Double Spin Round - Menikmati Putaran Kehidupan

03 Mar 2016    View : 2525    By : Niratisaya


Ditulis oleh  Miyashita Natsu dan Shoji Yukiya
Diterbitkan oleh  Haru
Diterjemahkan oleh  Andry Setiawan 
Disunting oleh  Arumdyah Tyasayu 
Aksara diperiksa oleh  Yuli Yono 
Desain sampul oleh  Chyntia Yanetha
Genre  fiksi, romance, young adult, drama, slice of life, mystery 
Jumlah halaman  261 
Diterbitkan pada  Februari 2016 
Nomor ISBN  978-602-7742-75-8
Harga  IDR59.000,00 
Koleksi  Perpustakaan Artebia

 

Siapa pun pasti punya rahasia.

Madoka dan Yuichi adalah kakak beradik dengan beda umur yang cukup jauh dan sifat yang bertolak belakang. Madoka masih duduk di bangku SD, sedangkan Yuichi sudah SMA. Madoka menyukai Judo, sedangkan Yuichi adalah anggota band.

Keluarga mereka hidup baik-baik saja sampai Madoka menerima sebuah panggilan telepon dari orang yang tak dikenal.

Satu panggilan telepon mengubah keluarga yang tadinya baik-baik saja menjadi keluarga yang menyimpan rahasia satu sama lain.

Apa sebenarnya rahasia keluarga mereka?

 

 

Mengintip Rahasia dalam Double Spin Round

Cerita ini berpusat pada sebuah keluarga yang terdiri dari lima orang dengan Kamakura sebagai setting. Khususnya dua bersaudara Yuichi (sang kakak) dan Madoka (si adik). Nggak ada yang istimewa dalam kehidupan Komiya bersaudara ini. Artebianz bahkan mungkin akan teringat pada beberapa drama Jepang dengan latar sekolah dan kehidupan remaja.

Yuichi berusaha mewujudkan impiannya sebagai musisi bersama tiga orang teman sekolahnya, sedangkan si adik ingin menjadi judoka (atlit judo) terkuat agar bisa menjadi pengganti kakeknya. Ada cinta antara Yuichi dengan seorang gadis misterius, juga ada tebak-tebakan antara Madoka dengan mereka yang ada di sekelilingnya. Kehidupan keduanya makin terasa lengkap tatkala mereka dikelilingi oleh orangtua yang akur dan kakek yang sabar.

Sampai suatu hari, sebuah telepon dari orang tak dikenal mengubah dinamika kehidupan keluarga Komiya. Sesosok orang asing yang entah bagaimana mengenal baik keluarga Komiya.

Sejak hari itu, Yuichi dan Madoka mulai berubah.

Yuichi jadi mawas dan sering mengawasi sekitarnya. Madoka jadi lebih pendiam dan mudah sekali menangis. Apalagi dengan kedua orangtua mereka yang bersikeras menyimpan sebuah rahasia.

“… bagi Ibu, hal itu membuatnya sedikit berpikir. Baginya, hal ini sedikit berat, membuatnya overspec.”

“Memori mesinnya nggak cukup, ya?” (halaman 164)

Apa sebenarnya yang tengah terjadi?

Siapa orang asing itu dan apa hubungannya dengan kedua orangtua Yuichi dan Madoka?

 

 

Berputar-Putar dalam Double Spin Round

Misterius dan menggoda. Dua kesan inilah yang saya dapatkan sewaktu membaca blurbs novel duet Miyashita Natsu dan Shoji Yukiya. Saya yakin, Artebianz juga mendapatkan kesan yang sama sewaktu membaca cuplikan di awal artikel ini. Tapi, berbeda dengan keterangan di sampul belakang, pace yang dibuat oleh duo Miyashita dan Shoji justru lamban dan memberi kesan hangat. Padahal, biasanya novel atau cerita misteri yang saya baca punya pace yang lumayan cepat dan berkesan mencekam—paling nggak dingin. Seperti seri Lockwood.

Tapi, Double Spin Round berbeda. Novel ini punya kesan hangat, ceria, dan bersemangat. Bisa jadi ini ada hubungannya dengan para tokoh dan keluarganya yang digambarkan memiliki karakter hangat.

Beberapa di antara anggota keluarga Komiya itu:

1. Madoka Komiya, si bungsu yang nggak pengin menjadi sekadar penggembira.

Tokoh ini muncul pertama kali dan menebarkan keceriaan ala anak SD bersama teman dekatnya yang membicarakan tentang kebahagiaan dan keberuntungan. Yang mereka pahami berupa garis tangan yang disebut “hyaku-nigiri”, which reminds me to this:

Berbeda dengan temannya (Minami-chan) yang memiliki hyaku nigiri, Madoka nggak memiliki apa pun. Tapi ini nggak mencegahnya untuk mencari sumber kebahagiaannya—yang dia temukan dalam bentuk pusaran rambut (unyeng-unyeng, kalau dalam bahasa Jawa). Dan bukan hanya satu, tapi dua. Dua pusaran rambut Madoka itu konon membawa kebahagiaan. Mitos yang diceritakan sendiri oleh ibu Madoka itu akhirnya membuat Madoka berhenti mengeluhkan rambutnya yang aneh. Juga berhasil menjadi pegangan Madoka.

Bicara soal tokoh dan karakterisasi mereka, selalu ada hal yang disuka dan nggak disuka. Salah satu hal yang saya suka dari Madoka adalah optimismenya, yang ditunjukkan oleh kutipan berikut:

Memang kata bahagia sedikit menarik perhatianku, tapi kalau bisa memilih sebenarnya aku lebih suka punya rambut depan yang lurus. Kurasa tanpa harus bergantung pada kata bahagia atau peruntungan kuat pun tak masalah buatku (halaman 6).

Kutipan di atas menunjukkan bahwa meski masih muda (sepuluh tahun), Madoka lebih matang ketimbang usianya. Bukan hanya dalam berpikir, tapi juga bersikap.

Misalnya saja dalam interaksinya dengan keluarga. Pada satu sisi, Madoka sadar bahwa dia sudah mulai beranjak dewasa—yang membuatnya malu kalau mandi bersama kakaknya atau dipeluk kakaknya. Di sisi lain, Madoka juga ingin menjaga perasaan keluarganya. Seminggu sekali dia memastikan diri untuk menemani kakaknya mandi. Setiap malam pun dia suka menemani ayahnya yang baru pulang bekerja.

Tentang sifat Madoka yang nggak saya suka, weirdly, I have none. Mungkin karena usianya yang belia, saya nggak punya pengharapan apa pun pada sosok Madoka. Ini lain dengan sewaktu saya membaca Café Waiting Love atau Critical Eleven. Ada beberapa aksi dan reaksi dari seorang tokoh yang nggak terlalu saya suka.

Baca juga: Cinderella Teeth - Kisah Cinderella dan Para Peri Gigi Modern

 

2. Yuichi Komiya, si anak SMA yang diam-diam banyak diidolakan.

Selain Madoka yang mengidolakan Yuichi, masih ada seorang penggemar fanatik yang gemar menelepon cowok ini, seorang teman Madoka, dan seorang wanita misterius. Tapi, berkebalikan dengan ketenaran Yuichi dan band-nya yang membuat penuh pub tempatnya konser, Yuichi sama sekali bukan tipe show of.

Alih-alih ditampilkan sebagai pemuda sok pamer, pemberontak, atau flamboyan—seperti kebanyakan tokoh dengan latar belakang musisi, Yuichi justru memiliki karakter tenang dan bisa bilang cukup tajam dalam membaca situasi. Juga bisa dibilang sensitif.

Akhir-akhir ini aku tidak tahan dengan suara tangis Madoka. Padahal dulu tidak begitu. Dulu, kalau ia menangis, aku tinggal mengelus kepalanya sambil bilang kalau ia anak yang manis. Lalu, aku tinggal memeluknya saja. Tapi sekarang, suara tangisnya seperti bercampur dengan sesuatu. Entah apa (halaman 151).

Dari kutipan itu, Artebianz bisa membayangkan kalau Yuichi adalah kakak yang baik dan perhatian. Dia nggak menggoda adiknya, meski Madoka lebih muda sekitar 7-8 tahun dan fakta ini mempermudah Yuichi menggoda adiknya.

Sebaliknya, kalimat itu menunjukkan betapa perhatiannya Yuichi pada Madoka.

Bisa ditebak, kalau sifat dua bersaudara Koyama yang cenderung hangat dan ramah ini adalah hasil didikan orangtua dan kakek mereka. Madoka menggambarkan para orangtua dalam keluarganya dengan “… Ayah yang serius bekerja di sebuah perusahaan di Tokyo dan setiap hari naik kereta jalur Enoden dan jalur Yokosuka; ada Ibu yang imut dan pintar membuat kudapan manis; ada Kakek yang punya dojo sekaligus klinik tulang….” (halaman 11).

Dari penjelasan Madoka itu, Artebianz bisa melihat betapa sederhana dan hangatnya para orang tua dalam keluarga Koyama. Tapi di sisi lain, kesederhanaan dan kehangatan dalam keluarganya membuat Madoka tanpa sadar meragukan kehidupan keluarganya: “Aaaah… padahal akan lebih baik kalau setidaknya ada rahasia meski cuma sedikit.” (halaman 11).

Dan, siapa yang tahu, keluhan kecil itu kemudian malah membuat Madoka pusing.

 

3. Komiya Yumiko, sang ibu yang pandai memasak dan periang.

Penggambaran yang digunakan Miyashita dan Shoji mengenai Komiya Yumiko begitu sederhana; seorang ibu yang ramah, ceria, dan punya hobi memasak. Tapi, nggak tahu kenapa, selalu ada yang off dari tokoh yang digambarkan sempurna. Dan, saya mulai mengendus-endus ada yang aneh dengan Nyonya Komiya—bahkan membayangkannya seperti wanita ini.

Tapi, lembar demi lembar, saya nggak menemukan keanehan yang berlebih dari sosok Komiya Yumiko. Alih-alih, dia tampak seperti wanita sederhana dan malah sama sekali nggak berpura-pura manis atau baik, seperti yang semula saya duga. Ini bisa saya ketahui dari bagaimana Yuichi dan ayahnya membicarakan sang ibu:

“… bagi Ibu, hal itu membuatnya sedikit berpikir. Baginya, hal ini sedikit berat, membuatnya overspec.”

“Memori mesinnya nggak cukup, ya?”

“Iya. Jadi kepanasan dan membeludak.” (halaman 164)

Seandainya Komiya Yumiko adalah wanita dengan rahasia mengerikan atau menyembunyikan sosok asli yang mencurigakan, pasti suami dan anaknya nggak akan punya topik pembicaraan yang hangat sekaligus konyol saat membicarakannya. Walau toh, keduanya sama-sama tahu, ada rahasia yang disimpan oleh sosok ibu dalam keluarga Komiya tersebut.

 

4. Ayah, sang sosok pengayom dalam keluarga Komiya.

Nggak ada keluarga yang bisa utuh tanpa sosok pemimpin yang kuat. Inilah kesan yang saya tangkap dari pria lembut dan murah senyum, yang sampai sekarang selalu saya ingat sebagai Komiya Papa.

Dia selalu muncul setelah keluarganya menyelesaikan makan malam, duduk diam sambil minum bir sambil menonton teve, dan berangkat lebih awal dari anak-anaknya. Namun, kehadiran Komiya Papa nggak pelak selalu bisa dirasakan dalam keluarga Komiya.

Terlihat dari sikap Yuichi yang bisa dengan mudahnya mengurungkan niatnya menikmati ginger ale di kamar, kemudian duduk di sebelah ayahnya (halaman 159). Seandainya Komiya Papa adalah sosok pria yang strict dan tipe orangtua yang membatasi diri dengan anaknya, saya yakin Yuichi nggak akan semudah itu duduk bersebelahan dengan ayahnya dan membicarakan permasalahan yang mengganggu pikirannya.

Sosok Komiya Papa sebagai pemimpin sekaligus sosok ayah dalam keluarga Komiya saya rasakan sewaktu Yuichi mencoba membicarakan hal yang mengganjal dalam hatinya.

“Tentu saja Ayah sudah mendengar semuanya dari Ibu. Apa yang terjadi hari ini, Yuichi yang menyisakan brokoli di kotak bekal, atau Madoka yang kelihatannya sedikit resah. Ayah sudah mendengar semuanya. Ayah sudah berbicara dengan Ibu. Kau juga sudah SMA, jadi setidaknya makanlah brokolinya.”

“Mau bagaimana lagi? Aku memang nggak suka.” (halaman 162)

Dari dialog di atas kita bisa melihat bagaimana Komiya Papa mengisyaratkan bahwa dia mengetahui apa yang mengganggu pikiran putranya—dan istrinya—dengan dua kalimat “Ayah sudah mendengar semuanya. Ayah sudah berbicara dengan Ibu.” Namun, dia nggak langsung terjun ke permasalahan dan malah membicarakan kebiasaan Yuichi yang selalu menyisakan makanannya.

Yang tentu saja memancing jawaban spontan dari Yuichi. Jawaban itu menunjukkan sifat Yuichi yang nggak akan mungkin bisa dia ubah. Setidaknya nggak dalam waktu dekat. Yang kemudian memudahkan Komiya Papa untuk memberi jawaban atas rasa penasaran Yuichi mengenai rahasia yang dimiliki keluarga mereka….

“Karena itu, tunggu saja ya, sampai Ibu siap menceritakannya pada semuanya.” (halaman 162)

Personally, saya menyukai jawaban Komiya Papa yang sede