya, spektrum berpikir meluas, dan Insya Allah hati pun akan lebih lapang. Bukankah itu membahagiakan?”

Baca juga: Traveling - Mimpi, Destinasi, Tujuan, dan Makna

 

 

 

Foto-foto diambil dari akun media sosial Lalu Abdul Fatah (Instagram dan Facebook)



niratisaya
Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi). Seorang penulis, editor, dan penerjemah. Profil Selengkapnya >>

Figur Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus


givaway happiness is you



KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :


Takdir Dan Pertanda-Pertanda


I Love You; I Just Can't Tell You


Hormones The Series Season 1: Realita Remaja Saat Ini (Part 1)


Insya Allah - Bila Allah Sudah Berkehendak


Teluk Biru: Sambil Menyelam Tanam Terumbu


Bubur Turki Kayseri: Bubur Ayam Versi Spicey


Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya


Foodiology TEDxTuguPahlawan, Ketika Makanan Lebih dari Sekadar Penahan Lapar


Oma Lena - Part 1


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Enam)


Dua Windu Lalu, Lewat Hening Malam