Gujo Cafe Surabaya: Cangkrukan Enak Bernuansa Tradisional-Modern

23 Aug 2016    View : 4873    By : Nadia Sabila


Gujo Cafe alias Gulo Jowo Cafe adalah nama sebuah cafe resto di bilangan Joyoboyo-Surabaya yang membuat saya penasaran akhir-akhir ini, mengapa? karena konsep bangunannya yang unik.

Gulo Jowo memadukan tema Jawa-Bali-vintage dengan bangunan yang jadi satu dengan sebuah butik baju-baju batik. Gebyok-gebyok kayu berukir, ditambah saat malam hari, lampion-lampion tradisional mini dan lampu hias yang melilit pohon dinyalakan, membuat daya tarik Gulo Jowo akhirnya sukses membawa saya mengunjunginya.

gujo_cafeGujo Cafe bagian dalam

 

Beralamat di Jl Joyoboyo 34 - 36, Surabaya, lokasi Gujo Cafe ini hanya sekitar 20 meter dari kafe Omahku. Ber-tagline "Cangkrukan (nongkrong) Enak", masih baru, dan konsep bangunan yang unik, pengunjung Gujo Cafe terbilang cukup ramai.

 

 

Tersedot Nuansa Jawa-Bali

gujo_cafeMalam itu, saya dipersilakan masuk dari sisi samping cafe karena gerbang masuk bagian depan sedang dipadati serombongan keluarga muda. Di sisi samping, terdapat dua rombong makanan untuk bagian roti bakar dan jagung bakar.

Melangkah ke barat, teras Gujo Cafe bisa dikatakan tak begitu besar, tetapi ditata sedemikian rupa dengan beberapa kelompok kursi berpayung khas cafe, sebuah gazebo kayu kecil bernuansa joglo di sisi kanan, serta podium kecil (panggung) di bagian depan untuk menampilkan live music serta seperangkat DJ table.

Tampak para pengujung cafe yang duduk di bagian teras berkelompok-kelompok, bercengkerama sambil menyesap pipa shisha.

Sebelum memasuki ruang resto utama yang terletak di seberang gazebo, ada pula sebuah ruang kaca--yang sepertinya dulu berfungsi juga untuk display baju-baju batik butik--tapi sudah disulap menjadi ruang cafe kecil.

Setelah sepintas melongok ke bagian resto utama yang menurut saya terlalu besar untuk saya yang saat itu hanya berdua, saya pun memutuskan untuk mengambil tempat di ruang kaca, yang sofanya tampak nyaman.

Pegawai Gujo Cafe sepertinya belum banyak. Saya hampir bisa memastikan bahwa laki-laki tinggi besar berkaus merah yang dengan ramah menyodorkan menu makanan kepada saya ini adalah salah satu pemilik Gujo Cafe.


Baca juga: Goa Lawah Nan Berselimut Sejarah

 

 

Harga Makanan Gujo Cafe Murah Meriah

Voila! Harga-harga menu makanan di sini ternyata masih murah meriah. Tak ada yang lebih mahal dari Rp25.000, bahkan menu minuman Ice/Hot Tea Original masih seharga es teh manis di warung-warung biasa yakni Rp3.000 saja. Sedangkan harga shisha di sini Rp40.000 per rasa.

shishaShisha di Gujo Cafe

Saya memilih menu Chicken Grill Saos BBQ seharga Rp25.000, French Fries seharga Rp8.000, dan milk shake doger yang dibanderol Rp10.000 saja. Kabar baik! Sampai tanggal 31 Agustus 2016, kopi dan teh digratiskan! Rekan yang menemani saya pun tak ragu memesan kopi panas.

Baca Juga: Dieng Sebentuk Nirwana Di Indonesia

 

 

Empuknya Chicken Grill BBQ Gujo Cafe

Pesanan datang agak lama. Saya maklum saja, pasti karena cafe ini masih baru. Akhirnya menu minuman datang lebih dulu. Rasa milkshake es doger yang saya pesan, menurut saya kurang 'mendoger'. Es Doger yang sesungguhnya adalah es santan, gula, susu, dan tape ketan hitam. Namun milkshake es doger ini kurang terasa tape ketannya.

menu_gujo_cafeChicken Grill BBQ

Yang menarik adalah Chicken Grill BBQ-nya. Ayamnya cukup besar dan disajikan bersama nasi, dan pasta. Saya mendapat bagian dada kiri yang masih ada sayapnya. Daging ayamnya, walaupun ayam bakar, tapi tetap empuk, tak banyak lemak, dan kesat. Bumbu BBQ-nya juga pas di lidah. Pastanya adalah spageti yang juga disirami saus tomat dan BBQ.

Namun entah kenapa, menurut saya kehadiran saos tomat botolan di Chicken Grill BBQ ini kurang 'masuk'. Karena ada lalap mentimun dan tomat, seharusnya sambalnya disajikan terpisah dan ditambahi daun selada. Namun, tak apa, nilai ayamnya sudah menutupi kekurangan dalam saosnya.

 

 

Menilik Ambience Gujo Cafe

Tadi, sembari menunggu pesanan datang, saya berkeliling cafe Gujo. Di resto bagian dalam, ada kasir dan beberapa meja bulat dikelilingi kursi kayu tinggi. Di dinding resto banyak terdapat wayang-wayang kayu dan lukisan jawa. Berjalan ke samping, ada toilet yang bak mandinya berbentuk gentong batu, mirip dengan kamar mandi di joglo Kampung Labasan.

gujo_cafeTeras-Resto bagian dalam-Butik

Ruang resto itu menyambung dengan butik batik yang pintunya berseberangan dengan bagian samping tempat saya masuk tadi. Di sisi kanan dan kiri ada guci-guci antik, sementara di depan pintu terdapat pokok kamboja yang dililiti lampu hias redup, tapi semarak. Singkatnya, jika Artebianz pernah ke spa atau ke resor kecil, desain interior dan eksterior Gujo Cafe ini bernuansa seperti itu.

 

 

Gujo Cafe Ramah Komunitas Dan Pecinta Musik

perform_gujo_cafeSambil makan tadi, beberapa orang pengunjung sukarela menyumbangkan kemampuan mereka bermain gitar akustik dan menyanyi. Ya, Gujo Cafe ini terbuka bagi komunitas musik atau komunitas positif apa pun, event (kapasitas gedung untuk 150 orang), bahkan band indie.

Dalam Gujo Newspaper (yang ternyata jadi satu dengan menu makanan tadi serta bisa dibawa pulang) tertulis bahwa cafe ini menyediakan diskon harga makanan hingga 50% untuk komunitas yang mendaftar sebagai member Gujo.

Bahkan, komunitas band indie pun difasilitasi untuk menjual CD album karyanya atau perform di panggung Gujo. Selain itu, khusus hari Sabtu, Gujo akan menampilkan pertunjukan DJ Malika.

 

Kesimpulan saya, Gujo Cafe bisa menjadi pilihan untuk Artebianz, khususnya yang sedang berada di Surabaya, untuk berkumpul dengan komunitas. Namun, jika ingin rapat yang agak serius di cafe ini, saya sarankan untuk tidak mengambil tempat di teras atau di dekat panggung saat ada pertunjukkan, karena Artebianz akan perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk berbicara dan mendengar.

Selamat Cangkrukan Enak, Rek!

Baca Juga: Kedai Es Krim Zangrandi




Tag :


Nadia Sabila

Nadia Sabila adalah seorang jurnalis yang menggandrungi travelling dan makanan pedas.

Profil Selengkapnya >>

Nongkrong Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Stigma dan Tradisi: Laki-laki, Perempuan... Mana yang Lebih Baik?


Bicara Tentang Orizuka - Menulis Adalah Passion, Bukan Occupation


Petualangan bersama Einstein: Safari


True Friend Never Die (Meung Gu): Arti Sahabat yang Sebenarnya


Adele's Hello - Apa Kabar Masa Lalu?


Dari Surga Belanja Menjadi Surga Makanan, Kedai Tunjungan City


Latarombo Riverside Cafe - Menikmati Vietnam Drip dengan Suasana Asyik


Teluk Hijau Banyuwangi


Festival Foto Surabaya - Menggugah Kepedulian Melalui Lensa


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Empat)


Tiga Puluh Tahunan (Part 2 - End)


Di Denting Garpu Sendok dan Piring