Di Denting Garpu Sendok dan Piring

31 Jul 2016    View : 1394    By : Niratisaya


Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar

Mengisi senyap dan sisa gema kata yang kita tukar

 

Di ruangan ini, kita pertama kali bertemu

Kau dan aku beradu pandang

Bercumbu

Lewat kerling dan tatap yang kelewat nyalang

Bagi dua orang asing dengan perasaan usang

 

Di ruangan ini pula,

Kita bertemu untuk kali kedua, ketiga, dan keempat

Di setiap kali itu, kita hanya sempat beradu pandang

di waktu yang sempit dan kesempatan yang rumit

Namun, kita selalu bercumbu

Lewat kerling demi meredam apa yang kita kenal sebagai rindu

ilustrasi 

"Bersikaplah nyaman denganku,"

Katamu di pertemuan kita yang kesekian

"Anggap aku rumahmu. Tempatmu pulang."

 

Kesempatan yang kita miliki kali itu tak lagi sempit

Dan waktu berhenti membuat segalanya rumit

Semuanya hanya tentang kau, aku, dan yang kita anggap sebagai rindu

Yang tak sabar ingin kuredam

 

Kuturuti ucapmu,

membungkukkan punggungku yang semula tegak, meneguk minuman yang sudah kau pilih

Kuturuti ucapmu,

melepas sepatu dan menarik kaki kakuku ke atas bangku

 

Bersila, aku menatapmu

Membuka kunci pintu rumahku yang bernama dirimu di tiap kecup

Membuka kelambu kelabu di tirai jendelaku di tiap tatapku yang kuadu denganmu

Memastikan bahwa rumahku itu akan selalu bersinar

Memastikan kau senantiasa menjadi rumahku

Menjadi milikku

 

Namun,

di antara rindu yang tak lagi kita redam

di antara kecup dan tatapku kepadamu

hanya tersisa dendam

Hanya ada redup rasa yang terlepas dari sadarku

Residu dari apa yang dulu kita anggap sebagai rindu

 

Untuk kesekian kalinya, kita kembali di ruangan ini

Pada sendok dan garpu yang beradu dengan piring

Serta gema kata yang enggan kita tukar

Namun terlalu pengar untuk kita simpan

 

Kita hanya duduk diam

Di denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring

Di rasa yang mengusang

dan diri yang mengasing

  Niratisaya

Surabaya, Juli 2016


Tag :


Niratisaya

Niratisaya a.k.a Kuntari P. Januwarsi (KP Januwarsi) adalah CEO Artebia yang juga seorang penulis, editor, dan penerjemah.

Profil Selengkapnya >>

Puisi Lainnya

Tulis Komentar
comments powered by Disqus





KATEGORI :




ARTIKEL PILIHAN :




Ketika Media Sosial Menghilangkan Esensi Makhluk Sosial


Dimas-Lissa: Pudarkan Kapitalisasi Pendidikan Lewat Sekolah Gratis Ngelmu Pring


Giveaway: Happiness is You Karya Clara Canceriana


Stand By Me Doraemon


Kun Anta - Humood Al Khuder: Jadilah Diri Sendiri


Marugame Udon - Delicacy in Simplicity


Oost Koffie & Thee - Rumah Kopi dan Teh yang Menawarkan Lebih Dari Kenyamanan


House Of Sampoerna: Sebuah Album Kenangan Kota Surabaya


Diskusi Bersama Alvi Syahrin dan Ika Vihara: Wattpad dan Sastra Digital


Sebuah Wajah, Sebuah Rasa (Bagian Ketiga)


Ode Untuk Si Bungsu


Kepada Yang Terkasih