Patirthan Candi Kidal Yang Tersembunyi

26 Sep 2015    View : 2071    By : Kopi Soda


Wisata tidak selalu melulu mengunjungi tempat-tempat modern seperti mall, bioskop atau tempat modern lainnya, wisata dapat dilakukan dengan cara mengunjungi tempat-tempat peninggalan bersejarah yang bernilai budaya tinggi. Apalagi tempat tersebut berdekatan dengan alam maka fungsi pelajaran sejarah sebagai sarana edukatif, rekreatif, informatif, dan inspiratif akan semakin terasa menyenangkan. Selain itu, kita juga dapat melestarikan budaya dan local wisdom di daerah kita, guna menanamkan cinta pada tanah air, leluhur, bangsa dan juga negara.

Pada kesempatan kali ini kita akan menuju ke sebuah spot bersejarah di Candi Kidal, Artebianz, yang berupa sebuah sumber air alami di pinggir tegalan sawah yang nampak asri dan sejuk.

Mendengar nama Candi Kidal pasti sudah banyak orang yang mengetahuinya, sebab candi ini sangat terkenal dan sering berada pada buku-buku pelajaran anak-anak sekolah. Akan tetapi, kebanyakan pengunjung yang mengunjungi tempat ini jarang ada yang tahu kalau tempat ini memiliki sumber air yang disucikan.

Menurut kepercayaan Hindu, salah satu syarat berdirinya candi harus memiliki sumber air yang disucikan, atau disebut juga "patirthãn". Air yang telah disucikan dari sumber air tersebut kemudian disebut sebagai "tirthã amerthã". Fungsi dari sumber air ini adalah sebagai tempat penyucian diri sebelum ritual ibadah menuju candi.

Karena banyak yang belum mengetahui mengenai seluk-beluk candi ini, mari kita menjelajahi dan mengupas situs sejarah yang tersembunyi ini.

Baca juga: Candi Minak Jinggo - Candi Kecil nan Istimewa di Trowulan

 

Candi Kidal Berdiri Gagah Khas Langgam Jawa Timur Yang Kental
(Candi Kidal Berdiri Gagah Khas Langgam Jawa Timur Yang Kental)

Baik lokasi patirthan maupun Candi Kidal-nya sendiri terletak di Dusun Krajan, Desa Kidalrejo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Nama desanya pun sama dengan nama candinya.


Secara geografis patirthãn dan Candi Kidal berada tepat di lempengan lereng timur Gunung Buring. Kawasan sekitar candi sudah padat oleh pemukiman penduduk. Sedangkan daerahnya sendiri merupakan daerah tegalan yang banyak ditumbuhi tanaman kering. Candi Kidal tenggelam di tengah kawasan perumahan. Karena halaman candinya menjorok ke dalam sekitar 50 m dari jalan raya.

Sebenarnya secara arkeologi wilayah Candi Kidal tidak hanya sebatas tempat yang sekarang, tetapi mencangkup perumahan penduduk yang ada di utara dan selatan candi. Sayang, pembebasan lahan yang dilakukan pihak BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) gagal, sehingga banyak benda yang terkubur di bawah perumahan warga tersebut.

Di sisi lain, amat sangat disayangkan karena di sekitar candi dan jalan setapak menuju patirthãn terdapat kandang ayam dan sapi yang cukup mengganggu, karena aroma kotoran ternak yang dihasilkan cukup menyengat hidung. Akan tetapi, saya rasa hal tersebut tentu tidak mengurangai nilai-nilai sejarah dan budaya yang ada di dalamnya.

Untuk perjalanan menuju Candi Kidal dan patirthãn-nya dapat ditempuh dengan mudah, karena terdapat jalur yang menghubungkan antara wilayah Tumpang dengan wilayah Tajinan yang melalui Desa Kidalrejo. Dari kota Malang dapat ditempuh melalui jalur sebagai berikut:

Blimbing → Pakis → Tumpang → Pulungdowo → Pandanajeng → Kidal.

Atau melalui Madyopuro → Kedungrejo → Kambingan→ Kidal.

Jika melalui Malang sisi selatan dapat ditempuh dari Tlogowaru → Sumbersuko → Randugading → Tajinan → Gunungsari→ Ngintit → Kidal.

Sedikit informasi, Candi Kidal adalah candi pertama yang diketahui berlanggam Jawa Timur dengan ciri khasnya yang kurus dan menjulang ke atas—berbeda dengan candi berlanggam Jawa Tengah yang berbentuk pendek dan tambun. Menurut literatur kuno, Candi Kidal adalah tempat pendharmaan raja kedua kerajaan Tumapel (Singhasari) yaitu Anusapati sekitar tahun 1250 (Bullough, 1995:47).

Candi Kidal sebagai bangunan suci dilengkapi dengan sebuah patirthãn yang terletak tidak jauh dari candi. Patirthãn ini terletak di sebelah timur sekitar 250 m dari candi. (Rosida & Wicaksono, 2014: 42).

Untuk mencapai patirthãn ini kita harus melewati perkampungan di belakang kompleks candi Kidal, letaknya lurus saja sekitar 100 m dari pos penerimaan tamu kemudian keluar melalui pagar biru yang berada di ujung atas tepat sebelah kanan candi, lalu lewati jalan setapak menurun yang berbatu. Hati-hati Artebianz, karena jalan berlumut serta licin.

Setelah melewati jalan setapak lewati jembatan bambu di atas sungai kecil, kemudian lewati jalan setapak di tengah areal persawahan sejauh 100 m di penghujung jalan belok ke kiri dan lurus dikit dan patirthãn terletak tepat di sebelah jalan.

Baca juga: Dieng: Sebentuk Nirwana di Indonesia - Edisi Kompleks Candi Arjuna

 

Suasana Hamparan Hijau Persawahan Di Sekitar Patirthan
(Suasana Hamparan Hijau Persawahan Di Sekitar Patirthan)

Di patirthãn ini air keluar dari batang bambu yang ditanam ke dalam dinding bukit masyarakat sekitar. Di patirthãn ini terdapat tempurung kelapa dan bunga-bunga, pertanda masih banyak masyarakat yng melakukan ritual di tempat ini.

Menurut masyarakat setempat, patirthãn ramai dikunjungi pada Jum'at Legi dan Selasa Kliwon. Peziarah biasanya datang untuk memohon kesembuhan dan keselamatan dengan cara mandi kembang. Para pengunjung biasanya melakukan ritual mandi di patirthan ini, baru kemudian ke candi. Dahulu diperkirakan pernah ada tiga jaladwara di tempat air keluar saat ini, namun sekarang ketiga jaladwara itu telah tiada.

Pengunjung Dapat Membasuh Muka dan Menyegarkan Dahaga Disini (Pengunjung Dapat Membasuh Muka dan Menyegarkan Dahaga Disini)

Tempat pancuran dibatasi batang bambu, memisahkan antara tempat yang sakral dan tempat yang biasa digunakan masyarakat sebagai kegiatan sehari-hari, seperti mandi atau mencuci. Bagian yang sakral biasanya terdapat tempurung kelapa, bunga-bunga, dan dupa yang merupakan bekas sesaji. Bagian profan (tempat untuk kegiatan masyarakat) terdapat sampah, seperti plastik pembungkus, bekas shampo, dan sabun yang amat disayangkan.

Di sekitar patirthãn hanya terdapat semak belukar dan persawahan, sedang tempat yang biasa digunakan sebagai ritual mempunyai lebar 2,7 m dan air mengalir ke saluran air alami (Susanti, dkk, 2013: 32-33).

Masyarakat sekitar memercayai mitos seputar patirthãn Candi Kidal. Konon, patirthãn ini dapat melancarkan pasangan suami-istri (pasutri) yang sulit mendapat keturunan. Dengan mandi dan minum air sumber yang berada di timur candi Kidal ini, seseorang konon segera bisa punya momongan.

Khasiat lain yang dipercaya oleh masyarakat sekitar selain melancarkan dapat momongan, air di patirthãn ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sehingga tidak heran kalau banyak pasangan suami-istri atau masyarakat umum yang datang untuk mandi dan minum di patirthan tersebut. (Radar Malang, 2014: 34).

Baca juga: Dieng: Sebentuk Nirwana di Indonesia - Edisi Setyaki dan Pesona Alam Dieng

 

Suasana Segarnya Sumber Air Di Patirthan Candi Kidal
(Suasana Segarnya Sumber Air Di Patirthan Candi Kidal)

Setelah mengetahui tentang pentingnya patirthãn yang bernilai sejarah ini hendaknya kita menjaga keasriannya dan tidak membuang sampah sembarangan baik di sekitar maupun di dalam air yang dapat mengotori keindahan, kebersihan dan kesakralan patirthãn ini.

Demikianlah sedikit ulasan singkat mengenahi situs patirthãn Candi Kidal yang kurang diketahui orang banyak dan kurang terekspose. Kiranya setelah pembahasan ini dapat diketahuilah tempat ini beserta nilai budaya dan sejarah yang dikandungnya. Sekian ulasan dari kami kurang lebihnya kami mohon maaf.

Selamat bertualang dan salam.

Baca juga: Gapura Wringin Lawang, Mojokerto: Gerbang dari Masa Kini ke Masa Lalu




Kopi Soda

Devan Firmansyah a.k.a Kopi Soda adalah seorang calon ahli sejarah dan guru sejarah, antropologi, dan sosiologi.

Profil Selengkapnya >>

Wisata Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus